Badai Tekanan Jual Bitcoin Mulai Mereda: Mungkinkah ‘Supply Shock’ Segera Menjemput?
InfoNanti — Dinamika pasar kripto global kembali menunjukkan pergerakan yang memicu optimisme di kalangan pelaku pasar. Setelah melewati periode volatilitas yang cukup menguras energi, laporan terbaru mengindikasikan bahwa badai tekanan jual terhadap Bitcoin (BTC) mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Fenomena ini bukan sekadar spekulasi tanpa dasar, melainkan tercermin dari berbagai data on-chain yang menunjukkan bahwa pasokan Bitcoin yang tersedia untuk dijual di pasar terbuka semakin menipis secara signifikan.
Tim analisis internal kami di InfoNanti mencermati laporan komprehensif dari Binance Research yang dirilis pada pertengahan Mei 2026. Laporan tersebut menyoroti adanya pergeseran struktural dalam kepemilikan aset digital terbesar di dunia ini. Setidaknya terdapat empat indikator fundamental yang memberikan sinyal kuat bahwa likuiditas jual sedang berada di titik nadir, yang pada gilirannya dapat membuka jalan bagi pemulihan harga yang lebih stabil di masa depan.
Uni Eropa Perketat Jeratan Finansial: Sanksi Paket Ke-20 Resmi Targetkan Ekosistem Kripto dan CBDC Rusia
Dominasi Investor Jangka Panjang: Sang Pemilik Tangan Dingin
Salah satu fondasi utama yang menopang stabilitas harga saat ini adalah meningkatnya dominasi para pemegang jangka panjang atau yang akrab disebut sebagai long-term holders. Berdasarkan data yang dihimpun dari Glassnode, terungkap fakta menarik bahwa hampir 60 persen dari total pasokan Bitcoin yang beredar sama sekali tidak berpindah tangan selama lebih dari satu tahun. Hal ini mencerminkan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi dari para investor terhadap nilai fundamental investasi kripto dalam jangka panjang.
Kondisi ini menciptakan semacam “temeng” bagi pasar. Ketika mayoritas pemilik Bitcoin memilih untuk menyimpan aset mereka di dalam dompet dingin (cold storage) daripada melepasnya di bursa, maka tekanan jual secara otomatis akan berkurang. Tren ini menandakan bahwa narasi Bitcoin sebagai emas digital atau aset penyimpan nilai (store of value) semakin diterima secara luas oleh masyarakat global.
Seni Bertahan di Musim Dingin Kripto: Strategi Cerdas Menghadapi Bear Market agar Tetap Cuan
Cadangan Bursa di Level Terendah dalam Enam Tahun
Selain loyalitas investor jangka panjang, indikator lain yang tak kalah krusial adalah jumlah Bitcoin yang tersimpan di berbagai bursa kripto (exchanges). InfoNanti mencatat bahwa cadangan BTC di bursa saat ini telah menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir. Fenomena ini sering kali diinterpretasikan oleh analis sebagai sinyal bullish yang sangat kuat.
Mengapa demikian? Karena ketika cadangan di bursa menipis, artinya jumlah barang yang siap dijual secara instan menjadi sangat terbatas. Jika tiba-tiba terjadi lonjakan permintaan dari institusi atau ritel, pasar akan mengalami kondisi yang disebut sebagai supply shock. Dalam hukum ekonomi dasar, ketika permintaan meningkat sementara pasokan sangat terbatas, harga cenderung akan terkerek naik secara eksponensial. Penurunan cadangan ini terlihat jelas di platform besar seperti Binance, yang mencatatkan level terendah sejak awal tahun 2026.
Kado Perayaan 250 Tahun Amerika: Menanti Pengesahan RUU Kripto Bersejarah di Tanggal 4 Juli
Lonjakan ‘Conviction Buyers’ dan Potensi Kelangkaan Pasokan
Istilah conviction buyers merujuk pada kelompok investor yang memiliki keyakinan mendalam dan tetap melakukan akumulasi terlepas dari fluktuasi harga harian. Laporan pasar terbaru menunjukkan bahwa kepemilikan oleh kelompok ini telah melonjak hingga mendekati angka 4 juta BTC. Angka ini mencerminkan kenaikan fantastis sekitar 300 persen sejak penutupan tahun 2025.
Akumulasi yang agresif ini menyebabkan pasokan likuid di pasar semakin terjepit. Para analis di InfoNanti berpendapat bahwa pergerakan Bitcoin dari tangan trader spekulatif ke tangan investor strategis merupakan evolusi pasar yang sehat. Dengan semakin banyaknya aset yang berpindah ke tangan mereka yang memiliki aktivitas transaksi rendah, volatilitas liar yang dipicu oleh kepanikan pasar dapat lebih diredam.
Geliat Pasar Kripto 2026: Bitcoin Kokoh di Level $76.000, Raksasa Finansial Charles Schwab Mulai ‘Terjun Bebas’ ke Aset Digital
Menganalisis Rasio SLRV: Spekulasi yang Mulai Mendingin
Untuk memahami psikologi pasar lebih dalam, kita perlu menengok rasio Short-term Long-term Realized Value (SLRV). Indikator ini membandingkan proporsi kepemilikan antara pemain jangka pendek dan jangka panjang. Saat ini, rasio SLRV berada di posisi yang mendekati level terendah dalam sejarahnya. Ini adalah indikasi kuat bahwa aktivitas trading harian yang bersifat spekulatif sedang berada di titik jenuh.
Pasar saat ini lebih banyak diisi oleh mereka yang berinvestasi dengan visi bertahun-tahun ke depan, bukan mereka yang mencari keuntungan cepat dalam hitungan jam. Minimnya spekulasi ini sebenarnya merupakan kabar baik, karena pasar menjadi tidak mudah digoyang oleh berita-berita miring yang bersifat sementara atau FUD (Fear, Uncertainty, and Doubt).
Profitabilitas Investor dan Indikator MVRV
Data menarik lainnya datang dari indikator Short-Term Holder Market Value to Realized Value (MVRV). Setelah sempat mendekam di bawah level 1,0 sejak November tahun lalu, indikator ini perlahan merangkak naik. Angka di atas 1,0 menunjukkan bahwa rata-rata investor jangka pendek kini mulai memasuki zona keuntungan yang belum direalisasikan (unrealized profit).
Meskipun ini adalah sinyal positif yang menunjukkan pemulihan harga, InfoNanti mengingatkan bahwa kondisi ini juga membawa risiko tersendiri. Investor yang sudah dalam posisi profit mungkin akan tergiur untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking) jika kondisi makroekonomi global tiba-tiba memburuk. Oleh karena itu, memantau pergerakan analisis teknikal tetap menjadi kewajiban bagi setiap pelaku pasar.
Tantangan Global dan Kebijakan The Fed
Kendati data on-chain memberikan angin segar, kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan eksternal yang masih membayangi. Bitcoin sempat tertekan di bawah level USD 77.000 dalam sesi perdagangan Asia baru-baru ini. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia serta melonjaknya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, yang biasanya membuat aset berisiko seperti kripto menjadi kurang menarik di mata investor tradisional.
Selain itu, arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed tetap menjadi faktor penentu utama. Pasar memprediksi bahwa The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi setidaknya hingga bulan Juli tahun ini. Suku bunga yang tinggi cenderung memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan pada aset digital. Namun, dengan fundamental Bitcoin yang semakin kokoh akibat kelangkaan pasokan, banyak yang percaya bahwa Bitcoin mampu bertahan di tengah badai makroekonomi tersebut.
Kesimpulan dan Pandangan ke Depan
Secara keseluruhan, ekosistem Bitcoin saat ini sedang berada dalam fase transisi yang menarik. Berkurangnya tekanan jual, menipisnya cadangan bursa, dan dominasi pemegang jangka panjang menciptakan landasan yang kuat bagi potensi reli harga di masa depan. Meskipun faktor global seperti kebijakan suku bunga tetap harus diwaspadai, data on-chain memberikan gambaran yang lebih optimis dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Sebagai catatan penutup, kami di InfoNanti selalu menekankan bahwa pasar kripto memiliki risiko yang tinggi. Setiap keputusan untuk membeli atau menjual harus didasarkan pada riset mandiri yang mendalam dan manajemen risiko yang ketat. Dinamika pasar keuangan bisa berubah dalam sekejap, sehingga kewaspadaan adalah kunci utama dalam menjaga portofolio Anda tetap aman.