Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Usai AS Serang Tanker Iran

Rizky Pratama | InfoNanti
09 Mei 2026, 08:51 WIB
Ketegangan di Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Usai AS Serang Tanker Iran

InfoNanti — Gejolak di Timur Tengah kembali memicu guncangan pada pasar energi global. Ketegangan yang kian meruncing antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya berimbas langsung pada pergerakan harga komoditas cair tersebut. Pada penutupan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, harga minyak dunia terpantau menguat signifikan setelah serangkaian insiden militer terjadi di jalur perdagangan maritim paling krusial di dunia, Selat Hormuz.

Eskalasi Militer di Perairan Teluk Oman

Laporan terbaru yang dihimpun oleh tim redaksi InfoNanti menunjukkan bahwa kenaikan harga ini merupakan respons spontan pasar terhadap aksi penembakan rudal oleh Iran ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Tak berhenti di situ, situasi semakin diperparah dengan tindakan militer AS yang menyerang dua kapal tanker milik Iran. Kapal-kapal tersebut dituding mencoba menerobos blokade angkatan laut yang tengah dijaga ketat oleh pasukan Paman Sam.

Baca Juga

Wajah Baru Pendidikan di SDN 104 Langensari: Rayakan Hardiknas 2026 Bersama BRI Peduli Melalui Program Ini Sekolahku

Wajah Baru Pendidikan di SDN 104 Langensari: Rayakan Hardiknas 2026 Bersama BRI Peduli Melalui Program Ini Sekolahku

Berdasarkan data pasar yang dirilis oleh CNBC, harga minyak Brent internasional mengalami kenaikan sekitar 1 persen, bertengger di level USD 101,29 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menunjukkan tren serupa dengan merangkak naik ke posisi USD 95,42 per barel. Angka ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gangguan sekecil apa pun di kawasan Teluk.

Rincian Insiden: Tanker yang Dilumpuhkan

Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam keterangan resminya mengungkapkan bahwa pasukan mereka terpaksa melepaskan tembakan ke arah dua kapal tanker Iran yang dalam kondisi kosong, yakni M/T Sea Star III dan M/T Sevda. Kedua kapal ini dianggap melanggar aturan blokade yang telah ditetapkan.

Baca Juga

Polemik Motor Listrik Badan Gizi Nasional: Menkeu Tegaskan Tak Ada Alokasi Anggaran Baru di 2026

Polemik Motor Listrik Badan Gizi Nasional: Menkeu Tegaskan Tak Ada Alokasi Anggaran Baru di 2026

Sebuah pesawat tempur Angkatan Laut AS dilaporkan menargetkan cerobong asap kapal untuk melumpuhkan sistem penggeraknya tanpa harus menenggelamkan seluruh badan kapal. Langkah ini diambil sebagai pesan tegas agar tidak ada pihak yang mencoba bermain-main dengan blokade maritim yang sedang berlangsung. Di sisi lain, UEA juga harus bersiaga penuh setelah sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat dua rudal balistik dan tiga drone yang diluncurkan dari wilayah Iran.

Diplomasi di Tengah Desingan Peluru

Menariknya, meskipun situasi di lapangan tampak mencekam, Presiden Donald Trump justru memberikan pernyataan yang terkesan meredam kekhawatiran. Dalam sebuah percakapan telepon dengan media, Trump menegaskan bahwa status gencatan senjata dengan Iran secara teknis masih berlaku. Ia bahkan menyebut serangan terhadap tanker tersebut hanyalah sebuah “sentuhan ringan” atau light touch sebagai bentuk peringatan.

Baca Juga

Lampu Hijau PLTS Terapung Saguling: Strategi Purbaya Yudhi Sadewa Urai Benang Kusut Lahan Demi Ambisi Energi Hijau

Lampu Hijau PLTS Terapung Saguling: Strategi Purbaya Yudhi Sadewa Urai Benang Kusut Lahan Demi Ambisi Energi Hijau

Namun, retorika politik di Teheran tampak jauh lebih keras. Mohsen Rezaei, anggota Dewan Kebijakan Iran, menyatakan dengan tegas bahwa AS harus membayar kompensasi atas kerusakan yang telah ditimbulkan. “Iran tidak akan membiarkan Amerika Serikat mengusulkan rencana yang tidak realistis untuk membuka kembali Hormuz,” ujar Rezaei dalam sebuah siaran pers resmi. Hal ini menunjukkan adanya jurang perbedaan persepsi yang sangat dalam antara kedua belah pihak mengenai masa depan Selat Hormuz.

Antara Harapan Damai dan Volatilitas Pasar

Meski harga harian menunjukkan penguatan, secara mingguan kedua kontrak minyak tersebut sebenarnya mencatatkan koreksi lebih dari 6 persen. Penurunan mingguan ini dipicu oleh optimisme para pelaku pasar yang sempat berharap bahwa nota kesepahaman (MoU) 14 poin yang sedang digodok dapat segera disepakati.

Baca Juga

Realisasi Belanja Negara Kuartal I 2026 Tembus Rp 815 Triliun: Bukti Akselerasi Ekonomi Nasional

Realisasi Belanja Negara Kuartal I 2026 Tembus Rp 815 Triliun: Bukti Akselerasi Ekonomi Nasional

Kesepakatan tersebut kabarnya mencakup penghapusan pembatasan di Selat Hormuz, moratorium pengayaan nuklir oleh Iran, serta pencairan dana Iran yang dibekukan oleh AS. Namun, ketidakpastian yang muncul akibat insiden hari Jumat kembali membuyarkan harapan tersebut. Para analis dari ANZ menekankan bahwa risiko kegagalan kesepakatan damai akan membuat investasi minyak tetap berada dalam zona volatilitas tinggi.

Pandangan Analis Terhadap Ekonomi Global

Scott Chronert, analis dari Citi, dalam wawancaranya menyampaikan bahwa durasi konflik ini akan menjadi variabel kunci bagi ekonomi global. Jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu lama, hal ini tidak hanya akan memengaruhi ekspektasi pertumbuhan pasar, tetapi juga akan mengubah arah kebijakan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed).

“Pasar keuangan mungkin terlihat stabil di permukaan, namun jalan menuju normalisasi harga tidak akan pernah mulus. Kita harus bersiap dengan kemungkinan harga energi yang tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan,” tutur Chronert. Ketidakpastian ini memaksa para pelaku usaha untuk kembali menghitung ulang strategi biaya operasional mereka, terutama yang sangat bergantung pada sektor logistik dan transportasi.

Masa Depan Jalur Perdagangan Dunia

Selat Hormuz tetap menjadi titik nadi yang paling diawasi oleh seluruh dunia. Sebagai jalur lewatnya sepertiga dari total produksi minyak dunia yang dikirim melalui laut, penutupan atau gangguan sekecil apa pun di wilayah ini bisa menyebabkan efek domino pada inflasi global. Upaya mediasi melalui Pakistan terus dilakukan, namun selama kedua negara masih saling bertukar ancaman militer, stabilitas ekonomi akan terus terancam.

InfoNanti akan terus memantau perkembangan terkini dari krisis ini, mengingat dampaknya yang sangat luas terhadap daya beli masyarakat dan harga-harga kebutuhan pokok di tanah air. Publik diharapkan tetap waspada terhadap fluktuasi harga energi yang mungkin terjadi sewaktu-waktu akibat eskalasi di Timur Tengah ini.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *