Sinyal Merah di Pasar Kripto: Bitcoin Terperosok di Bawah $67.000, Peter Schiff Peringatkan Dampak Politik Global
InfoNanti — Jagat investasi digital kembali diguncang oleh gelombang volatilitas yang cukup ekstrem. Memasuki awal Juni 2026, optimisme yang sebelumnya menyelimuti pasar kripto seolah menguap begitu saja. Aset kripto paling berharga di dunia, Bitcoin (BTC), terpantau mengalami koreksi tajam yang cukup signifikan pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Penurunan ini tidak hanya sekadar fluktuasi harian biasa, namun telah menembus level psikologis penting yang memicu kekhawatiran luas di kalangan investor ritel maupun institusi.
Bitcoin Terjerembap: Menembus Batas Psikologis $67.000
Berdasarkan pantauan mendalam tim InfoNanti di pasar spot, harga Bitcoin tergelincir bebas hingga berada di bawah angka US$ 67.000. Jika dikonversikan ke mata uang domestik dengan asumsi kurs Rp 17.860 per dolar AS, nilai satu keping Bitcoin kini berada di kisaran Rp 1,19 miliar. Penurunan ini mencatatkan angka yang cukup mengkhawatirkan bagi para pemegang aset, di mana dalam kurun waktu 24 jam saja, nilai BTC telah terpangkas sebesar 6,48%.
Grinex Lumpuh Total: Bursa Kripto Afiliasi Rusia Kebobolan Rp 224 Miliar, Intelijen Asing Dituding Terlibat
Kondisi ini terlihat semakin suram jika kita menilik performa dalam sepekan terakhir. Bitcoin telah kehilangan sekitar 12,09% dari nilainya, sebuah angka yang cukup untuk membuat para pelaku pasar melakukan evaluasi ulang terhadap portofolio mereka. Pada Selasa pagi sekitar pukul 07.04 WIB, data dari CoinMarketCap menunjukkan posisi Bitcoin berada di level US$ 66.657, menegaskan bahwa tekanan jual masih jauh dari kata berakhir. Bagi Anda yang ingin memantau pergerakan harga secara berkala, bisa mencari informasi lebih lanjut melalui analisis pasar bitcoin di situs kami.
Sentimen Negatif: Dari Aksi Jual Institusi hingga Bayang-bayang Mt. Gox
Penurunan tajam ini tidak terjadi di ruang hampa. Ada serangkaian peristiwa fundamental yang saling berkelindan menciptakan tekanan besar pada harga. Salah satu pemicu utamanya adalah aksi jual besar-besaran yang dilakukan oleh entitas strategis yang selama ini dikenal sebagai pemegang besar (whale). Aksi jual perdana setelah sekian lama berdiam diri ini memberikan kejutan instan yang memicu kepanikan di pasar.
Dilema Regulasi: Presiden Polandia Kembali Veto RUU Kripto, Ketidakpastian Industri Digital Kian Berlarut
Selain aksi jual institusi, pasar juga terbebani oleh pergerakan dana yang terkait dengan dompet Mt. Gox. Legenda kelam dunia kripto ini kembali menghantui setelah terdeteksi adanya perpindahan aset senilai US$ 739 juta atau setara dengan Rp 13,20 triliun. Setiap kali dompet yang terkait dengan Mt. Gox menunjukkan aktivitas, pasar cenderung bereaksi negatif karena adanya ekspektasi akan masuknya suplai besar-besaran ke pasar yang bisa menekan harga lebih jauh lagi.
Eksodus Dana dari ETF Bitcoin Spot AS
Salah satu pilar utama yang menyokong kenaikan Bitcoin di masa lalu adalah kehadiran Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot di Amerika Serikat. Namun, kini pilar tersebut tampak goyah. Sejak pertengahan Mei, ETF Bitcoin Spot telah mencatatkan arus keluar dana (outflow) yang sangat masif. Tercatat lebih dari US$ 13,4 miliar atau sekitar Rp 239,37 triliun keluar dari instrumen ini dalam 11 sesi perdagangan berturut-turut.
Ripple Perkuat Dominasi Global: Suntikan Dana Rp 3,5 Triliun dan Ekspansi Strategis di Pasar Asia
Penurunan minat ini bahkan menghantam produk unggulan seperti IBIT dari BlackRock. Pada 1 Juni saja, terjadi penarikan dana sebesar US$ 440 juta. Fenomena ini menunjukkan bahwa investor institusi mulai mengambil langkah defensif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Strategi investasi kripto aman kini menjadi topik yang paling banyak dicari oleh mereka yang ingin menyelamatkan modal di tengah badai ini.
Indeks Ketakutan dan Likuidasi Massal
Dampak dari anjloknya harga ini langsung terasa pada psikologi pasar. Indeks Crypto Fear and Greed terjun bebas ke angka 26 dari skala 100. Angka ini menandakan bahwa pasar sedang berada dalam fase ketakutan (Fear) yang cukup dalam. Ketakutan ini bukan tanpa alasan; data dari CoinGlass mengungkapkan bahwa lebih dari US$ 1,2 miliar atau Rp 21,43 triliun posisi perdagangan kripto telah dilikuidasi hanya dalam waktu satu hari.
Badai Merah Pasar Kripto 7 Juni 2026: Cardano Terjun Bebas 33%, Bitcoin Berjuang di Level Psikologis USD 60 Ribu
Sebagian besar likuidasi ini menimpa para trader yang mengambil posisi ‘Long’ atau bertaruh bahwa harga akan naik. Ketika harga justru berbalik arah dengan sangat cepat, mereka dipaksa menutup posisi mereka, yang pada gilirannya justru mempercepat penurunan harga—sebuah efek bola salju yang sangat merusak bagi stabilitas pasar.
Peringatan Keras Peter Schiff: Risiko Politik dan Cadangan Strategis
Ekonom senior sekaligus kritikus vokal Bitcoin, Peter Schiff, kembali memberikan pandangan skeptisnya. Schiff menilai bahwa tekanan yang terjadi saat ini berpotensi meluas dan tidak hanya terbatas pada sektor kripto semata. Melalui pernyataan terbarunya, ia memperingatkan bahwa penurunan harga ini bisa menyeret ranah politik ke dalam pusaran konflik kepentingan.
Schiff menyoroti adanya tekanan yang mungkin muncul dari para donatur politik dan bisnis keluarga tertentu untuk mendesak pemerintah Amerika Serikat menggunakan cadangan strategis guna menyelamatkan industri kripto. Ia berpendapat bahwa menggunakan dana publik atau cadangan negara untuk melakukan bailout terhadap investor Bitcoin adalah langkah yang sangat berbahaya dan harus ditentang secara politik oleh kedua belah pihak di pemerintahan. Untuk memahami risiko ini lebih dalam, Anda bisa membaca artikel mengenai risiko ekonomi global di portal kami.
Keterlibatan Donald Trump dan Dilema Regulasi
Isu mengenai ‘Bitcoin Politik’ semakin menguat seiring dengan posisi Donald Trump yang secara terang-terangan mendukung adopsi aset digital. Trump telah memposisikan dirinya sebagai kandidat yang sangat ramah terhadap industri kripto, bahkan sempat menyuarakan ide tentang pembentukan cadangan Bitcoin strategis bagi Amerika Serikat. Namun, keterlibatan keluarga Trump dalam berbagai proyek kripto, termasuk World Liberty Financial, memicu kritik tajam dari berbagai pihak.
Senator Elizabeth Warren menjadi salah satu sosok yang paling lantang menyuarakan kekhawatiran ini. Menurutnya, hubungan erat antara pejabat publik atau calon pemimpin negara dengan bisnis kripto dapat menciptakan konflik kepentingan yang nyata. Kebijakan atau regulasi di masa depan bisa saja dibuat bukan untuk kepentingan masyarakat luas, melainkan untuk menguntungkan usaha pribadi atau kelompok tertentu di industri aset digital ini.
Masa Depan Bitcoin di Tengah Ketegangan Geopolitik
Selain faktor internal pasar dan politik AS, situasi geopolitik global juga turut andil dalam menekan harga aset berisiko. Meningkatnya ketegangan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menambah lapisan ketidakpastian. Dalam situasi penuh tekanan seperti ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti emas, meninggalkan aset volatilitas tinggi seperti kripto.
Ke depan, pasar akan terus mengamati perkembangan data ekonomi makro dan sinyal dari bank sentral. Apakah Bitcoin mampu melakukan rebound dan kembali ke jalur bullish, ataukah ini merupakan awal dari musim dingin kripto yang lebih panjang? Keputusan untuk tetap bertahan atau keluar dari pasar sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor.
Disclaimer: Seluruh informasi dalam artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan pemberitaan. Setiap keputusan strategi investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca. InfoNanti menyarankan agar Anda selalu melakukan riset mendalam dan berkonsultasi dengan ahli keuangan sebelum melakukan transaksi jual-beli aset kripto.