Langkah Berani Prabowo Subianto: Pangkas 750 BUMN Demi Efisiensi dan Masa Depan Ekonomi Indonesia

Rizky Pratama | InfoNanti
28 Jun 2026, 12:52 WIB
Langkah Berani Prabowo Subianto: Pangkas 750 BUMN Demi Efisiensi dan Masa Depan Ekonomi Indonesia

InfoNanti — Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, wajah korporasi negara Indonesia tengah bersiap menghadapi perombakan paling radikal dalam sejarah modernnya. Sebuah visi besar untuk merampingkan struktur pemerintahan dan badan usaha kini tengah bergulir kencang. Presiden Prabowo secara terbuka menyatakan ambisinya untuk memangkas jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara drastis, dari ribuan menjadi hanya segelintir perusahaan inti yang benar-benar produktif dan kompetitif.

Dalam sebuah pengumuman yang menggetarkan dunia industri pada penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2026 di JCC Senayan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar efisiensi administratif, melainkan sebuah keharusan moral dan ekonomi. Beliau menargetkan jumlah entitas BUMN yang saat ini masih sangat banyak akan disusutkan hingga menyisakan sekitar 250 perusahaan saja. Ini berarti, sekitar 750 perusahaan pelat merah akan ditutup atau dikonsolidasikan dalam waktu dekat.

Baca Juga

Komitmen Transparansi Danantara: Menata Ulang Arsitektur Ekspor Indonesia Demi Kepercayaan Global

Komitmen Transparansi Danantara: Menata Ulang Arsitektur Ekspor Indonesia Demi Kepercayaan Global

Mengakhiri Era Pemborosan: Mengapa 750 BUMN Harus Ditutup?

Selama puluhan tahun, BUMN Indonesia tumbuh layaknya hutan belantara yang tidak terawat. Terlalu banyak anak dan cucu perusahaan yang dibentuk tanpa tujuan bisnis yang jelas, sehingga menciptakan tumpang tindih fungsi dan beban keuangan yang sangat berat bagi negara. Prabowo menilai, struktur yang terlalu gemuk ini adalah akar dari inefisiensi yang selama ini menghambat akselerasi ekonomi nasional.

“Kita sedang bersihkan, kita sedang tertibkan. Dari lebih 1.000 BUMN, sekarang kita sudah berhasil menutup lebih dari 200. Target akhirnya, kita ingin hanya ada 250 perusahaan yang benar-benar sehat dan fokus,” tegas Presiden dalam pidatonya yang disambut antusias oleh para akademisi dan pelaku industri. Langkah ini diambil agar pemerintah memiliki kontrol yang lebih tajam dan pengelolaan yang jauh lebih terpusat melalui mekanisme tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

Baca Juga

Wajah Baru Gerbang Nusantara: Strategi InJourney Airports Percantik Empat Bandara Internasional Menuju 2026

Wajah Baru Gerbang Nusantara: Strategi InJourney Airports Percantik Empat Bandara Internasional Menuju 2026

Beban Operasional dan Hilangnya Uang Rakyat

Salah satu poin krusial yang disorot oleh Presiden adalah besarnya biaya operasional atau overhead yang harus ditanggung negara hanya untuk menghidupi struktur birokrasi di dalam perusahaan-perusahaan tersebut. Dengan menutup 750 BUMN, pemerintah secara otomatis akan memangkas ribuan posisi direksi dan komisaris yang selama ini memakan anggaran besar tanpa memberikan timbal balik profit yang sepadan.

Prabowo menggambarkan kondisi tersebut dengan angka-angka yang mengejutkan. Bayangkan jika satu perusahaan memiliki 5 direksi dan 10 komisaris, maka dengan menutup 750 perusahaan, ada ribuan jabatan yang dihilangkan. “Ini semua adalah uang rakyat. Perusahaan tidak memberikan untung, tapi hanya digunakan untuk membayar gaji direksi dan komisaris. Kita tidak bisa membiarkan praktik seperti ini berlanjut terus-menerus,” imbuhnya dengan nada tegas.

Baca Juga

Skandal Dugaan Korupsi Kementerian PU: Menteri Dody Hanggodo Beri Lampu Hijau Penggeledahan Ruang Dirjen

Skandal Dugaan Korupsi Kementerian PU: Menteri Dody Hanggodo Beri Lampu Hijau Penggeledahan Ruang Dirjen

Danantara: Mesin Baru Penggerak Laba BUMN

Di tengah upaya pembersihan besar-besaran ini, muncul secercah harapan melalui peran institusi baru yang disebut Danantara. Presiden Prabowo secara khusus memberikan apresiasi tinggi kepada Danantara yang dinilai telah berhasil mengubah mentalitas manajemen BUMN dari sekadar “penghabis anggaran” menjadi entitas yang mampu mencetak laba. Transformasi ini sangat krusial mengingat tantangan ekonomi global yang semakin dinamis.

Dalam setahun terakhir, laporan keuangan konsolidasi BUMN mulai menunjukkan tren positif. Keberhasilan mencetak laba ini menjadi prasyarat mutlak sebelum pemerintah menyetujui usulan pengalokasian dana riset dan inovasi dari laba perusahaan. Prabowo menekankan bahwa riset adalah kunci kemajuan, namun riset hanya bisa berjalan jika perusahaan tersebut dalam kondisi finansial yang sehat. “Terima kasih Danantara. Sekarang mulai ada laba. Dengan adanya profit, baru kita bisa bicara soal alokasi riset dan inovasi nasional,” ujar beliau.

Baca Juga

Wajah Baru Pendidikan di SDN 104 Langensari: Rayakan Hardiknas 2026 Bersama BRI Peduli Melalui Program Ini Sekolahku

Wajah Baru Pendidikan di SDN 104 Langensari: Rayakan Hardiknas 2026 Bersama BRI Peduli Melalui Program Ini Sekolahku

Sinergi dengan Intelektual: Libatkan Profesor di Garis Depan

Strategi Prabowo tidak hanya berhenti pada angka-angka neraca keuangan. Beliau percaya bahwa reformasi reformasi birokrasi dan korporasi harus dilandasi oleh sains dan inovasi. Itulah sebabnya, dalam kabinet dan posisi strategis pemerintahan, Prabowo secara aktif melibatkan para pakar, ilmuwan, dan guru besar dari berbagai universitas terkemuka.

Di hadapan sekitar 2.600 guru besar dan ilmuwan, Presiden menyatakan komitmennya untuk menempatkan para pemikir terbaik bangsa di posisi penentu kebijakan. Beliau meyakini bahwa profesor dan akademisi memiliki kemampuan analitis yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah bangsa secara konkret. Inovasi yang dihasilkan oleh para pemikir ini diharapkan mampu menyuntikkan energi baru ke dalam 250 BUMN yang tetap bertahan nantinya.

Menuju Visi Indonesia Emas 2045

Upaya perampingan ini adalah bagian dari peta jalan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Dengan jumlah BUMN yang lebih sedikit namun lebih kuat, Indonesia diharapkan memiliki “National Champions” yang mampu bersaing di kancah internasional, setara dengan perusahaan global di Singapura atau Tiongkok yang dikelola dengan sangat efisien.

Transparansi dan produktivitas menjadi kata kunci dalam era baru ini. Setiap rupiah uang rakyat yang dikelola oleh negara harus bisa dipertanggungjawabkan manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat luas. Meskipun proses penutupan 750 BUMN ini tidak mudah dan penuh tantangan politik, optimisme Presiden Prabowo menunjukkan bahwa pemerintah tidak akan mundur dalam upaya menciptakan sistem ekonomi yang bersih dan berdaya guna.

Bagi masyarakat luas, langkah ini diharapkan dapat menekan kebocoran anggaran dan mengalihkan dana yang semula digunakan untuk gaji birokrasi BUMN yang tidak produktif, ke sektor-sektor yang lebih mendesak seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur desa. Reformasi BUMN ini bukan sekadar tentang menutup perusahaan, tapi tentang membangun kembali fondasi ekonomi Indonesia yang lebih sehat dan tangguh untuk generasi mendatang.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *