Bahlil Panggil Bos PGN: Respon Cepat Usai Presiden Prabowo Beri Atensi Khusus Soal Lonjakan Harga Gas Industri

Rizky Pratama | InfoNanti
25 Jun 2026, 20:52 WIB
Bahlil Panggil Bos PGN: Respon Cepat Usai Presiden Prabowo Beri Atensi Khusus Soal Lonjakan Harga Gas Industri

InfoNanti — Di tengah deru mesin dan atmosfer optimisme pada peresmian Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, sebuah instruksi mendadak memecah rutinitas seremoni. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, tidak sekadar hadir untuk memotong pita. Di balik senyumnya, tersimpan urgensi besar yang datang langsung dari pucuk pimpinan negara. Presiden Prabowo Subianto secara khusus memberikan atensi pada isu sensitif yang tengah menghantui sektor manufaktur: kenaikan harga gas industri.

Instruksi Langsung di Tengah Agenda Negara

Momen tersebut terekam cukup dramatis. Sesaat setelah menjalankan rangkaian agenda resminya, Bahlil langsung memberikan arahan tegas kepada Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Arief Setiawan Handoko. Tanpa basa-basi, Bahlil meminta Arief untuk segera merapatkan barisan guna mencari jalan keluar atas persoalan harga gas yang mulai mencekik para pelaku usaha.

Baca Juga

Update Harga Emas Antam 25 Juni 2026: Harga Jual Stagnan, Namun Nilai Buyback Merosot Tajam

Update Harga Emas Antam 25 Juni 2026: Harga Jual Stagnan, Namun Nilai Buyback Merosot Tajam

“Pak Arief, habis ini ikut saya. Kita bahas tentang gas untuk industri,” tegas Bahlil dengan nada yang tidak menerima penundaan. Kecepatan Bahlil dalam merespons isu ini bukan tanpa alasan. Ia mengakui bahwa Presiden Prabowo Subianto sempat menghubungi dirinya secara langsung melalui sambungan telepon saat ia masih berada di perjalanan menuju lokasi acara. Hal ini menunjukkan bahwa isu ekonomi nasional yang berkaitan dengan biaya energi menjadi prioritas utama dalam meja kerja kepresidenan saat ini.

Dilema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT)

Pemerintah selama ini telah mengupayakan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar USD 6 per MMBTU untuk mendukung daya saing tujuh sektor industri strategis. Namun, implementasinya kini menghadapi tantangan berat. Bahlil menjelaskan bahwa pasokan dan harga gas industri harus tetap kompetitif agar roda ekonomi terus berputar. Tanpa intervensi yang tepat, produk-produk lokal terancam kalah saing dari produk impor akibat tingginya biaya produksi.

Baca Juga

Prestasi Gemilang: Deretan Bank Indonesia yang Masuk Daftar World’s Best Banks 2026 Versi Forbes

Prestasi Gemilang: Deretan Bank Indonesia yang Masuk Daftar World’s Best Banks 2026 Versi Forbes

Analisis mendalam mengenai kebijakan energi ini menjadi krusial. Bahlil mengungkapkan adanya ketimpangan pasokan yang cukup mencolok antarwilayah. Di Jawa Timur, kondisi harga gas industri terpantau masih relatif stabil karena dukungan infrastruktur dan sumber gas lokal yang masih memadai. Namun, cerita berbeda datang dari wilayah barat pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Banten, Bekasi, hingga Jakarta.

Peralihan ke LNG: Penyelamat Sekaligus Beban

Akar permasalahan di wilayah barat terletak pada menurunnya produksi atau *lifting* gas dari lapangan-lapangan gas yang selama ini menyuplai jaringan pipa. Ketika pasokan gas pipa menyusut, pemerintah dan pelaku usaha tidak memiliki banyak pilihan selain beralih ke Liquefied Natural Gas (LNG) untuk menambal defisit tersebut.

Baca Juga

Menyingkap Rahasia Pendidikan Rusia: Perjalanan InfoNanti Menelusuri Kampus Pencetak Inovator Dunia di Moskow

Menyingkap Rahasia Pendidikan Rusia: Perjalanan InfoNanti Menelusuri Kampus Pencetak Inovator Dunia di Moskow

Secara teknis, proses regasifikasi dan distribusi LNG jauh lebih kompleks dan mahal dibandingkan gas pipa konvensional. Inilah yang menjadi pemicu utama kenaikan harga di tingkat *end-user*. “Terpaksa kami pakai LNG. Sehingga, harganya memang agak naik. Nah, ini yang kita harus cari jalan tengah untuk mendorong ke sana,” jelas Bahlil. Pemerintah kini tengah menggodok strategi agar pemanfaatan LNG tidak terlalu membebani neraca keuangan perusahaan namun tetap menjamin ketersediaan energi bagi sektor manufaktur.

Ancaman PHK Massal di Sektor Keramik

Isu kenaikan harga gas ini bukan sekadar angka di atas kertas laporan keuangan, melainkan menyentuh hajat hidup puluhan ribu pekerja. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri keramik. Kabar mengkhawatirkan datang dari Bekasi, Jawa Barat, di mana salah satu pabrik keramik terbesar dilaporkan berada di ambang kolaps. Kenaikan biaya energi yang tidak terkendali membuat beban operasional membengkak drastis.

Baca Juga

Ambisi Hijau Nusantara: BKPM Tawarkan Karpet Merah Investasi Rp 2.172 Triliun di Sektor Baterai Kendaraan Listrik

Ambisi Hijau Nusantara: BKPM Tawarkan Karpet Merah Investasi Rp 2.172 Triliun di Sektor Baterai Kendaraan Listrik

Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, memberikan sinyal bahaya akan potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap lebih dari 50.000 pekerja. Estimasi waktu yang diberikan sangat sempit, yakni hanya dalam kurun waktu 7 hingga 10 hari jika tidak ada solusi konkret dari pemerintah. Ancaman ini menjadi alarm keras bagi stabilitas tenaga kerja di Indonesia.

Langkah Mitigasi Parlemen dan Pertamina

Merespons situasi darurat ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI tidak tinggal diam. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan kesiapannya untuk melakukan mitigasi cepat. Dasco mengungkapkan rencananya untuk berkoordinasi langsung dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) guna mencari skema harga yang lebih bersahabat bagi industri yang sedang terhimpit.

“Saya sudah janjian dengan perwakilan dari teman-teman serikat pekerja yang terdampak. Kemudian untuk bertemu dengan Dirut Pertamina untuk kemudian membicarakan solusi mengenai perusahaan-perusahaan tadi yang mungkin bisa berdampak terhadap 55 ribu karyawan,” ujar Dasco. Kolaborasi antara legislatif, eksekutif, dan BUMN energi diharapkan mampu melahirkan kebijakan transisi yang mampu melindungi hak-hak buruh sekaligus menjaga kelangsungan bisnis.

Mencari Titik Temu yang Adil

Tugas PGN saat ini adalah memastikan distribusi gas tetap berjalan lancar di tengah keterbatasan pasokan pipa. Di sisi lain, Kementerian ESDM harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan pendapatan negara dari sektor migas dengan kebutuhan industri dalam negeri akan energi murah. Pencarian “jalan tengah” yang disebutkan Bahlil menjadi kunci utama.

Strategi yang mungkin diambil ke depan mencakup optimalisasi infrastruktur gas nasional, percepatan pembangunan pipa transmisi terintegrasi, hingga penyesuaian formula harga yang lebih fleksibel. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa daya saing industri nasional tidak tergerus oleh krisis energi domestik yang sebenarnya bisa dimitigasi sejak dini.

Harapan untuk Masa Depan Industri Nasional

Pertemuan antara Bahlil dan jajaran PGN diharapkan segera membuahkan hasil dalam hitungan hari. Publik dan para pelaku usaha menanti keputusan strategis yang dapat memberikan kepastian hukum dan harga. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, harapan besar disematkan agar kedaulatan energi tidak hanya berfokus pada ekspor, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak industri di tanah air.

Pemerintah berkomitmen bahwa setiap kebijakan yang diambil akan selalu mempertimbangkan aspek perlindungan tenaga kerja. Dengan sinergi yang kuat antara Kementerian ESDM, PGN, Pertamina, dan DPR, krisis harga gas ini diharapkan dapat teratasi tanpa harus mengorbankan mata pencaharian ribuan keluarga yang bergantung pada sektor industri keramik dan manufaktur lainnya.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *