Kontroversi di Al-Aqsa: Itamar Ben-Gvir Klaim Jadi ‘Pemilik’ Situs Suci, Dunia Mengecam
InfoNanti — Situasi di jantung Kota Tua Yerusalem kembali memanas menyusul pernyataan provokatif dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Dalam sebuah kunjungan yang sarat akan tensi politik pada Minggu (12/4/2026), tokoh ultranasionalis ini secara terang-terangan menyatakan bahwa dirinya merasa sebagai “pemilik” sah atas kompleks Masjid Al-Aqsa, sebuah klaim yang langsung memicu gelombang kecaman internasional.
Pernyataan tersebut terungkap melalui sebuah rekaman video yang disebarkan oleh kantor resminya. Sambil menyusuri area yang sangat disucikan oleh umat Islam tersebut, Ben-Gvir berujar, “Hari ini, saya merasa seperti pemilik tempat ini.” Ucapan ini dianggap bukan sekadar kata-kata biasa, melainkan sebuah tantangan terbuka terhadap tatanan hukum internasional yang selama ini berlaku di wilayah tersebut.
Ambisi Trump dan Masa Depan Taman Nasional AS: Retorika Konservasi di Balik Bayang-Bayang Eksploitasi
Tidak hanya melontarkan klaim kepemilikan, Ben-Gvir juga menegaskan posisinya untuk terus menekan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar mengambil kebijakan yang lebih agresif. “Saya terus mendorong Perdana Menteri untuk berbuat lebih banyak lagi; kita harus terus meningkatkan upaya kita di sini,” tegasnya, mengisyaratkan ambisi untuk mengubah peta kendali di kawasan konflik Israel Palestina yang sudah sangat rapuh.
Pelanggaran Status Quo yang Mengkhawatirkan
Kunjungan kontroversial ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah otoritas Israel membuka kembali akses Al-Aqsa bagi jemaah Palestina. Sebelumnya, akses tersebut ditutup total selama lebih dari satu bulan, yang mengakibatkan warga Palestina kehilangan momen beribadah di masa-masa penting seperti bulan suci Ramadan, Hari Raya Idulfitri, hingga salat Jumat.
Iran Tuntut Ganti Rugi Perang Rp4.623 Triliun: Dari Pajak Selat Hormuz hingga Krisis Infrastruktur Nasional
Namun, di balik pembukaan akses tersebut, sebuah pola baru muncul: kelompok ultranasionalis Yahudi justru mendapatkan lampu hijau untuk masuk ke kompleks tersebut dengan intensitas yang lebih sering dan durasi yang lebih lama. Kondisi ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi kesepakatan status quo—sebuah perjanjian internasional yang menetapkan Masjid Al-Aqsa sebagai situs suci di bawah pengelolaan otoritas Muslim (Waqf), di mana umat non-Muslim hanya diizinkan berkunjung tanpa melakukan aktivitas ibadah.
Secara historis, otoritas keagamaan Yahudi sendiri sebenarnya melarang umatnya untuk beribadah di kompleks tersebut demi menjaga kesucian. Akan tetapi, di bawah dukungan pejabat pemerintah seperti Ben-Gvir, kelompok radikal sayap kanan semakin berani melakukan doa-doa ritual di dalam kompleks, yang sering kali dilakukan dengan pengawalan ketat aparat keamanan Israel.
Ambisi Baru Gedung Putih: Donald Trump Lempar Wacana Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51 Amerika Serikat
Reaksi Keras dari Penjaga Situs Suci
Langkah provokatif Ben-Gvir ini mengundang reaksi keras dari Kerajaan Yordania, yang secara internasional diakui sebagai penjaga situs-situs suci di Yerusalem. Pemerintah Yordania mengutuk keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai “penodaan terhadap kesucian situs” serta eskalasi berbahaya yang tidak dapat diterima.
Senada dengan Yordania, kantor Presiden Palestina juga mengeluarkan peringatan keras. Mereka menilai bahwa tindakan provokasi yang terus-menerus dilakukan oleh pejabat tinggi Israel di area Al-Aqsa berpotensi besar mengguncang stabilitas keamanan di seluruh kawasan Timur Tengah.
Meskipun arus protes mengalir deras, pihak Ben-Gvir tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan melunak. Juru bicaranya bahkan mengonfirmasi bahwa sang menteri memang melakukan doa di lokasi tersebut dan berkomitmen untuk terus memperjuangkan peningkatan akses serta izin ibadah penuh bagi pengunjung Yahudi, sebuah langkah yang dikhawatirkan akan memicu konflik yang jauh lebih besar di masa depan.
Ketegangan Seoul-Tel Aviv: Presiden Lee Jae Myung Kritik Keras Israel Terkait Isu Pelanggaran HAM