Dominasi Strategy Inc: Menguasai 815.061 Bitcoin dan Visi Revolusi Keuangan Global

Andi Saputra | InfoNanti
27 Apr 2026, 12:52 WIB
Dominasi Strategy Inc: Menguasai 815.061 Bitcoin dan Visi Revolusi Keuangan Global

InfoNanti — Di tengah peta persaingan aset digital yang kian memanas, Strategy Inc kembali mengukuhkan dominasinya dengan angka yang fantastis. Perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor ini baru saja mengumumkan bahwa mereka kini menggenggam total 815.061 Bitcoin (BTC), sebuah angka yang tidak hanya mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi, tetapi juga sebuah taruhan besar terhadap masa depan sistem keuangan global.

Kepemilikan masif ini dicapai melalui strategi akumulasi yang agresif dengan rata-rata harga pembelian di level USD 75.528 atau sekitar Rp 1,3 miliar per koin (mengacu pada asumsi kurs Rp 17.240 per dolar AS). Langkah berani ini telah mendorong nilai kas perusahaan ke rekor tertinggi sepanjang masa, menyentuh angka USD 63,46 miliar atau setara dengan Rp 1.094 triliun per 26 April 2026. Fenomena ini menandai pergeseran besar dalam bagaimana korporasi modern memandang cadangan nilai mereka di tengah ketidakpastian mata uang fiat.

Baca Juga

Sberbank Bersiap Gebrak Pasar Kripto: Raksasa Perbankan Rusia Menanti Ketukan Palu Regulasi

Sberbank Bersiap Gebrak Pasar Kripto: Raksasa Perbankan Rusia Menanti Ketukan Palu Regulasi

Agresi Tanpa Henti: Membedah Strategi Akumulasi Michael Saylor

Michael Saylor, Executive Chairman Strategy Inc, tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan menginjak pedal rem. Dalam kurun waktu sepekan terakhir saja, kas perusahaan telah membengkak hampir USD 2 miliar. Hal ini didorong oleh aksi beli paling agresif yang dilakukan perusahaan dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Laporan internal yang diterima InfoNanti menunjukkan bahwa pekan lalu, Strategy Inc menambah koleksinya sebanyak 34.164 BTC. Pembelian kilat senilai USD 2,54 miliar (Rp 43,80 triliun) ini dilakukan dengan harga rata-rata USD 74.395 per koin. Menariknya, volume pembelian dalam tujuh hari tersebut tercatat sebagai yang terbesar dalam 17 bulan terakhir, sebuah sinyal kuat bahwa investasi kripto institusional sedang berada di puncak kejayaannya.

Baca Juga

Revolusi Real-World Assets: Tokenisasi Aset Global Diproyeksi Tembus USD 39 Miliar, Mengubah Wajah Investasi Masa Depan

Revolusi Real-World Assets: Tokenisasi Aset Global Diproyeksi Tembus USD 39 Miliar, Mengubah Wajah Investasi Masa Depan

Dengan total kepemilikan saat ini, Strategy Inc secara resmi telah melampaui iShares Bitcoin Trust milik raksasa manajemen aset BlackRock. Status ini menjadikan mereka sebagai pemegang Bitcoin terbesar di dunia yang diungkapkan secara publik, sebuah pencapaian yang mengubah narasi pasar dari sekadar instrumen spekulatif menjadi aset strategis korporasi.

Mekanisme Pendanaan dan Manuver Saham

Bagaimana sebuah perusahaan mampu terus-menerus memborong aset senilai triliunan rupiah? Jawabannya terletak pada model pendanaan yang unik namun kontroversial. Pembelian besar-besaran di bulan April ini didanai sepenuhnya melalui penerbitan instrumen keuangan di pasar modal. Strategy Inc berhasil mengumpulkan dana segar sebesar USD 2,18 miliar melalui penjualan saham preferen, ditambah dengan USD 366 juta dari hasil penjualan saham biasa perusahaan (MSTR).

Baca Juga

Korea Selatan Puncaki Volume Kripto Dunia: Rahasia di Balik Dominasi Altcoin dan Geliat Ritel

Korea Selatan Puncaki Volume Kripto Dunia: Rahasia di Balik Dominasi Altcoin dan Geliat Ritel

Namun, strategi “cetak saham untuk beli Bitcoin” ini bukan tanpa kritik. Peter Schiff, seorang pengamat ekonomi senior dan kritikus vokal terhadap aset digital, memperingatkan risiko laten dari model ekuitas ini. Menurut Schiff, mempertahankan imbal hasil (yield) sebesar 11,5% pada instrumen STRC menuntut kinerja harga Bitcoin yang terus meroket tanpa jeda. Jika harga stagnan, penggalangan modal yang berkelanjutan justru berisiko mendilusi nilai kepemilikan pemegang saham lama.

Meskipun ada bayang-bayang aksi ambil untung (profit taking) di level harga USD 76.000, sikap Saylor tetap teguh. Baginya, volatilitas jangka pendek adalah kebisingan yang tidak relevan dibandingkan dengan potensi apresiasi jangka panjang dari kelangkaan digital yang dimiliki Bitcoin.

Baca Juga

Kebuntuan Regulasi Kripto Polandia: Parlemen Gagal Batalkan Veto Presiden, Investor Terbayang Risiko

Kebuntuan Regulasi Kripto Polandia: Parlemen Gagal Batalkan Veto Presiden, Investor Terbayang Risiko

Visi Politik: Bitcoin Sebagai Penyeimbang Bank Sentral

Di sisi lain samudera, gaung mengenai urgensi Bitcoin juga datang dari ranah politik. Mantan Perdana Menteri Inggris, Liz Truss, memberikan perspektif yang lebih dalam mengenai mengapa aset terdesentralisasi seperti mata uang digital menjadi sangat krusial saat ini. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Truss menyatakan dukungannya terhadap kripto sebagai alat untuk menantang dominasi sistem keuangan tradisional yang dianggapnya mulai rapuh.

Truss menilai bahwa Bitcoin dapat berperan sebagai “penyeimbang” atau counterweight terhadap kekuasaan absolut bank sentral dan birokrasi permanen. Menurutnya, sistem keuangan fiat yang ada saat ini seringkali gagal memenuhi kebutuhan rakyat dan justru menciptakan ketergantungan yang tidak sehat pada institusi besar seperti Bank of England atau European Central Bank (ECB).

“Banyak orang merasa frustrasi dengan cara uang bekerja di negara kita. Fakta bahwa kripto mampu melewati institusi konvensional adalah daya tarik utamanya,” ungkap Truss. Ia melihat adanya tren di mana para pelaku politik disruptif mulai memanfaatkan teknologi ini untuk memperbaiki sistem yang sudah dianggap usang dan tidak kompetitif.

Kedaulatan Ekonomi dan Kebebasan Sipil

Bagi Truss, Bitcoin bukan sekadar soal angka di layar digital, melainkan tentang kebebasan dasar. Ia menghubungkan adopsi uang terdesentralisasi dengan kebebasan berbicara dan hak individu atas properti mereka sendiri. Tanpa adanya perbaikan sistem uang, Truss khawatir masyarakat akan kehilangan kendali atas ekonomi mereka sendiri.

Ia juga melontarkan kritik pedas terhadap kondisi ekonomi Inggris saat ini. Truss mengutip riset yang menyebutkan bahwa meskipun warga Inggris merasa negara mereka sejajar dengan negara bagian maju di AS, faktanya secara daya beli, Inggris berada di posisi bawah, bahkan lebih miskin dibandingkan Mississippi. Kesenjangan persepsi inilah yang menurutnya harus dilawan dengan inovasi finansial yang radikal.

“Pengalaman saya di Downing Street menunjukkan betapa kuatnya status quo. Jika kita tidak melakukan kontra-revolusi melalui sistem uang, kita tidak akan pernah mengembalikan kebebasan dasar kepada masyarakat,” tegasnya. Pernyataan ini mempertegas bahwa perdebatan mengenai teknologi blockchain kini telah bergeser dari sekadar inovasi teknis menjadi isu kedaulatan ekonomi nasional.

Kesimpulan: Menuju Standar Baru Keuangan Digital

Apa yang dilakukan oleh Strategy Inc di bawah komando Michael Saylor dan dukungan ideologis dari tokoh politik seperti Liz Truss menunjukkan bahwa Bitcoin sedang bergerak menuju fase maturitas baru. Kepemilikan 815.061 BTC bukan hanya tentang kekayaan perusahaan, melainkan simbol perlawanan terhadap sistem inflasi tradisional.

Namun, sebagaimana layaknya setiap perjalanan investasi besar, risiko tetap mengintai di balik peluang. Dinamika antara akumulasi institusional, kebijakan bank sentral, dan regulasi pemerintah akan menjadi penentu apakah Bitcoin benar-benar akan menjadi standar emas digital masa depan atau tetap menjadi aset dengan volatilitas tinggi yang penuh risiko.

Bagi para investor, fenomena ini menjadi pengingat penting untuk selalu melakukan analisis mendalam. Keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing individu, karena di balik potensi keuntungan besar, terdapat risiko pasar yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *