Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Rupiah Terkoreksi ke Level Rp 17.127 Per Dolar AS

Rizky Pratama | InfoNanti
14 Apr 2026, 16:51 WIB
Geopolitik Selat Hormuz Memanas, Rupiah Terkoreksi ke Level Rp 17.127 Per Dolar AS

InfoNanti — Dinamika pasar keuangan domestik kembali berada dalam tekanan menyusul memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Pada penutupan perdagangan Selasa sore, 14 April 2026, nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan, mencerminkan sikap kehati-hatian investor dalam merespons ketidakpastian global yang kian eskalatif.

Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda ditutup melemah sebesar 22 poin dan bertengger di level Rp 17.127 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.105 per dolar AS. Gejolak ini sebenarnya sempat terasa lebih berat di awal sesi, di mana rupiah sempat merosot hingga 50 poin sebelum akhirnya berhasil memangkas sebagian kerugian menjelang penutupan pasar.

Baca Juga

Geliat Pasokan Minyak Global: Tiga Supertanker Raksasa Resmi Lintasi Selat Hormuz

Geliat Pasokan Minyak Global: Tiga Supertanker Raksasa Resmi Lintasi Selat Hormuz

Sentimen Global dan Blokade Selat Hormuz

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan pandangannya mengenai situasi ini. Menurutnya, pergerakan nilai tukar rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama terkait sengketa jalur energi di Selat Hormuz. Militer Amerika Serikat sebelumnya telah mengumumkan perluasan blokade hingga ke Teluk Oman dan Laut Arab, sebuah langkah yang memicu reaksi keras dari Iran.

“Tekanan terhadap rupiah sempat cukup dalam sebelum ada upaya pemulihan di akhir sesi. Sentimen pasar cenderung menghindari risiko (risk-off) karena adanya ancaman Iran yang akan menargetkan pelabuhan-pelabuhan di negara tetangga sebagai balasan atas blokade tersebut,” ujar Ibrahim. Situasi ini kian pelik setelah pembicaraan di Islamabad menemui jalan buntu, meskipun upaya negosiasi di balik layar antara Washington dan Teheran dikabarkan masih terus berjalan.

Baca Juga

Update Harga Emas Pegadaian 19 April 2026: Antam Sentuh Rp3 Juta, Cek Daftar Lengkapnya!

Update Harga Emas Pegadaian 19 April 2026: Antam Sentuh Rp3 Juta, Cek Daftar Lengkapnya!

Sikap NATO dan Respon Lembaga Internasional

Menariknya, eskalasi ini tidak sepenuhnya didukung oleh sekutu dekat Amerika Serikat. Inggris dan Prancis, dua anggota penting NATO, memilih untuk tidak terlibat dalam aksi blokade tersebut. Mereka justru mendorong agar jalur pelayaran vital tersebut segera dibuka kembali demi menjaga stabilitas pasokan energi dunia. Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif terus berupaya menjadi mediator untuk meredakan ketegangan, sementara Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa Iran sebenarnya memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan baru.

Kekhawatiran akan guncangan pasar energi ini juga memicu reaksi dari lembaga-lembaga finansial kelas dunia. Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional (IEA) mengeluarkan imbauan keras agar negara-negara tidak melakukan penimbunan pasokan energi atau membatasi ekspor secara sepihak. Menurut mereka, dunia saat ini sedang menghadapi potensi guncangan pasar energi yang paling signifikan dalam sejarah modern.

Baca Juga

Pilar Masa Depan Ekonomi Hijau: Menakar Peran BPDP dalam Transformasi SDM Sawit Nasional

Pilar Masa Depan Ekonomi Hijau: Menakar Peran BPDP dalam Transformasi SDM Sawit Nasional

Dampak ke Sektor Riil dan Strategi Investasi

Di dalam negeri, pelaku usaha mulai mengambil langkah antisipatif dengan menahan rencana ekspansi besar yang bersifat padat modal. Investasi saat ini mulai bergeser ke sektor-sektor defensif yang dinilai lebih mampu bertahan dari gejolak mata uang dan harga energi. Beberapa sektor yang menjadi primadona baru di tengah krisis ini antara lain sektor pangan, energi alternatif, dan ekonomi digital.

Ibrahim menjelaskan bahwa keputusan bisnis saat ini sangat dipengaruhi oleh perhitungan risiko yang matang akibat tingginya biaya pembiayaan dan volatilitas logistik global. Meskipun kinerja penjualan di semester pertama ini diprediksi stagnan, masih ada harapan untuk perbaikan pada semester II 2026, dengan catatan tidak terjadi eskalasi konflik yang lebih luas.

Baca Juga

Update Harga Perak Antam 29 April 2026: Terkoreksi di Tengah Gejolak Geopolitik Global dan Ancaman Inflasi

Update Harga Perak Antam 29 April 2026: Terkoreksi di Tengah Gejolak Geopolitik Global dan Ancaman Inflasi

Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan terus memantau ekonomi global secara intensif untuk menjaga daya beli masyarakat. Konsumsi domestik tetap menjadi tumpuan utama agar pertumbuhan ekonomi nasional tidak terseret terlalu dalam oleh pusaran krisis global yang sedang berlangsung.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *