Update Pasar Kripto 25 April 2026: Dominasi Bitcoin Terkoreksi, Strategi Ekspansi eToro Jadi Sorotan Utama

Andi Saputra | InfoNanti
25 Apr 2026, 08:51 WIB
Update Pasar Kripto 25 April 2026: Dominasi Bitcoin Terkoreksi, Strategi Ekspansi eToro Jadi Sorotan Utama

InfoNanti — Langkah pasar aset digital di penghujung April 2026 ini tampaknya sedang meniti jalan yang cukup terjal. Berdasarkan pantauan tim InfoNanti di lantai bursa kripto global, mayoritas aset berkapitalisasi besar atau big caps menunjukkan tren pelemahan yang cukup konsisten. Para pelaku pasar sepertinya lebih memilih untuk bersikap konservatif, menunggu katalis baru yang mampu mendorong harga keluar dari zona stagnasi.

Hingga Sabtu (25/4/2026), tekanan jual masih menyelimuti koin-koin utama. Fenomena ini menciptakan atmosfer wait-and-see di kalangan investor ritel maupun institusi. Meskipun demikian, di balik lesunya harga bitcoin, beberapa aset alternatif atau altcoin justru mencoba melawan arus dengan mencatatkan penguatan tipis, menandakan adanya rotasi modal yang sangat selektif di dalam ekosistem.

Baca Juga

Strategi Kripto Tesla 2026: Di Balik Kepemilikan 11.509 Bitcoin dan Ambisi Robotika Elon Musk

Strategi Kripto Tesla 2026: Di Balik Kepemilikan 11.509 Bitcoin dan Ambisi Robotika Elon Musk

Bitcoin dan Ethereum: Sang Pemimpin Pasar yang Masih Kehilangan Tenaga

Bitcoin (BTC) sebagai barometer utama investasi kripto dunia masih menduduki posisi puncak dengan kapitalisasi pasar mencapai USD 1,55 triliun. Namun, angka tersebut tidak mampu menahan laju koreksi. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, harga Bitcoin terpantau merosot sebesar 1,25%, membawa sang raja kripto ke level USD 77.349,63. Penurunan ini dinilai oleh para analis sebagai fase konsolidasi setelah reli panjang di bulan sebelumnya.

Tak jauh berbeda dengan Bitcoin, Ethereum (ETH) yang menempati posisi kedua juga harus merelakan sebagian nilainya tergerus. Dengan kapitalisasi pasar sebesar USD 278,70 miliar, harga Ethereum terkoreksi 1,01% menjadi USD 2.312,21. Tekanan pada Ethereum ini sering kali dipandang sebagai cerminan dari kondisi pasar altcoin secara keseluruhan, di mana volatilitas masih menjadi tantangan utama bagi para pemegang aset jangka pendek.

Baca Juga

Revolusi Energi dan Kripto: Strategi Berani Reabold Resources Menambang Bitcoin di Inggris

Revolusi Energi dan Kripto: Strategi Berani Reabold Resources Menambang Bitcoin di Inggris

Dinamika Stablecoin dan Pergerakan Tak Terduga Solana

Di tengah badai merah yang melanda, aset stablecoin seperti Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) tetap menjalankan fungsinya sebagai pelindung nilai. Tether tetap stabil di angka USD 1,00 meskipun ada koreksi tipis 0,03% yang bersifat teknis. Hal yang sama terjadi pada USDC yang berada di level USD 0,9997. Stabilitas kedua aset ini menjadi indikator bahwa banyak pedagang yang menarik modalnya dari koin volatil untuk kemudian diparkir sementara di aset digital yang dipatok dengan dolar.

Menariknya, Solana (SOL) justru menunjukkan taringnya. Di saat para pesaingnya bertumbangan, Solana berhasil mencatatkan kenaikan tipis 0,11% ke level USD 86,28 dengan kapitalisasi pasar USD 49,67 miliar. Ketahanan Solana ini diduga berkat peningkatan aktivitas pada jaringan decentralized finance (DeFi) miliknya yang kian efisien.

Baca Juga

Gen Z Dominasi Pasar Kripto Indonesia: OJK Ingatkan Pentingnya Literasi di Tengah Tren FOMO

Gen Z Dominasi Pasar Kripto Indonesia: OJK Ingatkan Pentingnya Literasi di Tengah Tren FOMO

Rapor Merah Altcoin: TRON dan Monero Alami Penurunan Signifikan

Tidak semua aset mampu bertahan sebaik Solana. TRON (TRX), misalnya, harus mengalami kontraksi yang cukup dalam sebesar 1,60%, membuat harganya melandai ke angka USD 0,3240. Namun, kejutan negatif terbesar justru datang dari Monero (XMR). Koin yang mengedepankan privasi ini merosot hingga 2,33% ke level USD 367,19, menjadikannya salah satu aset dengan performa terburuk di jajaran 15 besar hari ini.

Di sisi lain, Dogecoin (DOGE) memberikan sedikit angin segar bagi para spekulan dengan kenaikan 0,54%, parkir di harga USD 0,09801. Sementara itu, aset baru seperti Hyperliquid tercatat bergerak stagnan dengan apresiasi sangat tipis 0,01%, menunjukkan bahwa minat pasar terhadap aset-aset baru masih sangat terbatas pada kondisi pasar modal yang sedang lesu.

Baca Juga

Korea Selatan Perketat Celah Kripto Lintas Batas: Era Baru Regulasi di Bawah UU Valuta Asing

Korea Selatan Perketat Celah Kripto Lintas Batas: Era Baru Regulasi di Bawah UU Valuta Asing

Langkah Berani eToro: Akuisisi Zengo Senilai Rp 1,20 Triliun

Di luar dinamika harga yang naik-turun, industri kripto justru dikejutkan dengan berita korporasi yang ambisius. Platform perdagangan global eToro dilaporkan telah meresmikan akuisisi terhadap Zengo, penyedia dompet kripto ternama yang dikenal dengan teknologi tanpa kuncinya. Kesepakatan ini bernilai fantastis, yakni sekitar USD 70 juta atau setara dengan Rp 1,20 triliun.

Langkah ini bukan sekadar menambah angka pengguna, melainkan upaya eToro untuk mengintegrasikan teknologi Multi-Party Computation (MPC) milik Zengo ke dalam ekosistem mereka. Dengan 40 juta pengguna terdaftar, eToro berupaya memperkuat lini keamanan dan swakelola aset digital bagi para nasabahnya. Yoni Assia, CEO eToro, menekankan bahwa masa depan keuangan akan semakin terdesentralisasi, dan kendali penuh di tangan pengguna adalah kunci utama.

Membangun di Masa Sulit: Visi Jangka Panjang Industri

“Seperti yang sering kami katakan, masa-masa sulit kripto adalah waktu yang tepat untuk membangun,” ujar Yoni Assia dalam keterangannya yang dikutip oleh InfoNanti. Pernyataan ini mencerminkan optimisme pelaku industri meski pasar sedang berada dalam tren melemah. Strategi akuisisi ini juga didorong oleh kinerja saham eToro yang sempat melonjak 6% setelah pengumuman tersebut, diperdagangkan di kisaran USD 36,80.

Selain itu, perubahan peta politik di Amerika Serikat juga turut memberikan pengaruh. Di bawah dorongan regulasi kripto yang lebih ramah di masa pemerintahan Presiden Trump, perusahaan seperti eToro mulai berani memperluas penawaran aset digital mereka kepada pelanggan di AS, yang sebelumnya sempat terkendala oleh tuntutan SEC terkait pendaftaran broker.

Kesimpulan dan Outlook Pasar Kedepan

Secara keseluruhan, kondisi pasar kripto pada 25 April 2026 ini menunjukkan bahwa meskipun harga sedang “loyo”, aktivitas fundamental industri tetap berjalan kencang. Penurunan harga Bitcoin dan Ethereum lebih terlihat sebagai siklus pasar yang wajar di tengah minimnya berita ekonomi makro yang signifikan. Fokus investor saat ini tampaknya sedang beralih pada keamanan aset dan perkembangan teknologi blockchain jangka panjang.

Bagi para investor, periode ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi portofolio. Apakah akan tetap bertahan pada aset blue chip seperti Bitcoin, atau mulai melirik altcoin yang memiliki fundamental kuat seperti Solana. Satu hal yang pasti, transparansi dan regulasi akan terus menjadi tema utama yang menentukan arah pergerakan harga di masa mendatang.

Pantau terus perkembangan terbaru mengenai dunia blockchain dan keuangan digital hanya di InfoNanti, sumber informasi terpercaya Anda untuk navigasi di pasar kripto yang dinamis.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *