Perang Melawan Adiksi Digital: Yunani Resmi Larang Media Sosial bagi Anak di Bawah 15 Tahun

Siti Rahma | InfoNanti
09 Apr 2026, 18:56 WIB
Perang Melawan Adiksi Digital: Yunani Resmi Larang Media Sosial bagi Anak di Bawah 15 Tahun

InfoNanti Arus digitalisasi yang tak terbendung kini menemui benteng pertahanan baru di Yunani. Pemerintah setempat secara resmi mengumumkan rencana ambisius untuk memblokir akses media sosial bagi anak-anak di bawah usia 15 tahun. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya perlindungan anak di era internet yang kian kompleks, menjadikan Yunani sebagai negara Eropa terbaru yang mengambil sikap konfrontatif terhadap raksasa teknologi.

Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, menegaskan bahwa kebijakan radikal ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap krisis kesehatan mental yang melanda generasi muda. Ia menyoroti fenomena gangguan tidur kronis dan kecemasan akut yang kian lazim ditemukan pada anak-anak akibat paparan layar yang berlebihan. “Model bisnis yang hanya mengejar durasi layar telah menggerus kepolosan dan kebebasan anak-anak kita. Ini adalah sesuatu yang harus segera dihentikan,” tegas Mitsotakis dalam pernyataan yang dirangkum redaksi pada Kamis (9/4/2026).

Baca Juga

Krisis Kemanusiaan Gaza: WHO Ungkap Rencana Pemulihan Sistem Kesehatan Senilai Rp172 Triliun

Krisis Kemanusiaan Gaza: WHO Ungkap Rencana Pemulihan Sistem Kesehatan Senilai Rp172 Triliun

Suara Hati Orang Tua dan Ancaman Desain Adiktif

Ironisnya, pesan tersebut disampaikan Mitsotakis melalui sebuah video di TikTok, platform yang justru sering menjadi pusat perdebatan. Dalam narasi tersebut, ia mengungkapkan bahwa banyak remaja merasa terjebak dan lelah karena tekanan untuk selalu tampil sempurna secara daring. Para orang tua pun kerap mengeluhkan kondisi buah hati mereka yang seolah tidak bisa lepas dari ponsel, bahkan saat waktu istirahat tiba.

Kebijakan ini dijadwalkan akan mulai berlaku secara efektif pada Januari tahun depan. Meskipun mekanisme teknis penegakannya masih digodok, pemerintah Yunani memastikan fokus utama mereka bukan untuk menjauhkan anak dari kemajuan teknologi, melainkan untuk memitigasi dampak destruktif dari desain platform yang dirancang secara adiktif.

Baca Juga

Penghargaan Order of Civil Merit untuk Francesca Albanese: Bukti Ketegasan Spanyol Membela Keadilan di Gaza

Penghargaan Order of Civil Merit untuk Francesca Albanese: Bukti Ketegasan Spanyol Membela Keadilan di Gaza

Tren Global dan Perlawanan Raksasa Teknologi

Langkah Yunani ini bukanlah sebuah anomali, melainkan bagian dari pergerakan global. Sebelumnya, Australia telah mempelopori langkah serupa dengan mewajibkan platform besar seperti YouTube dan Snapchat untuk menghapus akun pengguna di bawah 16 tahun, atau bersiap menghadapi denda yang sangat fantastis. Di daratan Eropa sendiri, negara-negara seperti Prancis, Austria, dan Spanyol mulai memperketat regulasi digital mereka.

Namun, jalan menuju pembatasan ini tidaklah mulus. Perusahaan teknologi raksasa mulai melancarkan kritik, berargumen bahwa larangan total sulit diimplementasikan dan justru berisiko mengisolasi remaja dari jaringan sosial mereka. Reddit, misalnya, telah mengambil langkah hukum dengan menggugat undang-undang serupa di Australia ke meja hijau.

Baca Juga

Warna-Warni Karnaval Fanti: Menelusuri Jejak Abadi Warisan Afro-Brasil di Jantung Nigeria

Warna-Warni Karnaval Fanti: Menelusuri Jejak Abadi Warisan Afro-Brasil di Jantung Nigeria

Dorongan Standarisasi di Uni Eropa

Menyadari bahwa internet tidak mengenal batas negara, Mitsotakis telah mengirimkan surat kepada Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen. Ia mendesak adanya kerangka regulasi bersama di tingkat Uni Eropa. Usulan ini mencakup beberapa poin krusial:

  • Verifikasi usia yang wajib dan ketat di seluruh platform digital.
  • Larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah 15 tahun secara serentak di seluruh Eropa.
  • Kewajiban bagi penyedia platform untuk melakukan verifikasi ulang usia setiap enam bulan.

Perdebatan ini semakin memanas seiring dengan putusan pengadilan di Amerika Serikat pada Maret lalu. Perusahaan induk Meta (Instagram, Facebook, WhatsApp) dan Google (YouTube) dinyatakan bertanggung jawab secara hukum atas desain platform mereka yang dinilai sengaja dibuat adiktif, sehingga merusak kesehatan mental pengguna sejak usia dini. Dengan dukungan bukti ilmiah yang kian kuat, langkah Yunani diprediksi akan menjadi katalis bagi negara-negara lain untuk segera bertindak demi melindungi masa depan generasi mereka.

Baca Juga

Ambisi Megah Donald Trump: ‘Arc de Trump’, Gerbang Kemenangan Berlapis Emas yang Bakal Menjulang di Washington

Ambisi Megah Donald Trump: ‘Arc de Trump’, Gerbang Kemenangan Berlapis Emas yang Bakal Menjulang di Washington
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *