Ethereum Berada di Persimpangan Kritis: Akankah ETH Terjun Bebas ke Level US$ 1.200?

Andi Saputra | InfoNanti
25 Jun 2026, 18:51 WIB
Ethereum Berada di Persimpangan Kritis: Akankah ETH Terjun Bebas ke Level US$ 1.200?

InfoNanti — Dinamika pasar kripto global kembali menyuguhkan drama yang mendebarkan bagi para investor, terutama bagi mereka yang menggantungkan portofolionya pada Ethereum (ETH). Sebagai aset digital terbesar kedua di dunia, pergerakan Ethereum sering kali dianggap sebagai barometer kesehatan pasar altcoin secara keseluruhan. Namun, laporan terbaru memberikan sinyal kuning yang cukup mencolok. Ethereum kini tengah berdiri di tepi jurang teknikal yang sangat krusial, di mana kegagalan mempertahankan posisi saat ini bisa memicu aksi jual besar-besaran yang membawa harganya kembali ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Perusahaan riset aset kripto terkemuka, 10X Research, baru-baru ini merilis peringatan keras mengenai prospek jangka pendek harga ethereum. Dalam analisis mereka, disebutkan bahwa jika Ethereum tidak mampu bertahan di atas level dukungan (support) psikologis US$ 1.600, maka ada risiko nyata harga aset ini akan merosot hingga menyentuh US$ 1.200. Angka tersebut bukanlah sembarang angka; level itu merupakan titik di mana pasar berusaha merangkak naik setelah dihantam badai kolapsnya bursa kripto FTX pada akhir 2022 silam.

Baca Juga

Update Terkini Harga Kripto: Bitcoin dan Ethereum Terjungkal, Benarkah Ini Sinyal Aksi Ambil Untung Masif?

Update Terkini Harga Kripto: Bitcoin dan Ethereum Terjungkal, Benarkah Ini Sinyal Aksi Ambil Untung Masif?

Sinyal Bearish dari Indikator Teknikal

Secara teknikal, kondisi Ethereum saat ini memang terlihat kurang menguntungkan. Berdasarkan data terbaru dari CoinMarketCap, pasangan perdagangan ETH/USDT terus menunjukkan tren pelemahan. Salah satu indikator yang paling disoroti oleh para analis adalah posisi harga yang kini berada di bawah rata-rata pergerakan (moving average) tujuh hari (MA-7) dan tiga puluh hari (MA-30). Dalam dunia analisis teknikal, situasi ini sering kali diinterpretasikan sebagai dominasi kuat dari pihak penjual (bears), yang mengindikasikan bahwa tekanan jual masih jauh lebih besar dibandingkan minat beli di pasar.

Selama sepekan terakhir saja, Ethereum sudah mencatatkan koreksi sekitar 7,4 persen. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan cerminan dari kecemasan pelaku pasar terhadap minimnya katalis positif yang mampu mengangkat harga. Jika level support US$ 1.600 benar-benar ditembus, maka secara matematis Ethereum berpotensi mengalami penurunan tambahan sebesar 25 persen. Hal ini tentu menjadi alarm bagi para trader yang memanfaatkan strategi jangka pendek dalam melakukan investasi kripto mereka.

Baca Juga

Sasar Generasi Perak, Kerugian Penipuan Kripto pada Lansia AS Tembus Rp 75 Triliun di 2025

Sasar Generasi Perak, Kerugian Penipuan Kripto pada Lansia AS Tembus Rp 75 Triliun di 2025

Guncangan dari Dalam: Masalah Fundamental Ethereum Foundation

Selain tekanan yang terlihat pada grafik harga, Ethereum juga sedang berjuang melawan badai internal yang bersifat fundamental. Kabar mengenai kebijakan Ethereum Foundation yang melakukan pengurangan jumlah karyawan hingga 20 persen telah mengirimkan gelombang kejutan ke komunitas pengembang. Restrukturisasi organisasi ini dilakukan dengan alasan efisiensi operasional, namun pasar menangkapnya sebagai sinyal adanya tantangan finansial atau perubahan fokus strategis yang mungkin berdampak pada pengembangan jaringan di masa depan.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah keputusan untuk menghentikan sementara program insentif bagi para pengembang inti (core developers). Padahal, inovasi dan pembaruan jaringan adalah nyawa dari Ethereum agar tetap kompetitif di tengah bermunculannya jaringan blockchain baru yang lebih cepat dan murah. Jika para pengembang merasa kurang diapresiasi atau tidak memiliki dukungan finansial yang cukup, kekhawatiran akan stagnasi teknologi pada jaringan Ethereum pun menjadi topik hangat di berbagai forum diskusi kripto.

Baca Juga

Gugatan Raksasa di New York: Masa Depan Coinbase dan Gemini Terancam di Tengah Polemik Pasar Prediksi

Gugatan Raksasa di New York: Masa Depan Coinbase dan Gemini Terancam di Tengah Polemik Pasar Prediksi

Sentimen Institusi dan Rapor Merah ETF Ethereum

Harapan bahwa peluncuran produk Spot Ethereum Exchange Traded Fund (ETF) akan menjadi pendorong harga seperti halnya Bitcoin, nampaknya belum membuahkan hasil yang manis. Sebaliknya, data menunjukkan adanya arus dana keluar (outflow) yang konsisten dari produk ETF berbasis Ethereum. Fenomena ini berbanding terbalik dengan ETF Bitcoin yang justru masih menunjukkan permintaan yang relatif stabil dan kuat dari para investor institusi.

Outflow yang terus berlanjut ini mengindikasikan bahwa investor besar masih bersikap sangat berhati-hati atau bahkan cenderung skeptis terhadap prospek jangka pendek Ethereum. Kurangnya kepercayaan dari sisi institusi ini membuat Ethereum kehilangan salah satu pilar pendukung harganya, sehingga aset ini menjadi lebih rentan terhadap sentimen negatif sekecil apa pun yang muncul di pasar global.

Baca Juga

Guncangan Pasar Kripto: ETF Bitcoin Catat Rekor Arus Keluar Terbesar Ketiga Sepanjang Sejarah

Guncangan Pasar Kripto: ETF Bitcoin Catat Rekor Arus Keluar Terbesar Ketiga Sepanjang Sejarah

Faktor Makroekonomi dan Dominasi Dolar AS

Tidak bisa dipungkiri bahwa aset kripto tidak bergerak di ruang hampa. Kondisi ekonomi global, khususnya kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat, memegang peranan vital. Dengan inflasi yang masih menjadi tantangan dan suku bunga yang diprediksi tetap tinggi untuk jangka waktu lebih lama, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven). Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, dolar Amerika Serikat cenderung menguat, dan ini sering kali berbanding terbalik dengan performa aset berisiko seperti kripto.

Lingkungan investasi yang bersifat “risk-off” atau menghindari risiko ini sangat memberatkan bagi Ethereum. Tanpa adanya narasi baru yang kuat, harga ETH kemungkinan besar akan terus mengekor pada volatilitas pasar saham global dan pergerakan indeks dolar. Jika pasar global mengalami guncangan lebih lanjut, target penurunan ke angka US$ 1.200 bukanlah sesuatu yang mustahil untuk terjadi dalam waktu dekat.

Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Melihat situasi yang penuh ketidakpastian ini, 10X Research dan banyak pengamat pasar lainnya menyarankan agar para pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan. Menjaga manajemen risiko (risk management) menjadi kunci utama untuk bertahan. Penggunaan stop-loss yang ketat dan tidak terburu-buru melakukan “buy the dip” sebelum ada konfirmasi pembalikan arah yang jelas adalah langkah yang bijak.

Meskipun peluang untuk pemulihan tetap terbuka lebar jika Ethereum mampu bertahan di atas level US$ 1.600 dan mendapatkan momentum dari pembaruan teknologi atau perubahan kebijakan makro, dominasi sentimen bearish saat ini sulit untuk diabaikan. Selalu ingat bahwa pasar kripto sangat volatil dan penuh risiko. Setiap keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing individu, sehingga riset mendalam dan analisis mandiri sebelum melakukan transaksi aset digital sangatlah diwajibkan.

Ethereum mungkin sedang berada di masa sulit, namun sejarah telah menunjukkan bahwa aset ini memiliki daya tahan yang luar biasa. Pertanyaannya sekarang, apakah US$ 1.600 akan menjadi benteng pertahanan terakhir, ataukah kita harus bersiap menyambut Ethereum di level US$ 1.200 sekali lagi?

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *