Update Harga Pangan Nasional 2026: Telur Bertahan Tinggi, Bawang Merah Melandai, dan Kabar Rupiah

Rizky Pratama | InfoNanti
25 Apr 2026, 06:52 WIB
Update Harga Pangan Nasional 2026: Telur Bertahan Tinggi, Bawang Merah Melandai, dan Kabar Rupiah

InfoNanti — Dinamika pasar domestik di penghujung April 2026 ini menunjukkan fenomena yang cukup kontras. Di satu sisi, masyarakat masih harus berhadapan dengan harga pangan yang cukup tinggi di meja makan, sementara di sisi lain, stabilitas moneter mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan melalui penguatan nilai tukar mata uang nasional. Berdasarkan pantauan terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, tren harga bahan pokok hari ini memberikan gambaran yang beragam bagi para konsumen di berbagai penjuru tanah air.

Kondisi Dapur: Telur Masih Bertahan di Level Tinggi

Salah satu komoditas yang paling banyak disoroti adalah telur ayam ras. Bahan pangan sumber protein yang paling terjangkau ini terpantau masih betah bertengger di harga Rp 32.000 per kilogram. Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi ibu rumah tangga maupun pelaku usaha mikro yang mengandalkan telur sebagai bahan baku utama produk mereka. Meski tidak mengalami lonjakan drastis dibandingkan hari sebelumnya, angka Rp 32.000 dianggap masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata harga normal di tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga

Mengupas Laporan Bank Dunia: Transformasi Sektor Tambang Sebagai Lokomotif Ekonomi Masa Depan Indonesia

Mengupas Laporan Bank Dunia: Transformasi Sektor Tambang Sebagai Lokomotif Ekonomi Masa Depan Indonesia

Namun, ada sedikit angin segar dari sektor bumbu dapur. Harga bawang merah dilaporkan mulai menunjukkan tren penurunan, meskipun secara nominal masih berada di kisaran Rp 45.950 per kilogram. Penurunan ini memberikan sedikit ruang napas bagi para pedagang di pasar tradisional. Sementara itu, saudara kembarnya, bawang putih, terpantau menyentuh angka Rp 39.650 per kilogram pada pemantauan Jumat pagi pukul 06.35 WIB. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan di gudang-gudang distribusi utama yang mulai terisi kembali setelah sempat mengalami kendala logistik.

Rincian Harga Beras: Pondasi Ketahanan Pangan

Berbicara mengenai pangan tentu tidak lepas dari komoditas beras. Sebagai makanan pokok mayoritas penduduk, pergerakan harga beras selalu menjadi indikator penting dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. InfoNanti mencatat rincian harga beras di pasar eceran nasional sebagai berikut:

Baca Juga

Genting! AS Resmi Blokade Selat Hormuz, Donald Trump Tebar Ancaman Serius ke Kapal Iran

Genting! AS Resmi Blokade Selat Hormuz, Donald Trump Tebar Ancaman Serius ke Kapal Iran
  • Beras Kualitas Bawah I dan II masing-masing dibanderol dengan harga Rp 14.550 per kg.
  • Beras Kualitas Medium I berada di angka Rp 16.050 per kg, sedangkan Kualitas Medium II di Rp 15.950 per kg.
  • Untuk segmen premium, Beras Kualitas Super I menyentuh Rp 17.350 per kg dan Kualitas Super II di harga Rp 16.850 per kg.

Stabilnya harga beras di level tersebut menunjukkan bahwa intervensi pemerintah dalam menjaga rantai pasok dari petani hingga ke tingkat pengecer masih berjalan cukup efektif, meskipun tekanan inflasi pangan global terus mengintai dari luar.

Gejolak Harga Cabai dan Daging

Bagi pecinta rasa pedas, harga cabai hari ini mungkin akan sedikit membebani kantong. Cabai rawit merah masih menjadi jawara kenaikan harga dengan menembus Rp 65.000 per kilogram. Sementara jenis cabai lainnya juga tidak mau kalah; cabai merah besar dibanderol Rp 48.600 per kg, cabai merah keriting Rp 46.400 per kg, dan cabai rawit hijau di kisaran Rp 48.700 per kg. Tingginya harga cabai ini sering kali dikaitkan dengan faktor cuaca di daerah sentra produksi yang memengaruhi hasil panen.

Baca Juga

Membaca Arah Satgas PHK: Menimbang Perlindungan Buruh Tanpa Menggusur Kelangsungan Dunia Usaha

Membaca Arah Satgas PHK: Menimbang Perlindungan Buruh Tanpa Menggusur Kelangsungan Dunia Usaha

Di sektor protein hewani selain telur, harga daging sapi kualitas I terpantau mencapai Rp 147.650 per kg, sementara untuk kualitas II berada di harga Rp 139.700 per kg. Bagi konsumen yang mencari alternatif lebih ekonomis, daging ayam ras dapat menjadi pilihan dengan harga Rp 39.400 per kg. Harga-harga ini mencerminkan biaya produksi peternakan yang juga mengalami penyesuaian seiring dengan fluktuasi harga pakan ternak di pasar internasional.

Stabilitas Rupiah: Resiliensi di Tengah Tekanan Global

Beralih dari sektor pangan ke pasar keuangan, kabar baik datang dari nilai tukar Rupiah. Di tengah tekanan pasar global yang belum sepenuhnya mereda, mata uang Garuda menunjukkan taringnya. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assu’aibi, mengungkapkan bahwa Bank Indonesia (BI) memainkan peran yang sangat agresif dan krusial dalam menahan gejolak nilai tukar.

Baca Juga

Strategi Jitu DMO 35 Persen: Cara Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga Minyakita di Pasar Rakyat

Strategi Jitu DMO 35 Persen: Cara Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga Minyakita di Pasar Rakyat

Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, Rupiah berhasil menguat 57 poin ke level Rp 17.229 per dolar AS. Padahal, sebelumnya Rupiah sempat menunjukkan pelemahan tipis. Kemenangan kecil ini merupakan hasil dari langkah BI yang memaksimalkan seluruh bauran kebijakan moneter demi menjaga stabilitas ekonomi domestik. Intervensi di pasar valuta asing dan pasar DNDF menjadi salah satu kunci mengapa Rupiah mampu bangkit meski sentimen eksternal sangat menantang.

Rupiah Dianggap ‘Undervalued’ oleh Otoritas Moneter

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam sebuah keterangan resminya menegaskan sebuah pandangan penting mengenai posisi mata uang kita. Menurut beliau, nilai tukar Rupiah saat ini sebenarnya masih berada di bawah nilai fundamentalnya, atau dalam istilah ekonomi disebut sebagai undervalued. Hal ini mengindikasikan bahwa secara teori dan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, seharusnya Rupiah memiliki potensi untuk menguat lebih jauh lagi.

Perry menjelaskan bahwa kondisi ekonomi domestik Indonesia tetap solid. Stabilitas makroekonomi yang terjaga serta pertumbuhan ekonomi yang konsisten menjadi modal kuat bagi Rupiah. Bahkan, di tengah ketidakpastian geopolitik global, seperti konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, ekonomi Indonesia terbukti tetap tangguh. Ketangguhan inilah yang memberikan optimisme bagi otoritas moneter bahwa ruang penguatan Rupiah masih terbuka lebar di masa mendatang.

Analisis InfoNanti: Menyeimbangkan Piring Makan dan Dompet Negara

Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan adanya tantangan ganda bagi pemerintah dan pemangku kepentingan. Di satu sisi, pengendalian harga pangan harus tetap menjadi prioritas agar daya beli masyarakat tidak tergerus. Di sisi lain, kebijakan moneter yang ketat diperlukan untuk menjaga stabilitas Rupiah agar biaya impor, termasuk impor bahan baku pangan dan energi, tidak membengkak dan memicu inflasi lebih lanjut.

Masyarakat diharapkan tetap bijak dalam mengelola pengeluaran rumah tangga dengan mencari alternatif bahan pangan yang harganya lebih stabil. Sementara itu, langkah Bank Indonesia dalam menjaga kurs patut diapresiasi karena stabilitas nilai tukar adalah fondasi utama bagi pelaku usaha untuk melakukan perencanaan bisnis jangka panjang. Tanpa nilai tukar yang stabil, harga-harga pangan impor pun akan semakin sulit untuk dikendalikan.

Sebagai kesimpulan, meskipun harga pangan seperti telur dan cabai masih fluktuatif, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat memberikan harapan bahwa tekanan ini bersifat sementara. InfoNanti akan terus mengawal perkembangan harga pasar dan kebijakan ekonomi terkini untuk memastikan Anda mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *