Rekor Baru! Harga Emas Terbang Tinggi di Tengah Sinyal Damai AS-Iran dan Potensi Pemangkasan Suku Bunga
InfoNanti — Dinamika pasar logam mulia kembali mencatatkan momentum krusial. Harga emas dilaporkan melonjak signifikan pada perdagangan Kamis (Jumat waktu Jakarta), dipicu oleh hembusan angin segar dari peta geopolitik global. Harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi katalis utama yang meredakan kekhawatiran inflasi, sekaligus membuka jalan bagi prospek penurunan suku bunga di masa depan.
Melansir data terbaru, harga emas berjangka AS terkerek naik 0,6 persen ke level USD 4.816,14 per ons. Angka ini mencatatkan pencapaian tertinggi dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Sementara itu, untuk pengiriman bulan Juni, harga emas AS juga merangkak naik 0,3 persen hingga menyentuh posisi USD 4.838,10.
Revolusi Distribusi BBM Subsidi: Kolaborasi Strategis Tiga Instansi Tekan Kebocoran Energi
Sentimen Global dan Peran Mediator
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, memberikan pandangannya terkait tren positif ini. Ia menilai bahwa meredanya tensi konflik bersenjata secara otomatis mengurangi tekanan inflasi. Kondisi ini memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertimbangkan kebijakan pelonggaran moneter atau penurunan suku bunga pada akhir tahun ini, yang pada gilirannya mendongkrak daya tarik aset investasi logam mulia.
Gelombang optimisme ini kian menguat seiring munculnya titik terang dalam konflik Iran. Pakistan, yang bertindak sebagai mediator kunci, dikabarkan telah mencapai terobosan penting dalam mengatasi sejumlah isu sensitif. Kendati demikian, pihak Iran tetap memberikan catatan bahwa status program nuklir mereka masih menjadi agenda yang belum sepenuhnya tuntas.
Prediksi Kurs Rupiah Mei 2026: Terjebak dalam Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Akankah Tembus Rp 17.800?
Fluktuasi Pasar dan Kebijakan Moneter
Jika menilik ke belakang, harga emas sempat mengalami tekanan hebat ketika ketegangan antara AS, Israel, dan Iran memuncak pada akhir Februari lalu. Saat itu, lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang memaksa pasar menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas biasanya kehilangan kilaunya ketika suku bunga berada di level tinggi.
Namun, peta kekuatan kini mulai bergeser. Para pelaku pasar saat ini memperkirakan adanya peluang sebesar 36 persen untuk penurunan suku bunga AS pada tahun ini. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa meskipun ekonomi diprediksi melambat pada kuartal ini akibat dampak konflik, kondisi fundamental ekonomi tetap terjaga dan berada dalam jalur pemulihan. Ia juga menekankan bahwa fluktuasi harga minyak saat ini belum membebani ekspektasi inflasi secara berlebihan.
Misi Strategis di Moskow: Langkah Bahlil Lahadalia Amankan Pasokan Minyak dan LPG dari Rusia
Krisis Likuiditas di Pasar Perak dan Logam Lainnya
Tren kenaikan tidak hanya didominasi oleh emas. Harga perak terpantau menguat 0,3 persen menjadi USD 79,27 per ons. Menariknya, industri perak diprediksi akan menghadapi tahun keenam defisit struktural. Laporan dari Silver Institute dan Metals Focus menyebutkan bahwa sekitar 762 juta ons troy telah terserap dari stok global sejak tahun 2021. Hal ini memicu risiko krisis likuiditas baru, meskipun proyeksi permintaan secara umum sedikit melemah.
Di sisi lain, logam mulia lainnya juga menunjukkan performa yang solid. Harga platinum mencatatkan kenaikan 0,9 persen di level USD 2.129,55, sementara palladium menyusul dengan penguatan tipis 0,3 persen di posisi USD 1.578,06. Pergerakan kolektif ini menegaskan bahwa sektor komoditas global tengah berada dalam fase penyesuaian besar menyusul perubahan arah kebijakan ekonomi dan situasi keamanan dunia.
GrabX 2026: Mengintip Masa Depan Layanan Berbasis AI Inklusif dan Ekspansi Global Grab ke Taiwan