Rahasia di Balik Iklan Viral: Sutanto Hartono Tekankan Pentingnya Storytelling Ketimbang Sekadar Angka
InfoNanti — Di tengah hiruk-pikuk algoritma media sosial yang sering kali membuat para pelaku industri terjebak dalam angka-angka statistik, Sutanto Hartono memberikan perspektif segar mengenai esensi dari sebuah pemasaran yang efektif. Managing Director Emtek Group tersebut menegaskan bahwa kunci utama dalam memenangkan hati konsumen bukan terletak pada seberapa besar data di atas kertas, melainkan pada kekuatan narasi atau storytelling.
Dalam pertemuan di pembukaan MMA Smarties Unplugged Indonesia 2026 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (14/4/2026), Sutanto menyoroti fenomena industri saat ini yang cenderung terobsesi dengan metrik. Banyak pemasar yang menghabiskan energi hanya untuk mengejar jumlah pengikut, tingkat keterlibatan (engagement), hingga total impresi pada setiap konten kreatif yang mereka rilis.
Strategi Jitu Naeka: Membawa Keanggunan Mukena Premium ke Pasar Global Lewat Ekosistem Digital BRI
Melampaui Jebakan Angka Digital
Sutanto, yang juga menjabat sebagai Chairperson MMA Global Indonesia, mengingatkan bahwa angka-angka tersebut hanyalah indikator luar. Ia berpendapat bahwa tanpa fondasi cerita yang kuat, sebuah strategi pemasaran akan kehilangan jiwanya.
“Kuncinya seringkali terlupakan karena kita terlalu fokus pada masalah angka digital. Kita bertanya-tanya soal berapa followernya atau seberapa besar engagement-nya,” ujar Sutanto. Ia menambahkan bahwa kreativitas yang sejati harus bermuara pada kemampuan bertutur. Storytelling, menurutnya, harus menjadi ingredient atau bahan utama sebelum memikirkan bagaimana cara mengemasnya agar mencapai target angka tertentu.
Belajar dari Kasus Nyata yang Menginspirasi
Ajang Smarties Unplugged Indonesia 2026 sendiri dirancang sebagai wadah bagi para praktisi media dan marketing untuk membedah kampanye-kampanye yang telah terbukti sukses di pasar. Salah satu contoh yang mencuri perhatian adalah kampanye produk perawatan kulit Vaseline yang menampilkan Gaby, seorang perempuan albino.
Wapres Gibran Bongkar Skandal Trade Misinvoicing: Triliunan Rupiah Devisa Negara Menguap ke Luar Negeri
Narasi tersebut tidak hanya menjual keunggulan produk, tetapi juga mengangkat sisi kemanusiaan tentang keberanian dan kepercayaan diri. Sutanto memuji bagaimana kampanye tersebut mampu menangkap citra emosional yang kuat. “Ini adalah contoh brilian dalam menangkap image seorang albino yang membutuhkan perlindungan kulit. Hal-hal seperti inilah yang memberikan inspirasi bagi para pelaku kreatif marketing di Indonesia untuk terus meningkatkan standar karya mereka,” jelasnya.
Sentuhan Lokal dan Keaslian Cerita
Sejalan dengan visi tersebut, Country Head and Board of Director MMA Global Indonesia, Shanti Tolani, melihat adanya perkembangan positif dalam tren iklan di tanah air. Saat ini, cerita-cerita yang ditampilkan oleh brand di Indonesia mulai berani keluar dari zona nyaman dengan menjadi lebih autentik dan berani mengangkat sisi lokal.
Rupiah Tembus Rp 17.400 per Dolar AS: Jeritan Dunia Usaha di Tengah Bayang-bayang Pertumbuhan Semu
“Tren di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa storytelling semakin berani dan otentik. Kita melihat banyak penggunaan insight lokal, mengingat Indonesia memiliki keberagaman provinsi yang luar biasa,” ungkap Shanti.
Ia menekankan bahwa tantangan bagi perusahaan saat ini adalah bagaimana menyelaraskan data konsumen dengan cerita yang tepat. Memahami lanskap interaksi konsumen, bagaimana mereka merespons sebuah konten, hingga bagaimana sebuah merek dapat hadir sebagai solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat, menjadi kunci agar sebuah brand tidak hanya sekadar dikenal, tetapi juga dicintai.
Melalui pendekatan yang lebih naratif dan manusiawi, diharapkan industri periklanan Indonesia tidak hanya unggul dalam hal teknis, tetapi juga mampu menciptakan hubungan emosional yang mendalam dengan para konsumennya.
Strategi Inovasi Digital Bank Raya Berbuah Manis, Sabet Penghargaan Bergengsi IDIA 2026