Gebrakan Michael Saylor: Strategy Inc Kembali Borong Bitcoin Senilai Rp 43 Triliun dalam Sepekan

Andi Saputra | InfoNanti
21 Apr 2026, 14:52 WIB
Gebrakan Michael Saylor: Strategy Inc Kembali Borong Bitcoin Senilai Rp 43 Triliun dalam Sepekan

InfoNanti — Di tengah dinamika pasar digital yang kian memanas, Strategy Inc kembali menunjukkan taringnya sebagai pemain utama dalam ekosistem blockchain. Perusahaan besutan Michael Saylor ini baru saja merampungkan aksi beli fantastis dengan memborong Bitcoin (BTC) senilai USD 2,54 miliar atau setara dengan Rp 43,51 triliun hanya dalam kurun waktu tujuh hari terakhir.

Akumulasi Terbesar Sejak Akhir 2024

Langkah agresif ini tercatat sebagai salah satu akumulasi terbesar yang dilakukan perusahaan sejak November 2024. Berdasarkan laporan resmi yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), periode pembelian intensif ini berakhir pada 19 April 2026. Menariknya, strategi pendanaan yang digunakan Michael Saylor tergolong sangat rapi dan terstruktur.

Sebagian besar dana pembelian, yakni sekitar USD 2,18 miliar (Rp 37,34 triliun), diperoleh melalui skema penjualan saham preferen abadi berlabel STRC atau yang populer dengan sebutan Stretch. Sisanya, perusahaan memanfaatkan hasil penjualan saham biasa untuk menutupi total nilai belanja aset kripto tersebut. Sebagai informasi, saham preferen abadi merupakan instrumen istimewa tanpa tanggal jatuh tempo yang menjanjikan dividen tetap bagi pemegangnya selama perusahaan beroperasi.

Baca Juga

Update Harga Kripto 10 Mei 2026: Bitcoin Kokoh di Level $80.000, Altcoin Masih Berjuang di Zona Merah

Update Harga Kripto 10 Mei 2026: Bitcoin Kokoh di Level $80.000, Altcoin Masih Berjuang di Zona Merah

Efek Domino Reli Bitcoin

Keputusan Strategy Inc untuk terus menambah pundi-pundi digitalnya tidak lepas dari performa gemilang Bitcoin dalam tiga pekan terakhir. Mata uang kripto nomor satu ini tengah menikmati tren kenaikan terpanjangnya sejak pertengahan tahun lalu. Lonjakan harga ini secara langsung mengerek permintaan terhadap saham Strategy Inc, yang tercatat melambung hingga 30 persen pada pekan lalu seiring Bitcoin menyentuh level tertingginya dalam dua bulan terakhir.

Hingga saat ini, total portofolio investasi Bitcoin milik Strategy Inc telah mencapai angka yang mencengangkan, yakni sekitar USD 61 miliar atau menembus Rp 1.044 triliun. Angka ini semakin mengukuhkan posisi Saylor sebagai visioner yang mempertaruhkan neraca perusahaannya pada masa depan keuangan desentralisasi.

Baca Juga

Gurita Bisnis Digital: Mengupas Lonjakan Kekayaan Donald Trump Hingga USD 6,5 Miliar Lewat Sektor Kripto

Gurita Bisnis Digital: Mengupas Lonjakan Kekayaan Donald Trump Hingga USD 6,5 Miliar Lewat Sektor Kripto

Transformasi Strategi dan Manajemen Risiko

Perubahan taktik pendanaan dari saham biasa ke saham preferen bukan tanpa alasan. Langkah ini diambil untuk meredam kekhawatiran para pemegang saham terkait pengenceran nilai saham (dilusi) yang sempat mencuat saat pasar mengalami kontraksi. Meskipun saham preferen membawa beban dividen yang cukup tinggi, yakni sekitar 11,5 persen untuk sekuritas STRC, metode ini dianggap lebih stabil dalam menjaga struktur permodalan perusahaan.

Untuk menjaga likuiditas, perusahaan juga telah menyiapkan cadangan kas sebesar USD 2,25 miliar sejak tahun lalu. Strategi ini menjadi bantalan penting mengingat Bitcoin merupakan aset yang tidak menghasilkan arus kas langsung. Selain itu, Strategy Inc berencana mengubah jadwal pembayaran dividen STRC menjadi setengah bulanan guna menjaga stabilitas harga saham di pasar sekunder.

Baca Juga

YouTube Blokir Kanal Bitcoin.com: Sinyal Perang Terhadap Konten Kripto atau Sekadar Eror Sistem?

YouTube Blokir Kanal Bitcoin.com: Sinyal Perang Terhadap Konten Kripto atau Sekadar Eror Sistem?

Persaingan Institusional: Langkah Goldman Sachs

Di sisi lain, adopsi institusional terhadap kripto semakin meluas. Bank investasi raksasa Wall Street, Goldman Sachs, dilaporkan telah mengajukan izin untuk meluncurkan Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin miliknya sendiri. Berbeda dengan produk spot biasa, ETF besutan Goldman Sachs ini akan menggunakan strategi berbasis premi yang memungkinkan investor mendapatkan pendapatan stabil melalui mekanisme opsi.

Persaingan di panggung pasar bullish ini diprediksi akan semakin sengit. Nama-nama besar seperti BlackRock dengan rencana ETF “BITA” mereka, serta Morgan Stanley yang sudah lebih dulu meluncurkan produk serupa, kini bersaing ketat untuk menarik minat investor yang mencari instrumen kripto dengan risiko yang lebih terkelola.

Baca Juga

Misteri Satoshi Nakamoto: Menelusuri Jejak Sang Arsitek Anonim di Balik Revolusi Bitcoin

Misteri Satoshi Nakamoto: Menelusuri Jejak Sang Arsitek Anonim di Balik Revolusi Bitcoin

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Pastikan Anda melakukan analisis mendalam sebelum terjun ke dunia perdagangan kripto. InfoNanti tidak bertanggung jawab atas potensi kerugian atau keuntungan yang muncul dari keputusan finansial Anda.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *