Harga Perak Antam 13 April 2026 Terkoreksi: Dampak Ketegangan Selat Hormuz dan Gejolak Energi Global

Rizky Pratama | InfoNanti
13 Apr 2026, 10:23 WIB
Harga Perak Antam 13 April 2026 Terkoreksi: Dampak Ketegangan Selat Hormuz dan Gejolak Energi Global

InfoNanti — Dinamika pasar logam mulia kembali menunjukkan volatilitas yang signifikan pada pembukaan pekan ini. Berdasarkan pantauan terbaru, harga perak batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan penurunan yang cukup terasa pada Senin, 13 April 2026. Pelemahan ini seolah mengekor tren negatif yang juga melanda komoditas emas dan harga perak di pasar global.

Rincian Penurunan Harga Perak Antam

Mengacu pada data resmi dari laman Logam Mulia, harga perak Antam hari ini mengalami koreksi sebesar Rp 1.200 per gram. Dengan penurunan tersebut, harga perak kini dipatok di level Rp 47.050 per gram, turun dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 48.250. Bagi Anda yang sedang memantau investasi logam mulia, perubahan ini tentu menjadi sinyal penting dalam menentukan langkah portofolio ke depan.

Baca Juga

Rekor Baru! Harga Emas Terbang Tinggi di Tengah Sinyal Damai AS-Iran dan Potensi Pemangkasan Suku Bunga

Rekor Baru! Harga Emas Terbang Tinggi di Tengah Sinyal Damai AS-Iran dan Potensi Pemangkasan Suku Bunga

Antam sendiri tetap menyediakan berbagai varian produk untuk memenuhi kebutuhan kolektor maupun investor. Beberapa rincian harga untuk unit yang lebih besar meliputi:

  • Perak batangan 250 gram: Rp 12.287.500
  • Perak batangan 500 gram: Rp 23.650.000
  • Perak butiran murni dengan kadar 99,95% juga tetap tersedia sebagai opsi industri dan investasi.

Geopolitik Selat Hormuz Menekan Pasar Dunia

Melansir data dari Trading Economics, harga perak di pasar internasional merosot hampir 3%, tergelincir ke bawah level USD 74 per ounce. Secara spesifik, perak Antam di pasar global juga ikut terdepresiasi sekitar 1,82% menuju angka USD 74,304. Penurunan tajam ini bukan tanpa alasan; situasi geopolitik yang memanas menjadi pemicu utamanya.

Kekhawatiran dunia memuncak setelah munculnya rencana Amerika Serikat (AS) untuk memblokade Selat Hormuz. Langkah ekstrem ini diambil menyusul kegagalan negosiasi akhir pekan dengan Iran, yang memicu ketakutan akan krisis energi global yang lebih dalam. Ekonomi global saat ini tengah berada dalam tekanan besar karena jalur pelayaran vital tersebut terancam lumpuh.

Baca Juga

Update Harga BBM Pertamina Mei 2026: Tren Kenaikan Nonsubsidi dan Catatan Gemilang Neraca Perdagangan RI

Update Harga BBM Pertamina Mei 2026: Tren Kenaikan Nonsubsidi dan Catatan Gemilang Neraca Perdagangan RI

Kegagalan kesepakatan di Pakistan, di mana AS menuduh Iran enggan mengerem ambisi nuklirnya, sementara Iran menuntut kendali penuh atas selat serta akses terhadap aset luar negeri yang dibekukan, telah menciptakan kebuntuan diplomatik yang berbahaya. Kondisi ini mendorong kenaikan harga energi secara mendadak dan memperkuat risiko stagflasi, yang pada gilirannya memaksa pelaku pasar untuk berpikir ulang mengenai kebijakan suku bunga bank sentral.

Sentimen Pasar: Antara Safe Haven dan Tekanan Stagflasi

Meskipun perak mengalami tekanan, narasi berbeda muncul dari komoditas emas. Beberapa analis melihat adanya potensi kembalinya minat investor terhadap emas sebagai aset aman (safe haven). Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, berpendapat bahwa meski pergerakan pasar tidak merata, titik terendah mungkin telah terlewati.

Baca Juga

Rupiah Terkapar di Level Rp 17.200: Mengurai Benang Kusut Tekanan Global dan Beban Utang Domestik 2026

Rupiah Terkapar di Level Rp 17.200: Mengurai Benang Kusut Tekanan Global dan Beban Utang Domestik 2026

“Emas perlahan kembali menguat. Jika gencatan senjata di wilayah konflik mampu bertahan, maka faktor moneter akan kembali menjadi penggerak utama. Namun jika tensi kembali mendidih, fungsi emas sebagai pelindung nilai akan semakin kokoh,” ungkapnya dalam sebuah laporan yang dikutip oleh tim redaksi InfoNanti.

Di sisi lain, Colin Cieszynski dari SIA Wealth Management memberikan perspektif yang lebih hati-hati. Ia menilai pasar saat ini sedang dalam fase konsolidasi atau sideways. Adanya risiko stagflasi akibat gangguan pasar energi membuat pergerakan harga emas maupun perak menjadi sangat sensitif terhadap pernyataan politik sekecil apa pun.

Dengan ketidakpastian global yang masih menyelimuti, para pelaku pasar kini cenderung bersikap waspada. Apakah penurunan harga perak hari ini merupakan peluang untuk “buy on weakness” atau justru awal dari tren penurunan yang lebih panjang? Semuanya sangat bergantung pada bagaimana peta konflik di Timur Tengah berkembang dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga

Membaca Arah Satgas PHK: Menimbang Perlindungan Buruh Tanpa Menggusur Kelangsungan Dunia Usaha

Membaca Arah Satgas PHK: Menimbang Perlindungan Buruh Tanpa Menggusur Kelangsungan Dunia Usaha
Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *