Gugatan Raksasa di New York: Masa Depan Coinbase dan Gemini Terancam di Tengah Polemik Pasar Prediksi

Andi Saputra | InfoNanti
22 Apr 2026, 10:53 WIB
Gugatan Raksasa di New York: Masa Depan Coinbase dan Gemini Terancam di Tengah Polemik Pasar Prediksi

InfoNanti — Jagat industri digital kembali diguncang oleh langkah hukum agresif dari otoritas Amerika Serikat. Pada Selasa, 21 April 2026, negara bagian New York resmi melayangkan dua gugatan hukum berskala masif terhadap dua raksasa bursa kripto, Coinbase dan Gemini. Langkah ini tidak hanya menjadi ancaman finansial bagi kedua perusahaan, tetapi juga menandai babak baru dalam perang regulasi antara inovasi teknologi finansial dengan hukum perjudian tradisional yang kaku.

Gugatan yang diajukan di pengadilan negara bagian Manhattan ini menuduh bahwa kedua platform tersebut telah melanggar Undang-Undang (UU) perjudian negara bagian dengan menawarkan fitur pasar prediksi kepada publik. Bagi masyarakat awam, pasar prediksi mungkin terdengar seperti instrumen investasi canggih, namun bagi Jaksa Agung New York, Letitia James, hal tersebut tidak lebih dari aktivitas perjudian ilegal yang dikemas dalam bungkus teknologi modern.

Baca Juga

Kado Perayaan 250 Tahun Amerika: Menanti Pengesahan RUU Kripto Bersejarah di Tanggal 4 Juli

Kado Perayaan 250 Tahun Amerika: Menanti Pengesahan RUU Kripto Bersejarah di Tanggal 4 Juli

Akar Masalah: Pasar Prediksi dan Tuduhan Perjudian Ilegal

Laporan yang dihimpun oleh InfoNanti menunjukkan bahwa fokus utama gugatan ini adalah layanan yang memungkinkan pengguna untuk bertaruh pada hasil berbagai peristiwa di masa depan. Tidak terbatas pada taruhan olahraga, pasar prediksi yang disediakan oleh Coinbase dan Gemini juga mencakup spekulasi terkait hasil pemilu politik hingga perkembangan di industri hiburan.

Jaksa Agung Letitia James dalam pernyataan resminya menekankan bahwa perubahan medium atau nama tidak mengubah esensi dari aktivitas tersebut. “Perjudian dengan nama lain tetaplah perjudian, dan itu tidak dikecualikan dari peraturan berdasarkan undang-undang dan konstitusi negara bagian kita,” tegas James. Ia memandang bahwa apa yang disebut sebagai pasar prediksi hanyalah operasi perjudian ilegal yang berpotensi mengekspos masyarakat, terutama kelompok usia muda, pada platform adiktif tanpa perlindungan memadai.

Baca Juga

Analisis Pasar Kripto 11 April: Bitcoin Kokoh di Level USD 72.900, Hyperliquid Curi Perhatian dengan Lonjakan 5%

Analisis Pasar Kripto 11 April: Bitcoin Kokoh di Level USD 72.900, Hyperliquid Curi Perhatian dengan Lonjakan 5%

Polemik Batas Usia: 18 vs 21 Tahun

Salah satu poin paling krusial dalam gugatan ini berkaitan dengan perlindungan konsumen di bawah umur. Berdasarkan regulasi di New York, usia legal untuk berpartisipasi dalam aktivitas perjudian adalah 21 tahun. Namun, Coinbase dan Gemini dituduh membiarkan warga New York yang baru berusia 18 tahun untuk memasang taruhan di platform mereka.

Hal ini dianggap sebagai pelanggaran serius karena platform aset kripto tersebut dinilai tidak memiliki mekanisme penyaringan yang ketat sesuai dengan hukum lokal. Dengan mempermudah akses bagi kaum muda, otoritas New York berargumen bahwa perusahaan-perusahaan ini telah secara sadar menciptakan risiko kecanduan di kalangan dewasa muda yang belum memiliki kematangan finansial sepenuhnya.

Baca Juga

Update Harga Kripto 1 Mei 2026: Bitcoin Kokoh di Rp 1,3 Miliar, Dogecoin Pimpin Reli Tipis

Update Harga Kripto 1 Mei 2026: Bitcoin Kokoh di Rp 1,3 Miliar, Dogecoin Pimpin Reli Tipis

Tuntutan Ganti Rugi Bernilai Fantastis

Dampak finansial dari gugatan ini benar-benar mencengangkan. Pemerintah New York tidak main-main dalam menuntut pertanggungjawaban. Dari pihak Coinbase, negara bagian tersebut menuntut ganti rugi minimal sebesar USD 2,2 miliar atau setara dengan Rp 37,70 triliun (asumsi kurs saat ini). Sementara itu, Gemini menghadapi tuntutan setidaknya USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 20,56 triliun.

Angka-angka fantastis ini didasarkan pada perhitungan keuntungan yang dianggap diperoleh secara ilegal oleh kedua perusahaan tersebut. New York memiliki kekuatan hukum unik dalam hal pengembalian keuntungan (disgorgement), yang memungkinkan negara bagian untuk menyita pendapatan perusahaan yang dianggap ilegal, tidak hanya yang berasal dari transaksi di dalam wilayah New York, tetapi berpotensi meluas ke skala nasional jika terbukti melanggar norma hukum negara bagian yang mendasar.

Baca Juga

Prediksi Fantastis: Volume Transaksi Stablecoin Bakal Tembus USD 719 Triliun di Tahun 2035

Prediksi Fantastis: Volume Transaksi Stablecoin Bakal Tembus USD 719 Triliun di Tahun 2035

Perseteruan Regulasi: Federal vs Negara Bagian

Kasus ini menjadi semakin kompleks karena adanya tumpang tindih yurisdiksi antara pemerintah federal dan negara bagian. Banyak platform pasar prediksi, yang sering kali mendapat dukungan dari narasi politik tertentu, berpendapat bahwa layanan mereka bukan termasuk perjudian, melainkan “kontrak acara” (event contracts). Mereka mengklaim bahwa aktivitas ini berada di bawah pengawasan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) di tingkat federal, bukan hukum negara bagian.

Namun, New York tetap berdiri teguh pada pendiriannya. Sebagai salah satu pusat keuangan dunia, langkah New York ini dipandang sebagai sinyal peringatan bagi seluruh industri blockchain. Jika New York berhasil memenangkan gugatan ini, maka preseden hukum tersebut bisa memicu gelombang gugatan serupa dari negara bagian lain yang selama ini masih bersikap menunggu.

Respons dari Coinbase dan Kondisi Industri Kripto

Menanggapi serangan hukum ini, Paul Grewal selaku Kepala Bagian Hukum Coinbase menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Dalam pernyataannya kepada media, Grewal menegaskan bahwa Coinbase akan terus memperjuangkan pengawasan federal terhadap pasar prediksi sebagaimana yang dimaksudkan oleh Kongres Amerika Serikat. Coinbase meyakini bahwa kejelasan regulasi di tingkat nasional jauh lebih penting daripada aturan yang terfragmentasi di tingkat negara bagian.

Di sisi lain, Gemini belum memberikan pernyataan resmi secara mendetail, namun sumber internal mengindikasikan bahwa mereka tengah mempersiapkan tim hukum terbaik untuk menghadapi persidangan di Manhattan. Perselisihan ini menambah daftar panjang tantangan regulasi yang dihadapi industri kripto sepanjang tahun 2026, di mana pengawasan terhadap keamanan digital dan kepatuhan hukum semakin diperketat.

Menuju Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat?

Para pengamat hukum dan pakar industri memprediksi bahwa kasus ini tidak akan berakhir di pengadilan tingkat negara bagian. Mengingat signifikansinya terhadap masa depan inovasi finansial di Amerika Serikat, perselisihan yurisdiksi ini kemungkinan besar akan dibawa hingga ke Mahkamah Agung AS. Masalah intinya tetap sama: Apakah pasar prediksi berbasis kripto adalah instrumen keuangan masa depan atau sekadar kasino digital yang dipoles teknologi?

Sebelum gugatan terhadap Coinbase dan Gemini ini muncul, New York juga diketahui tengah bersitegang dengan Kalshi, salah satu platform pasar prediksi terbesar. Kalshi bahkan telah meminta intervensi pengadilan federal untuk mencegah penuntutan oleh negara bagian. Dengan eskalasi yang terjadi sekarang, publik kini menanti bagaimana akhir dari drama hukum ini, yang dipastikan akan mengubah wajah industri fintech selamanya.

Disclaimer: Keputusan untuk melakukan investasi dalam bentuk apapun, termasuk aset kripto, sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi. Harap melakukan riset mendalam dan berkonsultasi dengan ahli keuangan sebelum mengambil langkah finansial.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *