Gema Pertempuran Selat Sunda di Arlington: Menelusuri Jejak Sejarah yang Menyatukan Indonesia, AS, dan Australia

Siti Rahma | InfoNanti
01 Jun 2026, 12:54 WIB
Gema Pertempuran Selat Sunda di Arlington: Menelusuri Jejak Sejarah yang Menyatukan Indonesia, AS, dan Australia

InfoNanti — Suasana hening yang sakral menyelimuti hamparan rumput hijau di Arlington National Cemetery, Washington DC, Amerika Serikat. Di antara ribuan nisan putih yang berjejer rapi sebagai simbol pengabdian, sebuah upacara emosional berlangsung untuk mengenang peristiwa yang terjadi ribuan mil jauhnya di perairan Nusantara. Para keluarga pelaut, veteran perang, diplomat, hingga masyarakat internasional berkumpul dengan satu tujuan: menghormati keberanian awak kapal penjelajah USS Houston (CA-30) dan HMAS Perth (D29) yang gugur dalam Pertempuran Selat Sunda pada 1 Maret 1942.

Seremoni ini bukan sekadar rutinitas tahunan dalam rangkaian Memorial Day di Amerika Serikat. Lebih dari itu, acara ini merupakan pengingat kuat bahwa dasar laut Indonesia bukan hanya berisi kekayaan alam, melainkan juga menyimpan lembaran sejarah dunia yang menghubungkan bangsa-bangsa melintasi zaman. Narasi tentang pengorbanan di Selat Sunda menjadi jembatan diplomasi yang mempererat hubungan antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia.

Baca Juga

Prancis dan Inggris Desak Nasib Lebanon Masuk dalam Kesepakatan Strategis AS-Iran

Prancis dan Inggris Desak Nasib Lebanon Masuk dalam Kesepakatan Strategis AS-Iran

Diplomasi di Balik Nisan Putih: Selat Sunda sebagai Makam Internasional

Hadir sebagai tamu kehormatan, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, memberikan pidato yang menyentuh sisi kemanusiaan terdalam. Dalam pandangannya, lokasi tenggelamnya kedua kapal tersebut bukanlah sekadar titik koordinat di peta navigasi, melainkan sebuah makam perang internasional yang harus dijaga kesuciannya. Selat Sunda telah menjadi saksi bisu di mana darah dari berbagai bangsa tumpah demi mempertahankan prinsip kebebasan di masa Perang Dunia II.

“Selat Sunda bukan hanya lokasi pertempuran laut bersejarah, tetapi juga makam bersama para prajurit dari berbagai bangsa. Indonesia memiliki komitmen kuat untuk turut menjaga dan menghormati situs tenggelamnya USS Houston dan HMAS Perth sebagai bagian dari warisan sejarah dunia yang tak ternilai,” ujar Dubes Indroyono di hadapan para hadirin yang tertunduk khidmat. Penegasan ini menggarisbawahi peran penting diplomasi maritim Indonesia dalam melestarikan situs-situs bersejarah di bawah air.

Baca Juga

Misi Damai di Islamabad: Pakistan Jadi Jembatan Pertemuan Krusial Delegasi AS dan Iran

Misi Damai di Islamabad: Pakistan Jadi Jembatan Pertemuan Krusial Delegasi AS dan Iran

Upacara diawali dengan doa lintas agama, diikuti dengan pembacaan narasi sejarah Pertempuran Laut Jawa tahun 1942 yang mencekam. Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika siswa sekolah menengah dari Philadelphia membacakan puisi tentang laut dan kerinduan, yang kemudian disusul dengan tiupan sangkakala “Taps”—sebuah melodi perpisahan tradisional militer yang menggetarkan jiwa. Keheningan pun memuncak saat karangan bunga diletakkan di antara nisan-nisan sebagai simbol bahwa jasa para pelaut tersebut tidak akan pernah tergerus waktu.

Malam Berdarah 1942: Kronologi Tenggelamnya Sang ‘Hantu Pantai Jawa’

Untuk memahami mengapa upacara ini begitu penting, kita harus memutar kembali jarum jam ke malam gelap tanggal 28 Februari hingga dini hari 1 Maret 1942. Saat itu, kekuatan Sekutu di Asia Tenggara berada di ambang keruntuhan. USS Houston, yang dijuluki sebagai “The Galloping Ghost of the Java Coast,” bersama kapal Australia HMAS Perth, mencoba menerobos Selat Sunda untuk mencari tempat perlindungan setelah pertempuran melelahkan di Laut Jawa.

Baca Juga

Yunani Tabuh Genderang Perang Lawan Adiksi Digital: Anak di Bawah 15 Tahun Dilarang Bermain Media Sosial

Yunani Tabuh Genderang Perang Lawan Adiksi Digital: Anak di Bawah 15 Tahun Dilarang Bermain Media Sosial

Tanpa mereka sadari, mereka justru terjebak di tengah-tengah armada invasi Jepang yang sangat besar. Di kegelapan malam, kedua kapal ini secara tidak terduga berhadapan langsung dengan armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang sedang melakukan pendaratan pasukan di Teluk Banten. Pertempuran yang tidak seimbang pun pecah. USS Houston dan HMAS Perth dikepung oleh tiga kapal penjelajah berat dan kapal perusak Fubuki yang legendaris.

Data sejarah mencatat bahwa armada Jepang melepaskan total 87 torpedo ke arah kedua kapal Sekutu tersebut. Hujan tembakan meriam dan senapan mesin menerangi langit malam Selat Sunda. Meskipun memberikan perlawanan yang gigih hingga amunisi terakhir, USS Houston dan HMAS Perth akhirnya harus menyerah pada takdir. Sebanyak 693 awak USS Houston gugur dalam aksi tersebut, banyak di antaranya ikut tenggelam ke dasar laut bersama kapal mereka. Di sisi lain, serangan balasan Sekutu juga sempat menenggelamkan satu kapal penyapu ranjau dan satu kapal angkut pasukan milik Jepang.

Baca Juga

Sarmat: Monster Balistik Rusia yang Mengguncang Keseimbangan Kekuatan Global

Sarmat: Monster Balistik Rusia yang Mengguncang Keseimbangan Kekuatan Global

Selat Sunda: Jembatan Memori Antar Samudra

Bagi publik Amerika Serikat, upacara di Arlington ini menjadi tali penyambung antara tradisi Memorial Day dengan sebuah titik geografis yang jauh di Asia Tenggara. Pertempuran Selat Sunda adalah salah satu babak paling heroik sekaligus tragis bagi Angkatan Laut AS di awal Perang Pasifik. Sementara bagi Indonesia, kehadiran dalam seremoni ini menjadi pengingat bahwa identitas nasional kita sebagai bangsa maritim tidak hanya dibangun dari kejayaan kerajaan masa lalu, tetapi juga dari peran strategis wilayah kita dalam kancah konflik global.

Situs bangkai kapal USS Houston dan HMAS Perth kini statusnya dilindungi sebagai Cagar Budaya Bawah Air. Kerja sama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Indonesia dengan Naval History and Heritage Command (NHHC) Amerika Serikat terus dilakukan untuk memastikan bahwa bangkai kapal ini tidak dijarah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Penghormatan terhadap kerangka kapal ini setara dengan penghormatan terhadap sebuah pemakaman resmi di darat.

Upacara peringatan yang berlangsung pada 18 Mei 2026 ini menunjukkan bahwa ingatan kolektif manusia mampu melintasi batas-batas samudra. Dari riak air di Selat Sunda, menuju memori warga di Kota Houston, hingga berakhir di deretan nisan putih Arlington, ada sebuah pesan universal yang disampaikan: bahwa perdamaian yang kita nikmati hari ini dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh mereka yang kini beristirahat dalam keheningan dasar laut.

Melawan Lupa: Pentingnya Melindungi Warisan Sejarah Maritim

Pelajaran berharga dari peringatan ini adalah pentingnya literasi sejarah bagi generasi muda. Di tengah modernisasi, situs-situs seperti Selat Sunda seringkali terlupakan atau hanya dianggap sebagai jalur pelayaran komersial semata. Padahal, setiap jengkal perairan tersebut menyimpan cerita tentang keberanian, persahabatan antarnegara, dan tragedi kemanusiaan yang mendalam.

Pemerintah Indonesia, melalui berbagai kementerian terkait, terus berupaya mengintegrasikan nilai-nilai sejarah ini ke dalam konsep ekonomi biru dan pariwisata berbasis warisan budaya. Dengan menjaga situs USS Houston dan HMAS Perth, Indonesia tidak hanya menghormati para pahlawan bangsa lain, tetapi juga menunjukkan martabatnya sebagai bangsa yang besar—bangsa yang tahu cara menghargai sejarah yang tertanam di tanah dan airnya.

Sebagai penutup, upacara di Arlington National Cemetery tahun ini kembali menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia memiliki akar yang sangat dalam. Sejarah yang bermula dari dentuman meriam di malam gelap Selat Sunda delapan dekade silam, kini telah bertransformasi menjadi jembatan persahabatan yang kokoh, mengingatkan kita semua bahwa kehormatan dan pengorbanan akan selalu mendapatkan tempatnya yang layak dalam memori dunia.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *