Melampaui Target: Strategi Jitu Pertamina Hulu Indonesia Pacu Produksi Migas Nasional di Kuartal I 2026

Rizky Pratama | InfoNanti
14 Mei 2026, 12:54 WIB
Melampaui Target: Strategi Jitu Pertamina Hulu Indonesia Pacu Produksi Migas Nasional di Kuartal I 2026

InfoNanti — Sektor energi tanah air kembali menunjukkan taringnya di awal tahun 2026. PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), sebagai salah satu pilar utama dalam ekosistem energi nasional, berhasil mencatatkan rapor hijau yang impresif sepanjang Triwulan I 2026. Tidak sekadar memenuhi kewajiban, anak usaha subholding upstream Pertamina ini justru berhasil melampaui target produksi minyak dan gas bumi (migas) yang telah ditetapkan sebelumnya, memperkuat posisi strategisnya dalam menjaga kedaulatan energi Indonesia.

Hingga penutupan bulan Maret 2026, catatan statistik menunjukkan bahwa operasional PHI di wilayah regional Kalimantan telah menyentuh angka produksi minyak sebesar 60,44 ribu barel per hari (mbopd). Sementara itu, untuk komoditas gas bumi, angka yang dihasilkan mencapai 619 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Capaian ini merupakan prestasi yang patut diapresiasi, mengingat tantangan teknis di lapangan yang semakin kompleks.

Baca Juga

Liburan ke Korea Selatan Makin Praktis, Nasabah BCA Kini Bisa Bayar Pakai QRIS: Begini Caranya!

Liburan ke Korea Selatan Makin Praktis, Nasabah BCA Kini Bisa Bayar Pakai QRIS: Begini Caranya!

Dominasi di Kalimantan: Melampaui Ekspektasi Produksi

Jika dikonversikan ke dalam persentase, perolehan angka produksi migas tersebut setara dengan 120 persen dari target minyak tahunan dan 105 persen dari target gas yang dicanangkan. Keberhasilan ini bukanlah hasil dari faktor keberuntungan semata, melainkan buah dari perencanaan yang matang dan eksekusi lapangan yang presisi.

Kalimantan, sebagai basis operasi utama PHI, terus membuktikan dirinya sebagai lumbung energi yang krusial. Melalui pengelolaan yang berkelanjutan, PHI mampu mengoptimalkan potensi cadangan yang ada meskipun banyak lapangan di wilayah tersebut sudah masuk dalam kategori mature atau lapangan tua yang secara alami mengalami penurunan laju produksi.

Keselamatan Kerja: Fondasi Utama di Balik Angka Produksi

Di balik gemilangnya angka produksi, aspek keselamatan kerja tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar oleh manajemen PHI. Sepanjang kuartal pertama tahun ini, perusahaan berhasil mempertahankan rekor zero fatality dan nihil Lost Time Incident (LTI). Pencapaian ini didukung oleh akumulasi 57,36 juta jam kerja selamat yang mencerminkan budaya kerja profesional tingkat tinggi.

Baca Juga

Update Harga Emas Perhiasan 19 April 2026: Pantau Estimasi Buyback Kadar 5K hingga 24K

Update Harga Emas Perhiasan 19 April 2026: Pantau Estimasi Buyback Kadar 5K hingga 24K

Direktur Utama PHI, Sunaryanto—atau yang lebih akrab disapa Anto—menegaskan bahwa produktivitas tidak boleh mengorbankan keselamatan. Menurutnya, keberlanjutan investasi energi di bidang eksplorasi dan eksploitasi harus sejalan dengan mitigasi risiko yang ketat demi mendukung target produksi nasional secara jangka panjang.

Inovasi Teknologi di Lapangan Mature

Salah satu tantangan terbesar bagi perusahaan migas adalah bagaimana menjaga stabilitas produksi di lapangan yang sudah beroperasi puluhan tahun. Dalam hal ini, PHI menunjukkan kelasnya melalui penerapan berbagai inovasi teknologi mutakhir. Anto menjelaskan bahwa langkah strategis ini sangat efektif dalam menahan laju penurunan alamiah (natural decline) serta meningkatkan recovery rate.

“Penerapan teknologi merupakan kunci utama kami untuk memberikan nafas baru bagi lapangan-lapangan yang sudah mature. Kami tidak hanya berfokus pada apa yang mudah diambil, tetapi juga pada bagaimana teknologi bisa mengekstraksi potensi yang sebelumnya dianggap sulit terjangkau,” ungkap Anto dalam sebuah keterangan resmi yang diterima InfoNanti.

Baca Juga

Optimisme Hippindo: Target Transaksi Inabuyer B2B2G Expo 2026 Tembus Rp 2,2 Triliun demi Dongkrak UMKM

Optimisme Hippindo: Target Transaksi Inabuyer B2B2G Expo 2026 Tembus Rp 2,2 Triliun demi Dongkrak UMKM

Mengenal Teknologi HPPO dan PCTGL yang Menjadi Andalan

Ada dua inovasi menonjol yang menjadi motor penggerak produksi PHI di awal tahun ini. Pertama adalah metode High Pour Point Oil (HPPO). Teknologi ini diimplementasikan di Lapangan Handil yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), serta di Lapangan Mutiara dan Pamaguan yang berada di bawah kendali PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Masalah klasik pada minyak dengan kandungan lilin (parafin) tinggi adalah risiko pembekuan di dalam pipa yang bisa menghambat aliran. Dengan penggunaan pelarut khusus dalam metode HPPO, minyak tetap berada dalam fase cair yang optimal, sehingga proses distribusi dari sumur ke fasilitas pengolahan berjalan tanpa kendala. Selain itu, PHM juga sukses mengembangkan solusi untuk menangani masalah sumur emulsi di Lapangan Tunu.

Baca Juga

Gejolak Pasar Global 2026: Elon Musk Tetap di Puncak Saat Harta Miliarder Dunia Menyusut Tajam

Gejolak Pasar Global 2026: Elon Musk Tetap di Puncak Saat Harta Miliarder Dunia Menyusut Tajam

Inovasi kedua adalah teknologi Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL). Diterapkan oleh PHSS pada sumur-sumur workover di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara, teknologi ini bekerja dengan cara menyuntikkan gas bertekanan ke dalam pipa sumur. Tujuannya adalah untuk mengurangi beban kolom cairan sehingga minyak mentah lebih ringan dan mudah terangkat ke permukaan. Hasilnya? Peningkatan produktivitas sumur yang signifikan secara instan.

Ekspansi dan Reaktivasi Sumur di Kalimantan Timur

Tak hanya mengandalkan teknologi, PHI juga agresif dalam melakukan program pemeliharaan, perbaikan, dan reaktivasi sumur-sumur lama. Upaya ini dilakukan untuk memperpanjang usia ekonomis lapangan. Kontribusi tambahan minyak yang cukup signifikan tercatat datang dari PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melalui Lapangan Kerindingan dan Lapangan Sapi, serta keberhasilan pengeboran sumur sisipan baru di area lepas pantai (offshore).

Di sektor gas, angin segar datang dari mulai beroperasinya platform kedua dan ketiga pada Proyek Sisi Nubi AOI yang dikelola oleh PHM. Proyek yang mulai onstream pada akhir Februari dan Maret 2026 ini memberikan tambahan volume gas yang sangat berarti bagi pemenuhan kebutuhan industri dan domestik.

Menuju Ketahanan Energi Nasional Sesuai Asta Cita

Kesuksesan PHI di kuartal pertama ini bukan sekadar pencapaian korporasi, melainkan bagian dari kontribusi nyata terhadap agenda besar pemerintah. Anto menyampaikan bahwa sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat lokal menjadi kunci kelancaran operasional di lapangan.

Program perawatan sumur di berbagai titik seperti Lapangan Tunu, Santan, Nilam, hingga Mutiara akan terus dipacu. Dukungan dari para pemangku kepentingan diharapkan tetap solid guna memastikan operasional hulu migas berjalan tanpa hambatan teknis maupun sosial. Hal ini selaras dengan semangat Asta Cita pemerintah Indonesia yang menempatkan ketahanan energi sebagai salah satu pilar utama kemajuan bangsa.

Dengan performa yang solid di awal tahun, optimisme membumbung tinggi bahwa PHI akan mampu menutup tahun 2026 dengan catatan sejarah baru. Keberhasilan melampaui target di kuartal pertama ini menjadi fondasi yang kuat bagi Pertamina untuk terus melakukan eksplorasi migas yang lebih masif di masa depan, demi memastikan api energi Indonesia tetap menyala terang.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *