Dampak Konflik Timur Tengah: Bangladesh Resmi Kerek Harga BBM Hingga 15 Persen

Siti Rahma | InfoNanti
19 Apr 2026, 14:51 WIB
Dampak Konflik Timur Tengah: Bangladesh Resmi Kerek Harga BBM Hingga 15 Persen

InfoNanti — Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai merambat ke sektor riil di berbagai belahan dunia. Terbaru, Pemerintah Bangladesh secara resmi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) eceran di pasar domestik dengan lonjakan mencapai 10 hingga 15 persen. Keputusan pahit ini terpaksa diambil menyusul meroketnya harga minyak mentah global serta semakin ketatnya pasokan akibat konflik berkepanjangan yang melibatkan Iran.

Detail Penyesuaian Harga BBM Terbaru

Berdasarkan laporan yang dihimpun tim redaksi dari rilis resmi Kementerian Energi Bangladesh pada Sabtu (18/4/2026), penyesuaian tarif ini mencakup hampir seluruh jenis bahan bakar utama. Kebijakan baru ini mulai berlaku segera untuk menekan beban impor energi yang kian membengkak.

Baca Juga

Eksplorasi Ikonik Kuala Lumpur: Pengalaman Seru Keliling Kota dengan Bus Ronda Ronda Hop-On Hop-Off

Eksplorasi Ikonik Kuala Lumpur: Pengalaman Seru Keliling Kota dengan Bus Ronda Ronda Hop-On Hop-Off
  • Bensin: Kini dibanderol 135 taka per liter (sekitar Rp 18.900), melonjak dari harga sebelumnya yang berada di angka 116 taka.
  • Solar: Ditetapkan menjadi 115 taka per liter.
  • Minyak Tanah: Mengalami kenaikan menjadi 130 taka per liter.

Pemicu Utama: Perang dan Rantai Pasok yang Tercekik

Otoritas setempat mengungkapkan bahwa kebijakan ini merupakan langkah yang tidak terhindarkan. Selama tujuh minggu terakhir, intensitas perang di Iran telah memicu volatilitas luar biasa pada harga minyak mentah dunia. Selain itu, gangguan pada jalur distribusi logistik global telah menyebabkan biaya pengiriman dan premi asuransi kapal tanker merangkak naik secara signifikan.

Kondisi ini memberikan tekanan berat pada cadangan devisa Bangladesh yang saat ini memang sedang berada dalam posisi rentan. Sebagai negara yang sangat bergantung pada pasokan energi luar negeri, Dhaka kini harus berjuang ekstra keras untuk menjaga ketahanan energinya di tengah badai ekonomi global.

Baca Juga

Diplomasi di Ujung Tanduk: Mengupas Proposal 14 Poin Iran demi Akhiri Perseteruan dengan Amerika Serikat

Diplomasi di Ujung Tanduk: Mengupas Proposal 14 Poin Iran demi Akhiri Perseteruan dengan Amerika Serikat

Dampak Sosial dan Ancaman Inflasi

Langkah pemerintah menaikkan harga energi ini langsung memicu reaksi di lapangan. Terjadi fenomena panic buying yang menyebabkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar. Para pejabat menengarai adanya praktik penimbunan oleh oknum tertentu yang semakin memperparah kelangkaan stok di pasaran.

Di sisi lain, para pakar ekonomi memperingatkan adanya potensi tekanan inflasi yang hebat. Sektor transportasi dan pertanian, yang merupakan tulang punggung ekonomi Bangladesh, sangat bergantung pada ketersediaan solar. Kenaikan biaya operasional di kedua sektor ini diprediksi akan mengerek harga pangan serta meningkatkan beban biaya hidup masyarakat secara keseluruhan.

Upaya Penyelamatan Devisa

Sebelum memutuskan untuk menaikkan harga, pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya mitigasi, mulai dari pemberian subsidi besar-besaran, diversifikasi sumber pasokan, hingga pengendalian stok yang ketat. Namun, dengan harga global yang terus menanjak, skema subsidi tersebut dinilai tidak lagi berkelanjutan bagi kas negara.

Baca Juga

19 April 1775: Mengenang ‘The Shot Heard ‘Round the World’ yang Memulai Revolusi Amerika

19 April 1775: Mengenang ‘The Shot Heard ‘Round the World’ yang Memulai Revolusi Amerika

Untuk mengamankan pasokan energi dalam jangka pendek, Bangladesh kini tengah mengajukan pembiayaan eksternal senilai lebih dari USD 2 miliar. Dengan kebijakan ini, Bangladesh resmi menyusul deretan negara lainnya yang terpaksa melakukan penyesuaian ekonomi domestik demi bertahan di tengah ketidakpastian pasar ekonomi global yang dipicu oleh konflik internasional.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *