Emas Global Terjepit: Dampak Gagalnya Perundingan AS-Iran dan Bayang-Bayang Inflasi Tinggi

Rizky Pratama | InfoNanti
14 Apr 2026, 07:27 WIB
Emas Global Terjepit: Dampak Gagalnya Perundingan AS-Iran dan Bayang-Bayang Inflasi Tinggi

InfoNanti — Dinamika pasar logam mulia dunia tengah berada di persimpangan jalan yang cukup krusial. Pada pembukaan perdagangan pekan ini, harga emas internasional terpantau bergerak melandai, terjebak di antara dominasi dolar AS yang perkasa dan buntunya jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang memicu kekhawatiran inflasi global.

Berdasarkan pantauan pasar pada Selasa (14/4/2026), harga emas di pasar spot merosot sekitar 0,4% menuju angka USD 4.728,59 per ons. Posisi ini menandakan titik terendah sejak medio April. Setali tiga uang, kontrak berjangka emas AS juga mengalami koreksi sebesar 0,7%, mendarat di level USD 4.752,20. Pelemahan ini tak lepas dari indeks dolar yang terus menguat, membuat instrumen investasi emas menjadi terasa lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya.

Baca Juga

Dunia di Ambang Krisis: IEA dan IMF Ungkap Dampak Mengerikan Perang Timur Tengah terhadap Ekonomi Global

Dunia di Ambang Krisis: IEA dan IMF Ungkap Dampak Mengerikan Perang Timur Tengah terhadap Ekonomi Global

Sentimen Geopolitik: Kegagalan Diplomasi di Teluk

Situasi di Timur Tengah kembali memanas dan memberikan guncangan pada ekonomi global. Upaya perundingan antara Washington dan Teheran yang diharapkan menjadi angin segar justru berakhir buntu. Alih-alih mencapai kesepakatan damai, militer Amerika Serikat mulai mengambil langkah tegas dengan melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan utama Iran.

Teheran tidak tinggal diam. Ancaman balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan di kawasan Teluk pun mencuat, menciptakan ketidakpastian yang mencekam di jalur perdagangan energi dunia. Dampak instannya terasa pada harga minyak mentah yang melambung tinggi hingga melampaui angka USD 100 per barel. Lonjakan harga energi ini adalah bahan bakar utama bagi inflasi yang diprediksi akan semakin sulit dijinakkan dalam waktu dekat.

Baca Juga

Lowongan Kerja BPJS Ketenagakerjaan April 2026: Kesempatan Emas Meniti Karir di Sektor Jaminan Sosial

Lowongan Kerja BPJS Ketenagakerjaan April 2026: Kesempatan Emas Meniti Karir di Sektor Jaminan Sosial

Dilema Suku Bunga dan Daya Tarik Logam Mulia

Phillip Streible, Kepala Strategi Pasar di Blue Line Futures, mengungkapkan bahwa pasar saat ini sangat sensitif terhadap tajuk utama berita. Fokus utama para investor kini beralih pada pergerakan harga minyak, karena hal tersebut menjadi variabel penentu bagi arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve.

Emas secara tradisional dikenal sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap inflasi. Namun, di sisi lain, potensi suku bunga yang tetap tinggi untuk meredam inflasi justru menjadi beban bagi emas karena logam kuning ini tidak memberikan imbal hasil atau yield. Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan perubahan drastis dalam ekspektasi pasar; peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun kini menyusut tajam menjadi hanya 21%, dari yang sebelumnya berada di angka 40%.

Baca Juga

Waspada Hoaks! BPS Beri Penjelasan Soal Kabar Viral Lowongan 190 Ribu Petugas Sensus 2026

Waspada Hoaks! BPS Beri Penjelasan Soal Kabar Viral Lowongan 190 Ribu Petugas Sensus 2026

Prospek Logam Lain di Tengah Ketidakpastian

Paul Wong, strategis pasar dari Sprott Asset Management, memberikan analisis mendalam bahwa jika Selat Hormuz benar-benar tertutup akibat konflik, maka peran emas sebagai aset lintas batas yang tepercaya akan semakin krusial. “Dalam kondisi krisis energi dan hambatan sistem pembayaran internasional, emas akan kembali menunjukkan taringnya sebagai aset safe haven utama,” tuturnya.

Tak hanya emas, pergerakan ini juga merembet ke logam industri lainnya. Berikut adalah rincian performa logam mulia lainnya pada perdagangan terbaru:

  • Perak: Mengalami penurunan signifikan sebesar 2,4% ke level USD 74,07 per ons, meski permintaannya diprediksi tetap stabil di sektor energi terbarukan.
  • Platinum: Melemah 1,2% menjadi USD 2.021,28 per ons.
  • Palladium: Menjadi satu-satunya yang mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,4%, kini berada di level USD 1.527,45 per ons.

Kondisi pasar keuangan saat ini menuntut kewaspadaan tinggi bagi para pelaku pasar. Selama ketegangan geopolitik belum menemukan titik terang, fluktuasi harga komoditas diperkirakan akan tetap tajam, mengikuti perkembangan berita dari meja perundingan maupun situasi di lapangan.

Baca Juga

Revolusi Distribusi BBM Subsidi: Kolaborasi Strategis Tiga Instansi Tekan Kebocoran Energi

Revolusi Distribusi BBM Subsidi: Kolaborasi Strategis Tiga Instansi Tekan Kebocoran Energi
Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *