Tragedi di Penjara Shikma: Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Siksaan Berat, Dunia Internasional Didesak Bertindak

Siti Rahma | InfoNanti
03 Mei 2026, 18:55 WIB
Tragedi di Penjara Shikma: Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Siksaan Berat, Dunia Internasional Didesak Bertindak

InfoNanti — Kabar memilukan datang dari balik jeruji besi Penjara Shikma, Askalan, di mana dua pejuang kemanusiaan yang tergabung dalam Komite Pengarah Global Sumud Flotilla (GSF), Saif Abukeshk dan Thiago Ávila, dilaporkan menjadi korban kekerasan sistematis. Informasi yang dihimpun oleh tim redaksi menunjukkan bahwa keduanya tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga harus berhadapan dengan perlakuan tidak manusiawi yang mencederai nilai-nilai universal kemanusiaan.

Penahanan ini memicu gelombang kekhawatiran besar, terutama setelah perwakilan diplomatik berhasil melakukan pertemuan terbatas dengan keduanya. Laporan yang muncul menggambarkan kondisi fisik dan mental yang sangat memprihatinkan, mempertegas betapa berbahayanya situasi yang dihadapi oleh para relawan di wilayah konflik tersebut. Di tengah blokade yang kian mencekik, nasib para aktivis ini kini berada di ujung tanduk, menunggu keadilan yang tak kunjung datang.

Baca Juga

Selat Hormuz Kembali Berdenyut, Iran Jamin Keamanan Kapal Komersial Pasca Gencatan Senjata

Selat Hormuz Kembali Berdenyut, Iran Jamin Keamanan Kapal Komersial Pasca Gencatan Senjata

Laporan Penyiksaan dan Aksi Mogok Makan

Menurut keterangan resmi dari Tim Komunikasi Internal GSF yang diterima redaksi pada Minggu (3/5/2026), Saif dan Thiago secara eksplisit melaporkan adanya praktik penyiksaan fisik, pemukulan, dan intimidasi selama masa penahanan. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya akses terhadap layanan kesehatan yang memadai, padahal keduanya telah menunjukkan tanda-tanda penurunan kesehatan yang drastis.

Sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang mereka alami, kedua relawan ini dikabarkan telah melakukan aksi mogok makan sejak hari pertama penangkapan. Langkah ekstrem ini diambil sebagai upaya terakhir untuk menarik perhatian dunia terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di dalam fasilitas penahanan Israel. Aksi mogok makan ini tentu meningkatkan risiko fatal, mengingat mereka tidak mendapatkan asupan nutrisi di tengah kondisi lingkungan penjara yang sangat keras.

Baca Juga

Eksplorasi Ikonik Kuala Lumpur: Pengalaman Seru Keliling Kota dengan Bus Ronda Ronda Hop-On Hop-Off

Eksplorasi Ikonik Kuala Lumpur: Pengalaman Seru Keliling Kota dengan Bus Ronda Ronda Hop-On Hop-Off

Kondisi Fisik Thiago Ávila yang Mengkhawatirkan

Maimon Herawati, salah satu anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla, memberikan kesaksian yang menyesakkan dada mengenai kondisi rekan-rekannya. Ia mengungkapkan bahwa Thiago Ávila, relawan asal Brasil yang dikenal sangat berdedikasi, sempat mengalami gangguan penglihatan serius pada salah satu matanya. Hal ini diduga kuat merupakan dampak langsung dari penganiayaan fisik yang dialaminya selama proses interogasi atau penahanan.

“Kedua rekan kami menunjukkan tanda-tanda penyiksaan yang nyata. Thiago bahkan sempat kehilangan kemampuan melihat pada satu matanya, dan yang lebih menyedihkan, tidak ada akses medis atau dokter yang diberikan untuk menangani cedera tersebut secara cepat,” ujar Maimon dengan nada getir. Hal ini menunjukkan adanya pembiaran yang disengaja terhadap kondisi kesehatan para tahanan politik dan aktivis kemanusiaan.

Baca Juga

Babak Baru Diplomasi Dunia: 4 Kandidat Sekjen PBB Jalani Uji Publik di Tengah Badai Geopolitik

Babak Baru Diplomasi Dunia: 4 Kandidat Sekjen PBB Jalani Uji Publik di Tengah Badai Geopolitik

Komunikasi yang Terbatas di Balik Kaca

Meskipun pihak konsulat dari masing-masing negara asal aktivis telah berhasil menjenguk, pertemuan tersebut jauh dari kata layak. Saif dan Thiago hanya diperbolehkan berkomunikasi melalui sekat kaca tebal yang membatasi interaksi fisik maupun emosional. Prosedur ini sangat membatasi ruang bagi mereka untuk menceritakan secara detail apa yang sebenarnya terjadi di dalam sel tahanan.

“Mereka dibatasi oleh kaca, sehingga komunikasi tidak bisa berlangsung secara bebas dan terbuka. Ini adalah bentuk isolasi psikologis yang sangat menekan bagi siapa pun yang sedang berada dalam tahanan,” tambah Maimon. Ketertutupan akses ini semakin memperkuat kecurigaan bahwa ada banyak hal yang berusaha ditutupi oleh otoritas penjara terkait prosedur penanganan para tahanan GSF.

Baca Juga

Masa Depan Membara: Mengapa Bangkok Diprediksi Menjadi Kota Terpanas di ASEAN pada 2050?

Masa Depan Membara: Mengapa Bangkok Diprediksi Menjadi Kota Terpanas di ASEAN pada 2050?

Mengenal Penjara Shikma: Fasilitas Penuh Kontroversi

Penjara Shikma yang terletak di Askalan bukan sekadar fasilitas penahanan biasa. Lokasi ini dikenal luas sebagai tempat dengan kondisi yang sangat keras dan sering digunakan untuk menahan warga sipil Palestina yang ditangkap dalam berbagai operasi militer. Belakangan, laporan menyebutkan bahwa penjara ini juga menjadi tempat transit bagi warga sipil yang ditangkap dari wilayah Gaza selama eskalasi konflik berlangsung.

Penggunaan fasilitas ini untuk menahan aktivis internasional seperti Saif dan Thiago dianggap oleh banyak pengamat hukum internasional sebagai upaya untuk memberikan tekanan mental yang luar biasa. Pelanggaran internasional semacam ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi lembaga-lembaga dunia untuk segera melakukan investigasi independen terhadap kondisi di dalam Penjara Shikma.

Prioritas Penanganan Medis dan Evakuasi Korban

Sebelum berita mengenai penyiksaan ini mencuat, Maimon Herawati yang saat itu berada di Marmaris, Turki, menegaskan bahwa fokus utama GSF adalah memastikan keselamatan fisik seluruh relawan. Dari total 176 aktivis yang sempat ditahan, sebanyak 34 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat tindakan represif saat pengambilalihan kapal kemanusiaan oleh otoritas terkait.

“Ada yang mengalami patah tulang hidung, cedera mata permanen, hingga patah tulang anggota gerak. Lima orang di antaranya berada dalam kondisi kritis dan harus segera dievakuasi ke rumah sakit besar untuk mendapatkan tindakan bedah,” jelas Maimon. Tim medis GSF terus berupaya memberikan bantuan darurat, meskipun akses logistik dan peralatan medis sangat terbatas akibat blokade yang masih berlangsung.

Tekanan Internasional untuk Pembebasan Relawan

Tim hukum GSF saat ini tengah bekerja ekstra keras untuk membangun komunikasi dengan berbagai pemerintahan di dunia. Tujuannya hanya satu: mendesak adanya intervensi diplomatik yang kuat agar Israel segera memberikan akses hukum dan membebaskan Saif serta Thiago tanpa syarat. Diplomasi internasional dianggap sebagai kunci utama untuk meruntuhkan tembok ketidakadilan yang kini mengurung para aktivis tersebut.

“Kami meminta seluruh pemerintahan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan untuk tidak tinggal diam. Apa yang dialami Saif dan Thiago adalah serangan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Akses terhadap pengacara dan telepon yang seharusnya menjadi hak dasar mereka pun hingga kini masih dirampas,” tegas Maimon Herawati di hadapan awak media.

Solidaritas Tanpa Batas Agama dan Bangsa

Salah satu poin penting yang ditekankan dalam misi Global Sumud Flotilla adalah keberagaman latar belakang para relawannya. Thiago Ávila, misalnya, adalah seorang non-muslim yang rela mempertaruhkan nyawanya demi membela hak-hak warga Palestina di Gaza. Hal ini membuktikan bahwa isu Palestina bukanlah sekadar isu agama, melainkan isu kemanusiaan universal.

Maimon mengajak masyarakat Indonesia, sebagai bagian dari komunitas muslim terbesar di dunia, untuk terus menyuarakan dukungan. Namun, ia juga menekankan bahwa dukungan ini harus melintasi batas-batas identitas demi tegaknya keadilan di tanah Palestina. Gerakan sipil global seperti GSF diharapkan mampu menjadi kekuatan yang mendobrak blokade ilegal dan memberikan harapan bagi jutaan orang yang terisolasi di Gaza.

Misi Global Sumud Flotilla: Menembus Blokade Ilegal

Global Sumud Flotilla bukan sekadar konvoi kapal biasa. Melibatkan lebih dari 80 kapal sipil dari berbagai penjuru dunia, misi ini membawa pesan moral yang sangat kuat. Nama “Sumud” sendiri diambil dari konsep ketabahan dan keteguhan hati bangsa Palestina dalam menghadapi penindasan. Misi ini bertujuan untuk membuka jalur bantuan kemanusiaan yang selama bertahun-tahun ditutup secara sepihak.

Meskipun harus menghadapi risiko penangkapan, penganiayaan, hingga ancaman nyawa, para relawan GSF tetap teguh pada komitmen mereka. Tragedi yang menimpa Saif dan Thiago di Penjara Shikma diharapkan tidak menyurutkan semangat para aktivis lainnya, melainkan justru menjadi pemantik bagi gerakan solidaritas yang lebih masif di seluruh dunia untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Gaza.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *