Rupiah Terhimpit di Level Rp 17.000: Badai Geopolitik Selat Hormuz Jadi Pemicu Utama
InfoNanti — Tekanan terhadap mata uang Garuda tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda pada pembukaan pekan ini. Memasuki pertengahan April 2026, nilai tukar rupiah terpantau masih tertahan di zona merah, bahkan kokoh bertengger di atas level psikologis Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di berbagai perbankan besar tanah air.
Berdasarkan pantauan tim redaksi pada Senin (13/4/2026), fluktuasi tajam terlihat pada papan kurs sejumlah bank papan atas. Di Bank Central Asia (BCA), kurs e-Rate dipatok pada posisi beli Rp 17.035 dan jual Rp 17.135. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menawarkan nilai yang sedikit lebih lebar dengan posisi beli di Rp 17.003 dan harga jual menyentuh Rp 17.195.
Kondisi serupa juga menyelimuti Bank Negara Indonesia (BNI) yang menetapkan harga beli Rp 17.030 dengan harga jual Rp 17.135. Adapun Bank Mandiri, merujuk pada data penutupan akhir pekan lalu, mencatatkan kurs beli Rp 17.075 dan jual Rp 17.105. Angka-angka ini menjadi sinyal kuat bahwa nilai tukar rupiah tengah berhadapan dengan badai ketidakpastian yang cukup hebat.
KA Sangkuriang Resmi Mengaspal: Revolusi Konektivitas Bandung-Banyuwangi dengan Promo Tiket Fantastis
Ramalan Analis: Volatilitas Masih Tinggi
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan pandangannya terkait situasi pelik ini. Menurutnya, pergerakan mata uang domestik sepanjang hari ini akan sangat dinamis dengan kecenderungan melemah lebih dalam. Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berisiko ditutup pada rentang Rp 17.110 hingga Rp 17.160 per dolar AS.
“Ketidakpastian di pasar saat ini sangat tinggi. Jika kita melihat ke belakang dalam sepekan terakhir, rentang perdagangannya cukup lebar, yakni antara Rp 17.040 hingga Rp 17.200. Ini mencerminkan kegelisahan para pelaku pasar terhadap ekonomi global,” jelas Ibrahim. Pada penutupan akhir pekan lalu saja, rupiah sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan dengan koreksi 14 poin ke level Rp 17.104.
BNI Pastikan Kembalikan 100 Persen Dana Jemaat Paroki Aek Nabara Senilai Rp 28 Miliar
Sentimen Trump dan Panasnya Selat Hormuz
Mengapa rupiah begitu tertekan? Jawaban utamanya ternyata berada jauh di luar perbatasan Indonesia. Sentimen pasar global saat ini terseret oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti pernyataan kontroversial Presiden AS, Donald Trump, sebagai pemicu utama aksi jual rupiah.
Ancaman Trump untuk melakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz pasca-kegagalan negosiasi dengan Iran telah memicu kepanikan massal. Selat Hormuz bukan sekadar perairan biasa; ia adalah jalur nadi utama distribusi energi dunia. Setiap gangguan di wilayah ini dipastikan akan memicu lonjakan harga minyak yang brutal.
“Langkah Trump yang ingin mencegah ‘pemerasan’ oleh Iran dengan menutup jalur keluar-masuk kapal di Selat Hormuz menciptakan risiko inflasi energi yang masif,” ungkap Lukman. Di sisi lain, Teheran tidak tinggal diam. Pemerintah Iran melalui parlemennya menegaskan akan mengenakan pungutan bagi setiap kapal yang melintas, sebagai bentuk kendali atas wilayah kedaulatan mereka di Teluk Persia.
Geliat Logistik Nasional: PT INKA Pasok Ratusan Gerbong Datar ‘Made in Banyuwangi’ ke Palembang
Dampak Berantai bagi Ekonomi Domestik
Konflik ini menciptakan efek domino yang mengerikan bagi negara-negara berkembang. Jika ketegangan di Timur Tengah terus membara, harga komoditas energi akan melambung tinggi, yang pada gilirannya akan memicu inflasi global. Kondisi ini kemungkinan besar akan memaksa bank sentral AS, The Fed, untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama dari perkiraan semula.
Dalam skenario seperti ini, investor biasanya akan menarik modal mereka dari pasar negara berkembang seperti Indonesia dan mencari perlindungan pada aset safe-haven seperti dolar AS. Hal inilah yang membuat rupiah terus tergerus. Untuk jangka pendek, para pelaku pasar diharapkan tetap waspada karena rupiah diprediksi akan terus menguji level resistensi di angka Rp 17.200 per dolar AS.
Visi Besar Presiden Prabowo: Bangun Kota Mandiri Berbasis 100 Ribu Rusun demi Kesejahteraan Buruh