Update Harga Perak Antam 29 April 2026: Terkoreksi di Tengah Gejolak Geopolitik Global dan Ancaman Inflasi

Rizky Pratama | InfoNanti
29 Apr 2026, 12:52 WIB
Update Harga Perak Antam 29 April 2026: Terkoreksi di Tengah Gejolak Geopolitik Global dan Ancaman Inflasi

InfoNanti — Dinamika pasar logam mulia kembali menunjukkan wajah yang fluktuatif di penghujung April 2026. PT Aneka Tambang Tbk (Antam) baru saja merilis pembaruan harga untuk komoditas perak, yang mencatatkan penurunan cukup signifikan pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Langkah koreksi ini tampaknya menjadi cerminan dari pergerakan harga emas domestik yang juga sedang melemah, meskipun di sisi lain, pasar internasional justru sedang dilanda gejolak yang mendorong kenaikan instrumen investasi berbasis komoditas.

Berdasarkan pantauan langsung dari data resmi logam mulia, harga perak Antam mengalami penurunan sebesar Rp 1.700, sehingga kini bertengger di level Rp 47.150 per gram. Angka ini turun cukup tajam jika dibandingkan dengan posisi pada hari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 48.850. Bagi para investor, pergerakan ini tentu menjadi catatan penting, mengingat perak sering kali dianggap sebagai alternatif investasi yang lebih terjangkau dibandingkan emas namun tetap memiliki korelasi erat dengan kondisi ekonomi makro.

Baca Juga

Geliat Logistik Nasional: PT INKA Pasok Ratusan Gerbong Datar ‘Made in Banyuwangi’ ke Palembang

Geliat Logistik Nasional: PT INKA Pasok Ratusan Gerbong Datar ‘Made in Banyuwangi’ ke Palembang

Rincian Harga Perak Batangan Antam Hari Ini

Antam sendiri menyediakan berbagai pilihan ukuran bagi masyarakat yang ingin mendiversifikasi portofolionya ke dalam bentuk investasi perak. Untuk perak batangan dengan berat 250 gram, saat ini dipatok pada harga Rp 12.312.500. Sementara itu, bagi mereka yang ingin memiliki simpanan dalam jumlah lebih besar, perak batangan ukuran 500 gram dibanderol dengan harga Rp 23.700.000. Selain bentuk batangan, Antam juga menyediakan butiran perak murni dengan kadar 99,95% sebagai opsi bagi kebutuhan industri maupun koleksi.

Penurunan harga di pasar domestik ini terbilang unik. Sebab, jika kita menengok ke pasar global melalui data Trading Economics, harga perak dunia justru sedang merangkak naik. Pada hari yang sama, perak di pasar internasional diperdagangkan mendekati angka USD 73 per ounce, mencatatkan penguatan sebesar 1,03% ke level USD 73,79. Fenomena anomali ini sering kali terjadi akibat perbedaan sentimen antara nilai tukar rupiah dan permintaan fisik di dalam negeri dibandingkan dengan spekulasi global.

Baca Juga

Strategi Kejutan Indonesia: Mengapa Raksasa Nikel Dunia Berencana Impor dari Filipina?

Strategi Kejutan Indonesia: Mengapa Raksasa Nikel Dunia Berencana Impor dari Filipina?

Konflik AS-Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Mengapa pasar komoditas global begitu membara? Jawabannya terletak pada tensi geopolitik yang kian memanas. Laporan terbaru menunjukkan bahwa perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Situasi ini diperparah dengan penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung, sebuah jalur air paling strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Terhentinya aliran logistik di wilayah tersebut memicu kekhawatiran akut akan lonjakan inflasi global yang sulit dibendung.

Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menyatakan keprihatinannya terhadap situasi ini. Dalam pernyataan resminya, Trump mengungkapkan bahwa pihak Iran sempat meminta pencabutan blokade angkatan laut di Selat Hormuz sebagai syarat negosiasi. Namun, negosiasi yang alot ini justru menyebabkan gangguan pasokan energi yang luar biasa dari Timur Tengah. Data dari International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa penutupan jalur ini telah memutus sekitar 20% aliran minyak mentah dunia, sebuah guncangan pasokan terbesar dalam sejarah modern.

Baca Juga

Membaca Arah Satgas PHK dan Perlindungan Ojol: Antara Penguatan Ekonomi dan Tantangan Keberlanjutan Bisnis

Membaca Arah Satgas PHK dan Perlindungan Ojol: Antara Penguatan Ekonomi dan Tantangan Keberlanjutan Bisnis

Bayang-bayang Suku Bunga dan Kebijakan Bank Sentral

Kenaikan harga minyak yang mencapai lebih dari 3% akibat konflik tersebut secara otomatis menambah tekanan pada biaya hidup masyarakat dunia. Dalam kondisi inflasi yang meninggi, investor kini mulai memperhitungkan kemungkinan bank-bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kebijakan moneter yang ketat ini sejatinya menjadi tantangan bagi logam mulia seperti perak dan emas, karena instrumen ini tidak memberikan imbal hasil bunga secara langsung.

Pekan ini menjadi periode yang krusial karena sejumlah bank sentral utama, mulai dari Federal Reserve di Amerika Serikat, Bank of England di Inggris, European Central Bank di Uni Eropa, hingga Bank of Canada, dijadwalkan untuk mengumumkan keputusan kebijakan moneter mereka. Sementara itu, Bank of Japan sudah lebih dulu memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya di awal pekan. Ketidakpastian mengenai apakah suku bunga akan naik lebih lanjut atau tetap stabil membuat para spekulan bergerak sangat hati-hati.

Baca Juga

Suntikan Dana Segar Rp 11,4 Triliun dari Kejagung, Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Kita Semakin Kokoh

Suntikan Dana Segar Rp 11,4 Triliun dari Kejagung, Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Kita Semakin Kokoh

Emas Ikut Terpuruk ke Level Terendah

Dampak dari kekhawatiran inflasi dan penantian kebijakan The Fed tidak hanya dirasakan oleh perak. Harga emas di pasar spot pun terjun bebas ke level terendahnya dalam hampir empat minggu terakhir. Emas sempat merosot 2,4% ke posisi USD 4.570,34 per ons. Analis senior dari Zaner Metals, Peter Grant, menyebutkan bahwa pesimisme mengenai proses perdamaian di Timur Tengah telah menghidupkan kembali ketakutan pasar. Penolakan pemerintahan Trump terhadap proposal terbaru Iran memastikan bahwa ketegangan di Selat Hormuz akan terus berlanjut.

Kondisi ini menciptakan paradoks bagi emas. Sebagai aset aman (safe haven), emas seharusnya dicari saat terjadi perang. Namun, karena perang kali ini memicu lonjakan harga minyak dan inflasi, pasar lebih khawatir akan respons agresif bank sentral dalam menaikkan suku bunga. Akibatnya, daya tarik emas memudar di mata investor yang lebih memilih memegang uang tunai atau aset yang memberikan bunga tinggi.

Melihat Peran Tiongkok dalam Permintaan Logam Mulia

Di tengah hiruk-pikuk konflik Timur Tengah, Tiongkok sebagai konsumen emas dan perak terbesar di dunia tetap menunjukkan aktivitas yang signifikan. Data dari Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong mengungkapkan bahwa Tiongkok mengimpor bersih 47.866 metrik ton emas dari Hong Kong pada bulan Maret lalu. Angka ini menunjukkan peningkatan dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 46.249 ton.

Permintaan yang tetap kuat dari Negeri Tirai Bambu ini memberikan sedikit napas bagi harga logam mulia agar tidak jatuh terlalu dalam. Konsumsi fisik untuk kebutuhan perhiasan maupun cadangan devisa negara menjadi penyeimbang di tengah tekanan jual yang masif di pasar derivatif Barat. Bagi investor domestik di Indonesia, melihat tren permintaan dari Tiongkok bisa menjadi indikator penting sebelum memutuskan untuk melakukan buyback atau menambah koleksi perak mereka di Antam.

Kesimpulan dan Pandangan ke Depan

Harga perak Antam yang turun hari ini mungkin menjadi kesempatan bagi sebagian pihak untuk melakukan akumulasi. Namun, dengan situasi global yang masih penuh ketidakpastian, kehati-hatian tetap menjadi kunci utama. Konflik di Selat Hormuz bukan sekadar masalah lokal di Timur Tengah, melainkan pemicu domino yang bisa mengubah arah ekonomi dunia dalam sekejap. Selama pasokan energi dunia masih terganggu, inflasi akan tetap membayangi, dan kebijakan bank sentral akan terus menjadi motor penggerak utama volatilitas harga logam mulia.

Ke depan, pasar akan tertuju pada konferensi pers terakhir Jerome Powell sebelum ia menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Bank Sentral AS kepada Kevin Warsh. Pernyataan-pernyataan dalam konferensi tersebut diprediksi akan menjadi kompas bagi arah harga komoditas di bulan Mei mendatang. Tetap pantau perkembangan harga terkini untuk mendapatkan momentum investasi yang paling tepat.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *