Diplomasi di Ujung Tanduk: Iran Ungkap Jurang Perbedaan dengan AS, Trump Ancam Ratakan Infrastruktur Sipil

Siti Rahma | InfoNanti
19 Apr 2026, 20:51 WIB
Diplomasi di Ujung Tanduk: Iran Ungkap Jurang Perbedaan dengan AS, Trump Ancam Ratakan Infrastruktur Sipil

InfoNanti — Di tengah upaya global meredam gejolak di Timur Tengah, babak baru ketegangan antara Teheran dan Washington kembali mencuat ke permukaan. Ketua Parlemen Iran sekaligus pemimpin negosiator, Mohammad Bagher Qalibaf, mengungkapkan bahwa meski ada kemajuan kecil dalam meja perundingan, “jurang pemisah” yang lebar masih membentang antara kedua negara tersebut.

Dalam pernyataan resminya pada Minggu (19/4/2026), Qalibaf memberikan gambaran jujur mengenai situasi di balik pintu tertutup perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan. Menurutnya, meskipun beberapa poin kesepakatan telah tercapai, jalan menuju resolusi final masih sangat panjang dan penuh rintangan.

Komitmen Timbal Balik yang Menjadi Ganjalan

Iran menegaskan bahwa pendekatan mereka dalam berdiplomasi didasarkan pada prinsip timbal balik yang bertahap. Qalibaf menekankan bahwa Teheran tidak akan membiarkan pihaknya saja yang mematuhi kewajiban sementara pihak lawan tidak memberikan timbal balik yang sepadan. “Kami tidak ingin berada dalam posisi di mana kami memenuhi semua komitmen, sementara pihak lain hanya berpangku tangan,” tegasnya dalam siaran televisi nasional.

Baca Juga

Jejak Persistensi Netanyahu: Bagaimana Empat Presiden AS Merespons Desakan Serangan Militer ke Iran

Jejak Persistensi Netanyahu: Bagaimana Empat Presiden AS Merespons Desakan Serangan Militer ke Iran

Perselisihan utama yang hingga kini belum menemui titik temu mencakup isu-isu krusial seperti program nuklir Teheran dan kendali atas wilayah strategis Selat Hormuz. Meski demikian, Qalibaf mengeklaim bahwa upaya Washington untuk melakukan perubahan rezim melalui tekanan militer telah gagal total. Ia bahkan dengan lantang membandingkan ketangguhan negaranya dengan krisis di Amerika Latin, menyatakan bahwa “Iran bukan Venezuela.”

Gencatan Senjata yang Rapuh dan Ancaman Ekstrem Trump

Konflik yang telah berlangsung selama 51 hari ini sebenarnya tengah berada dalam fase jeda berkat mediasi Pakistan sejak 8 April lalu. Namun, kedamaian sementara ini terancam sirna setelah Donald Trump melontarkan ancaman serius melalui platform media sosialnya. Trump menuduh Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melakukan provokasi terhadap kapal kargo Inggris dan Prancis di wilayah perairan internasional.

Baca Juga

Akses Pendidikan Terjegal: Jeratan Kawat Berduri dan Gas Air Mata Bagi Anak-Anak Palestina di Tepi Barat

Akses Pendidikan Terjegal: Jeratan Kawat Berduri dan Gas Air Mata Bagi Anak-Anak Palestina di Tepi Barat

Tanpa tedeng aling-aling, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika kesepakatan yang ditawarkan Amerika Serikat tidak segera diterima. “Jika mereka menolak, AS siap melenyapkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan yang ada di Iran,” tulis Trump dalam unggahannya yang memicu kekhawatiran global akan eskalasi perang Iran yang lebih luas.

Rencananya, delegasi Amerika Serikat dijadwalkan kembali ke Islamabad pada Senin (20/4) untuk melanjutkan putaran kedua misi diplomasi. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih maupun kantor Wakil Presiden JD Vance belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai siapa pejabat yang akan memimpin delegasi tersebut, mengingat sensitivitas isu yang tengah dibahas di tengah bayang-bayang ancaman kehancuran infrastruktur.

Baca Juga

Ketegangan Selat Hormuz Memuncak: Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Dampak Global yang Menyakitkan

Ketegangan Selat Hormuz Memuncak: Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Dampak Global yang Menyakitkan
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *