Analisis Michael Novogratz: Mengapa Bitcoin Sulit Kembali Menembus Rp 1,7 Miliar di Tengah Gejolak Global?

Andi Saputra | InfoNanti
29 Apr 2026, 12:51 WIB
Analisis Michael Novogratz: Mengapa Bitcoin Sulit Kembali Menembus Rp 1,7 Miliar di Tengah Gejolak Global?

InfoNanti — Dinamika pasar kripto kembali menjadi sorotan tajam setelah tokoh ikonik di industri ini, Michael Novogratz, memberikan pandangan yang cukup mendinginkan euforia investor. Pendiri sekaligus CEO Galaxy Digital Inc tersebut memprediksi bahwa perjalanan Bitcoin (BTC) untuk kembali bertengger di atas level USD 100.000 atau sekitar Rp 1,73 miliar (dengan asumsi kurs Rp 17.330 per dolar AS) akan menemui jalan terjal yang sangat berliku dalam kondisi makroekonomi saat ini.

Narasi optimisme yang sempat melambung tinggi kini berbenturan dengan realitas geopolitik dan kebijakan moneter yang ketat. Novogratz menekankan bahwa untuk melihat harga Bitcoin kembali ke level psikologis yang pernah dicapai pada awal November 2025 tersebut, pasar membutuhkan stimulus yang kuat, terutama berupa pelonggaran kebijakan dari bank sentral. Namun, harapan tersebut tampaknya masih jauh dari kenyataan dalam waktu dekat.

Baca Juga

Grinex Lumpuh Total: Bursa Kripto Afiliasi Rusia Kebobolan Rp 224 Miliar, Intelijen Asing Dituding Terlibat

Grinex Lumpuh Total: Bursa Kripto Afiliasi Rusia Kebobolan Rp 224 Miliar, Intelijen Asing Dituding Terlibat

Tantangan Makroekonomi: Antara Inflasi dan Konflik Geopolitik

Dalam sebuah wawancara mendalam, Novogratz menyoroti bagaimana ketegangan di Timur Tengah, khususnya potensi perang yang melibatkan Iran, menjadi faktor penghambat utama. Ketidakpastian global ini memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi yang sulit dikendalikan. Situasi ini membuat otoritas moneter, terutama The Federal Reserve (The Fed), berada dalam posisi dilematis yang memaksa mereka untuk tetap bersikap pasif dan waspada.

“Mengingat situasi perang di Iran, kita kemungkinan besar akan menghadapi tekanan inflasi yang cukup buruk. Oleh karena itu, saya berkeyakinan bahwa The Fed tidak akan melakukan manuver apa pun selain hanya duduk diam dan mengamati perkembangan situasi,” ungkap Novogratz. Pandangan ini mengisyaratkan bahwa era kebijakan ekonomi yang longgar atau penurunan suku bunga yang dinanti-nantikan oleh para pelaku pasar modal dan kripto mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Baca Juga

Ramalan Bitcoin Menuju USD 96.000: Saat Permintaan Institusi ‘Melumat’ Pasokan Pasar Hingga 500%

Ramalan Bitcoin Menuju USD 96.000: Saat Permintaan Institusi ‘Melumat’ Pasokan Pasar Hingga 500%

Kondisi Pasar Bitcoin Terkini dan Volatilitas yang Menghantui

Berdasarkan pantauan data dari CoinMarketCap, pergerakan pasar Bitcoin menunjukkan tren yang cenderung stagnan dengan kecenderungan terkoreksi. Pada Rabu, 29 April 2026, harga Bitcoin tercatat hanya naik tipis 0,31% dalam kurun waktu 24 jam terakhir, namun secara akumulatif dalam sepekan terakhir telah merosot sebesar 0,57%. Saat ini, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini diperdagangkan di kisaran USD 77.007 atau setara Rp 1,33 miliar.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, Bitcoin sebenarnya memegang peranan krusial dengan menyumbang sekitar 60% dari total nilai pasar sektor aset digital yang sempat menyentuh rekor fantastis USD 126.000 pada awal Oktober tahun lalu. Namun, kejayaan tersebut terpangkas drastis saat sentimen pasar mulai berbalik arah dan harga aset-aset digital mulai mengalami aksi jual besar-besaran atau crash.

Baca Juga

Guncang Pasar Kripto 2026, BitMine Borong Ethereum Senilai Rp 3,9 Triliun: Sinyal Bullish Telah Tiba?

Guncang Pasar Kripto 2026, BitMine Borong Ethereum Senilai Rp 3,9 Triliun: Sinyal Bullish Telah Tiba?

Laporan Keuangan Galaxy Digital: Di Balik Kerugian Ratusan Juta Dolar

Komentar skeptis dari sang miliarder ini muncul bertepatan dengan publikasi laporan keuangan kuartal pertama Galaxy Digital Inc. Perusahaan mencatatkan kerugian bersih yang cukup signifikan sebesar USD 216 juta atau sekitar Rp 3,74 triliun. Angka ini setara dengan kerugian 49 sen per saham, yang sebagian besar dipicu oleh depresiasi nilai aset digital yang dimiliki perusahaan selama periode tersebut.

Meski mencatatkan kerugian besar, kinerja Galaxy Digital sebenarnya sedikit melampaui ekspektasi para analis dari sisi pendapatan transaksi. Pendapatan perusahaan memang turun 22% menjadi USD 10 miliar dibandingkan periode sebelumnya, namun angka ini masih lebih tinggi dari konsensus analis Bloomberg yang memproyeksikan angka USD 8,8 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun valuasi aset menurun, aktivitas operasional dan transaksi di dalam ekosistem Galaxy masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang kuat.

Baca Juga

Bitcoin Tembus Rekor USD 77.000: Menguak Manuver Militer AS di Balik Lonjakan Drastis Kripto

Bitcoin Tembus Rekor USD 77.000: Menguak Manuver Militer AS di Balik Lonjakan Drastis Kripto

Strategi Pivot: Transformasi Menuju Pusat Data AI

Menyadari volatilitas pasar kripto yang ekstrem, Galaxy Digital di bawah komando Novogratz mulai melakukan langkah strategis dengan melakukan diversifikasi bisnis. Perusahaan kini mulai merambah sektor infrastruktur pusat data yang difokuskan untuk mendukung teknologi kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diambil guna menciptakan aliran pendapatan yang lebih stabil melalui biaya berulang (recurring fees).

Volume perdagangan di pasar kripto yang tetap stagnan dengan rata-rata portofolio pinjaman sebesar USD 1,4 miliar—turun 20% pada kuartal pertama 2026—memperkuat alasan Galaxy untuk beralih. Mereka mulai mengubah fasilitas penambangan kripto konvensional mereka menjadi infrastruktur High-Performance Computing (HPC). Strategi ini sebelumnya telah sukses dilakukan oleh sejumlah perusahaan penambang kripto publik seperti TeraWulf dan Cipher Digital yang harga sahamnya meroket di tengah demam AI global.

“Neraca keuangan kami memang terdampak oleh penurunan harga kripto, namun kerugian tersebut bisa kami minimalisir karena kami telah memangkas beberapa posisi strategis dan mengalihkan eksposur kami ke instrumen yang lebih prospektif seperti Hyperliquid,” jelas Novogratz. Ia menekankan pentingnya kelincahan dalam mengelola portofolio di tengah pasar yang tidak menentu.

Menilik Masa Depan Melalui Hyperliquid dan Kontrak Berjangka

Salah satu aset yang menjadi sorotan Novogratz adalah Hyperliquid, sebuah blockchain yang dirancang khusus untuk kontrak berjangka abadi (perpetual futures). Berbeda dengan token spekulatif lainnya, Hyperliquid memungkinkan perdagangan kontrak leverage tanpa tanggal kedaluwarsa yang dikaitkan dengan aset dunia nyata (Real World Assets) seperti minyak, perak, hingga indeks saham S&P 500.

Novogratz menyatakan dukungannya secara penuh terhadap proyek ini karena dinilai memiliki model ekonomi yang nyata dan berkelanjutan. “Hyperliquid adalah representasi dari seperti apa masa depan industri kripto nantinya. Ia bukan sekadar token asosiasi, melainkan platform fungsional yang menjembatani keuangan tradisional dengan teknologi blockchain,” tuturnya. Saat ini, Galaxy telah mulai mendapatkan klien untuk layanan HPC mereka, termasuk kemitraan strategis dengan CoreWeave.

Kesimpulan dan Navigasi Investor

Pandangan Michael Novogratz memberikan peringatan penting bagi para pelaku investasi kripto agar tidak terjebak dalam harapan yang tidak realistis. Faktor makroekonomi tetap menjadi kemudi utama yang menggerakkan arah pasar. Selama inflasi masih menjadi ancaman dan tensi geopolitik belum mereda, ambisi Bitcoin untuk menembus angka Rp 1,7 miliar akan tetap menjadi tantangan besar.

Bagi investor, periode konsolidasi ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk melakukan analisis mendalam dan memperhatikan bagaimana perusahaan-perusahaan besar seperti Galaxy Digital melakukan adaptasi teknologi. Masa depan mungkin tidak hanya bergantung pada harga koin semata, melainkan pada bagaimana infrastruktur blockchain tersebut dapat diintegrasikan dengan kebutuhan industri masa kini seperti kecerdasan buatan.

Disclaimer: Keputusan untuk melakukan transaksi jual atau beli aset kripto sepenuhnya berada di tangan pembaca. InfoNanti menyarankan agar setiap investor melakukan riset mendalam dan memahami risiko volatilitas pasar sebelum mengambil keputusan investasi. Kami tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *