Akses Pendidikan Terjegal: Jeratan Kawat Berduri dan Gas Air Mata Bagi Anak-Anak Palestina di Tepi Barat

Siti Rahma | InfoNanti
16 Apr 2026, 10:22 WIB
Akses Pendidikan Terjegal: Jeratan Kawat Berduri dan Gas Air Mata Bagi Anak-Anak Palestina di Tepi Barat

InfoNanti — Perjalanan menuju sekolah yang seharusnya dipenuhi semangat belajar, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Hajar dan Rashid Hathaleen. Dua bersaudara asal pinggiran Umm al-Khair, wilayah Tepi Barat yang diduduki, kini harus berhadapan dengan barikade kawat berduri yang memutus akses utama mereka menuju ruang kelas.

Senin pagi itu menjadi saksi bisu bagaimana rutinitas sederhana berangkat sekolah berubah menjadi medan ketegangan. Jalur yang biasa mereka lalui, yang menghubungkan lingkungan tempat tinggal mereka dengan pusat desa, mendadak dipasangi kawat berduri oleh para pemukim Israel di bawah kegelapan malam. Langkah kaki kecil anak-anak ini terhenti tepat di hadapan pagar darurat yang kini menjadi simbol baru dari upaya perluasan kontrol wilayah oleh kelompok pemukim.

Baca Juga

Diplomasi di Ujung Tanduk: Iran Ungkap Jurang Perbedaan dengan AS, Trump Ancam Ratakan Infrastruktur Sipil

Diplomasi di Ujung Tanduk: Iran Ungkap Jurang Perbedaan dengan AS, Trump Ancam Ratakan Infrastruktur Sipil

Eskalasi Ketegangan di Tengah Bayang-Bayang Perang

Laporan yang dihimpun oleh tim redaksi menunjukkan bahwa pemasangan pagar ini bukanlah insiden tunggal. Warga setempat meyakini bahwa situasi politik yang memanas pasca-konflik Iran dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperketat cengkeraman di Palestina. Di bawah dalih keamanan militer, pembatasan pergerakan warga sipil semakin masif, meninggalkan desa-desa seperti Umm al-Khair dalam isolasi yang kian mencekik.

Kehidupan di Umm al-Khair sebenarnya telah mendapatkan sorotan dunia melalui film dokumenter pemenang Oscar 2024, “No Other Land”. Namun, ketenaran internasional tersebut nyatanya tidak mampu membendung gelombang kekerasan, vandalisme, hingga pembakaran kebun zaitun yang dilakukan oleh kelompok pemukim ekstremis.

Gas Air Mata Menjawab Protes Damai

Khalil Hathaleen, kepala dewan desa Umm al-Khair, mengungkapkan kegeramannya atas tindakan semena-mena ini. Menurutnya, masa perang menjadi celah bagi para pemukim untuk bertindak tanpa aturan. Ketika para orang tua dan pemimpin desa berkumpul untuk menuntut pembukaan jalur sekolah pada Senin dan Selasa lalu, mereka justru disambut dengan kekerasan.

Baca Juga

Menguak Sosok Cole Tomas Allen: Jejak Akademisi Gemilang di Balik Insiden Penembakan Donald Trump

Menguak Sosok Cole Tomas Allen: Jejak Akademisi Gemilang di Balik Insiden Penembakan Donald Trump

Video amatir memperlihatkan truk putih tanpa tanda serta sejumlah personel militer berseragam melepaskan tembakan gas air mata dan granat kejut ke arah kerumunan, termasuk di hadapan anak-anak yang masih mengenakan seragam sekolah. Meski militer Israel berdalih bahwa tindakan tersebut adalah upaya pembubaran massa yang ditujukan kepada orang dewasa, trauma mendalam jelas membekas pada wajah-wajah kecil yang hanya ingin belajar.

Pola Diskriminasi yang Terstruktur

Pola ini telah berulang selama puluhan tahun. Jalur sepanjang tiga kilometer yang telah digunakan masyarakat Badui secara turun-temurun kini perlahan diklaim secara sepihak. Warga melaporkan skenario yang serupa: pemukim mendirikan pagar darurat, lalu militer hadir untuk memperkuat klaim tersebut, seringkali dengan impunitas penuh.

Baca Juga

Mencekam! Detik-Detik Penembakan di Jamuan Makan Malam Gedung Putih, Trump Dievakuasi Darurat

Mencekam! Detik-Detik Penembakan di Jamuan Makan Malam Gedung Putih, Trump Dievakuasi Darurat

Upaya untuk mencari keadilan pun menemui jalan buntu. Unit administrasi sipil militer Israel sempat menyarankan agar para siswa menggunakan jalur alternatif. Namun, para orang tua dengan tegas menolak. Jalur alternatif tersebut tidak hanya dua kali lebih jauh, tetapi juga jauh lebih berbahaya karena melintasi area pemukiman Carmel yang dikenal rawan konflik.

Sekolah yang Sepi dan Masa Depan yang Terancam

Dampak dari blokade ini mulai terasa pada efektivitas kegiatan belajar mengajar. Ruang-ruang kelas di desa tersebut kini terlihat setengah kosong. Meski beberapa siswa mencoba bertahan dengan menggunakan bus melalui jalur memutar, kecemasan orang tua akan keselamatan anak-anak mereka tetap tinggi.

Berdasarkan data hak asasi manusia dari organisasi B’Tselem, sedikitnya 35 warga Palestina telah tewas sepanjang tahun 2026 akibat tindakan militer maupun serangan pemukim di wilayah tersebut. Angka ini mencerminkan kebijakan yang dianggap membiarkan kelompok milisi bersenjata beroperasi dengan perlindungan negara.

Baca Juga

Tragedi Gempa Friuli 1976: Malam Kelam Saat Pegunungan Alpen Italia Berguncang Hebat

Tragedi Gempa Friuli 1976: Malam Kelam Saat Pegunungan Alpen Italia Berguncang Hebat

Bagi Hajar, Rashid, dan kawan-kawannya, kawat berduri tersebut bukan sekadar penghalang fisik, melainkan simbol perampasan hak atas pendidikan dan masa depan yang damai di tanah kelahiran mereka sendiri.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *