Paus Leo XIV Tegaskan Misi Perdamaian, Enggan Terjebak Debat Kusir dengan Donald Trump

Siti Rahma | InfoNanti
19 Apr 2026, 10:52 WIB
Paus Leo XIV Tegaskan Misi Perdamaian, Enggan Terjebak Debat Kusir dengan Donald Trump

InfoNanti — Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV, akhirnya angkat bicara terkait ketegangan retoris yang melibatkan dirinya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di tengah perjalanan apostoliknya melintasi cakrawala Afrika, sang Pontifex menegaskan bahwa fokus utamanya bukanlah untuk terlibat dalam konfrontasi verbal, melainkan terus konsisten menyuarakan pesan perdamaian universal yang berakar pada nilai-nilai Injil.

Pernyataan diplomatis ini disampaikan di atas pesawat kepausan dalam penerbangan dari Kamerun menuju Angola, Sabtu (18/4/2026). Paus Leo XIV, yang mengukir sejarah sebagai Paus pertama asal Negeri Paman Sam, tampak ingin mendinginkan suasana setelah serangkaian kritik tajam yang dilontarkan Trump mendominasi diskursus publik dalam sepekan terakhir.

Meluruskan Narasi di Tengah Turbulensi Politik

Kisruh ini bermula ketika Donald Trump, melalui platform media sosial Truth Social pada 12 April lalu, meluncurkan serangan verbal terhadap khotbah perdamaian sang Paus. Trump menuding Paus Leo XIV bersikap “lemah” terhadap kejahatan, memiliki kecenderungan politik sayap kiri, hingga mengklaim secara sepihak bahwa keterpilihan sang Paus merupakan hasil dari pengaruh politiknya.

Baca Juga

Pintu Ibadah Terbuka Kembali: Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Suci Sambut Jamaah di Yerusalem

Pintu Ibadah Terbuka Kembali: Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Suci Sambut Jamaah di Yerusalem

Menanggapi hal tersebut, Bapa Suci memberikan klarifikasi naratif untuk meluruskan catatan sejarah. Ia menjelaskan bahwa banyak interpretasi yang berkembang di media massa saat ini telah menyimpang dari esensi pesannya. “Ada narasi tertentu yang tidak sepenuhnya akurat. Namun karena situasi politik yang tercipta, Presiden AS melontarkan komentar tentang saya tepat di hari pertama saya menginjakkan kaki di Afrika,” tuturnya dengan nada tenang kepada para wartawan.

Paus Leo XIV juga memberikan penegasan khusus terkait pidatonya di Bamenda, Kamerun, yang sempat dianggap sebagai sindiran langsung kepada Trump. Ia mengungkapkan bahwa naskah yang mengkritik perilaku “segelintir tiran” yang merusak bumi melalui eksploitasi dan perang tersebut sebenarnya telah disusun dua minggu sebelum Trump melancarkan kritiknya. Artinya, pesan tersebut adalah seruan moral yang bersifat umum, bukan serangan personal.

Baca Juga

Iran Tuntut Ganti Rugi Perang Rp4.623 Triliun: Dari Pajak Selat Hormuz hingga Krisis Infrastruktur Nasional

Iran Tuntut Ganti Rugi Perang Rp4.623 Triliun: Dari Pajak Selat Hormuz hingga Krisis Infrastruktur Nasional

Komitmen Perdamaian di Tengah Eskalasi Perang Iran

Ketegangan antara dua tokoh besar ini pecah di tengah bayang-bayang perang Iran yang kian memanas. Gejolak militer ini diketahui memuncak setelah adanya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, yang kemudian memicu aksi balasan dari pihak Teheran. Dalam situasi yang genting ini, Paus Leo XIV secara konsisten mengecam penggunaan pembenaran agama untuk memicu peperangan.

Pihak Vatikan menegaskan bahwa setiap seruan perdamaian dunia yang digaungkan oleh Paus merujuk pada seluruh konflik yang melanda bumi, tanpa terkecuali. Hal ini juga menjadi antitesis terhadap sikap beberapa institusi keagamaan lain yang terkadang menggunakan terminologi “perang suci” untuk melegitimasi invasi militer.

Baca Juga

Babak Baru Politik Thailand: Thaksin Shinawatra Segera Bebas dari Penjara, Apa Dampaknya bagi Stabilitas Nasional?

Babak Baru Politik Thailand: Thaksin Shinawatra Segera Bebas dari Penjara, Apa Dampaknya bagi Stabilitas Nasional?

“Saya datang ke Afrika terutama sebagai seorang pastor dan pemimpin Gereja untuk hadir, merayakan, serta menguatkan hati seluruh umat,” tegasnya. Kini, di pemberhentian ketiganya di Angola, misi perdamaian Paus Leo XIV menemukan relevansi yang mendalam. Angola, sebuah negara yang pernah hancur oleh perang saudara selama puluhan tahun, menjadi bukti nyata betapa berharganya rekonsiliasi dibandingkan retorika perpecahan.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *