Bitcoin Terkapar di Level US$ 70.000: Dampak Eskalasi Konflik AS-Iran dan Sinyal Penjualan dari Raksasa Institusi

Andi Saputra | InfoNanti
02 Jun 2026, 20:52 WIB
Bitcoin Terkapar di Level US$ 70.000: Dampak Eskalasi Konflik AS-Iran dan Sinyal Penjualan dari Raksasa Institusi

InfoNanti — Pasar aset kripto global kembali diguncang oleh gelombang ketidakpastian yang datang dari kancah geopolitik dan aksi korporasi tak terduga. Pada awal Juni 2026, Bitcoin (BTC) yang selama ini menjadi primadona investasi digital harus rela tersungkur mendekati level psikologis US$ 70.000 atau setara dengan Rp 1,24 miliar. Pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan cerminan dari meningkatnya tensi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini berada di titik nadir.

Turbulensi Pasar: Bitcoin dan Altcoin Kompak Memerah

Laporan pasar terbaru menunjukkan bahwa harga investasi kripto terbesar di dunia ini mengalami koreksi tajam sebesar 4,2% dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Hingga Selasa, 2 Juni 2026, Bitcoin tertatih di angka US$ 70.191. Penurunan ini mengirimkan efek domino ke berbagai aset digital lainnya. Ethereum (ETH), sebagai pemimpin pasar altcoin, turut terkikis 1,1% ke level US$ 1.986. Tidak berhenti di situ, aset besar lainnya seperti BNB, XRP, dan Solana juga mencatatkan pelemahan yang cukup signifikan, masing-masing turun antara 2,4% hingga 3,8%.

Baca Juga

Revolusi Digital Olahraga: Komite Olimpiade Brasil dan Cardano Jalin Aliansi Strategis Berbasis Blockchain

Revolusi Digital Olahraga: Komite Olimpiade Brasil dan Cardano Jalin Aliansi Strategis Berbasis Blockchain

Kondisi ini menciptakan suasana “risk-off” di kalangan investor. Fenomena di mana pelaku pasar cenderung menarik modal mereka dari aset berisiko tinggi dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven). Analis dari Zeus Research, Dominick John, menekankan bahwa ketakutan akan instabilitas di Selat Hormuz menjadi katalis utama yang memicu eksodus modal dari aset berbeta tinggi seperti Bitcoin.

Tensi Geopolitik: Bayang-Bayang Konflik Timur Tengah

Penyebab utama dari lesunya harga bitcoin kali ini berakar dari kebuntuan diplomasi di Timur Tengah. Iran secara mengejutkan menangguhkan seluruh proses negosiasi dengan Amerika Serikat. Langkah ini merupakan bentuk protes keras Teheran atas eskalasi militer Israel di Lebanon, yang mereka anggap didukung oleh kebijakan luar negeri AS.

Baca Juga

Wejangan Berharga Changpeng Zhao: Strategi Bertahan di Tengah Badai Kripto dan Realita Investasi

Wejangan Berharga Changpeng Zhao: Strategi Bertahan di Tengah Badai Kripto dan Realita Investasi

Meskipun Presiden AS, Donald Trump, sempat menyatakan melalui platform Truth Social bahwa komunikasi masih berjalan secara intensif, laporan dari lapangan menunjukkan realitas yang berbeda. Ketegangan internal bahkan kabarnya merembet ke hubungan antara Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ketidakharmonisan antara sekutu utama ini menambah lapisan ketidakpastian bagi para spekulan pasar yang sangat sensitif terhadap isu stabilitas global.

Aksi Jual ‘Strategy’: Sinyal Kecil dengan Dampak Psikologis Besar

Di tengah badai geopolitik, pasar kembali dikejutkan oleh pengumuman dari entitas perbendaharaan kripto ternama, Strategy. Perusahaan tersebut mengungkapkan telah melepas 32 BTC dengan nilai sekitar US$ 2,5 juta atau setara Rp 44,6 miliar. Penjualan ini dilakukan pada rentang waktu 26 hingga 31 Mei 2026 dengan harga rata-rata US$ 77.135 per koin.

Baca Juga

Dominasi AI di Sektor Kripto: Modal Ventura Kini Alirkan Dana Besar ke Proyek ‘Agen Otonom’

Dominasi AI di Sektor Kripto: Modal Ventura Kini Alirkan Dana Besar ke Proyek ‘Agen Otonom’

Meski secara volume jumlah 32 BTC tergolong sangat kecil bagi pasar global, secara psikologis langkah ini sangat memukul kepercayaan investor. Mengapa? Karena ini adalah kali pertama Strategy menjual aset Bitcoin mereka sejak Desember 2022. Selama ini, Strategy dikenal sebagai pemegang setia (HODLer) yang sangat vokal. Keputusan mereka untuk menjual aset demi mendanai distribusi saham preferen dianggap sebagai sinyal bahwa bahkan institusi terbesar pun mulai merasakan tekanan likuiditas di tengah tren analisa pasar yang memburuk.

Analisis Pakar: Antara Kepercayaan Ritel dan Level Dukungan

Jeff Mei, COO dari bursa kripto BTSE, berpendapat bahwa aksi jual oleh Strategy memberikan pesan yang mengkhawatirkan. Menurutnya, pasar melihat ini sebagai indikasi bahwa tekanan harga telah mencapai titik yang memaksa perusahaan besar untuk mencairkan sebagian cadangan digital mereka. Senada dengan hal tersebut, Jeff Ko, Kepala Analis di CoinEx, menambahkan bahwa narasi psikologis dari penjualan ini sangat merusak mentalitas investor ritel yang biasanya mengikuti jejak institusi.

Baca Juga

Era Baru Keuangan Digital: Hong Kong Resmi Terbitkan Lisensi Stablecoin Perdana untuk Perbankan Raksasa

Era Baru Keuangan Digital: Hong Kong Resmi Terbitkan Lisensi Stablecoin Perdana untuk Perbankan Raksasa

Kini, perhatian tertuju pada apakah Bitcoin mampu mempertahankan level dukungannya. Peter Chung, Kepala Riset di Presto Research, memperingatkan bahwa para skeptis akan terus mempertanyakan motif di balik penjualan kecil tersebut. Jika tidak ada langkah strategis dari pemain besar untuk memulihkan kepercayaan, level US$ 70.000 mungkin akan tertembus dan membuka pintu bagi koreksi yang lebih dalam lagi.

Masa Depan Pasar Kripto di Tengah Ketidakpastian

Saat ini, para pelaku pasar sedang berada dalam posisi menunggu dan memantau (wait and see). Fokus utama tertuju pada perkembangan konflik di perbatasan Lebanon dan bagaimana sikap diplomatik Iran selanjutnya. Jika eskalasi militer terus berlanjut, besar kemungkinan pasar kripto akan tetap berada dalam tekanan berat. Namun, bagi sebagian investor yang jeli, periode ekonomi global yang tidak menentu seperti ini seringkali dianggap sebagai kesempatan untuk mengumpulkan aset di harga diskon, asalkan manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama.

Penting untuk diingat bahwa setiap keputusan dalam dunia investasi kripto memiliki risiko yang sangat tinggi. Volatilitas yang ekstrem menuntut setiap individu untuk melakukan riset mandiri dan tidak hanya mengandalkan sentimen sesaat. Selalu gunakan modal yang memang dialokasikan untuk investasi berisiko tinggi dan tetap waspada terhadap perkembangan berita global yang bisa berubah dalam hitungan detik.

  • Selalu pantau pergerakan harga di platform terpercaya.
  • Diversifikasi portofolio untuk meminimalisir risiko kerugian total.
  • Pahami bahwa faktor eksternal seperti politik internasional memiliki dampak langsung pada harga aset digital.

Kesimpulannya, lesunya harga Bitcoin saat ini merupakan kombinasi dari rapuhnya kondisi politik dunia dan perubahan strategi dari pemain besar di industri. Level US$ 70.000 menjadi benteng pertahanan terakhir yang akan menentukan arah tren pasar kripto dalam beberapa pekan ke depan. Apakah ini akhir dari fase bullish atau sekadar koreksi sehat untuk melompat lebih tinggi? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *