Sasar Generasi Perak, Kerugian Penipuan Kripto pada Lansia AS Tembus Rp 75 Triliun di 2025

Andi Saputra | InfoNanti
13 Apr 2026, 10:22 WIB
Sasar Generasi Perak, Kerugian Penipuan Kripto pada Lansia AS Tembus Rp 75 Triliun di 2025

InfoNantiMasa tua yang seharusnya menjadi momen ketenangan, kini justru dihantui oleh ancaman siber yang kian canggih. Sebuah tren mengkhawatirkan muncul di Amerika Serikat, di mana warga berusia 60 tahun ke atas atau kelompok lansia menjadi target utama dengan nilai kerugian finansial yang sangat fantastis akibat penipuan kripto.

Rekor Kerugian yang Memilukan

Berdasarkan data yang dihimpun tim redaksi, kelompok lansia di AS mencatatkan diri sebagai pelapor kerugian terbesar dibandingkan kelompok usia lainnya. Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 44.555 pengaduan yang masuk dengan total nilai kerugian mencapai USD 4,4 miliar atau setara dengan Rp 75,21 triliun (asumsi kurs Rp 17.090 per dolar AS).

Angka ini menunjukkan lonjakan tajam sebesar 56% dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar USD 2,84 miliar. Jika ditarik ke ranah kejahatan internet secara luas, total kerugian yang dialami para lansia menyentuh angka USD 7,8 miliar (Rp 133,33 triliun). Mirisnya, sekitar 12.444 korban lansia masing-masing harus kehilangan tabungan mereka lebih dari USD 100.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar akibat jeratan investasi kripto bodong.

Baca Juga

Mirae Asset Siap Gebrak Pasar Kripto Ritel Hong Kong: Revolusi Integrasi Aset Digital dan Tradisional

Mirae Asset Siap Gebrak Pasar Kripto Ritel Hong Kong: Revolusi Integrasi Aset Digital dan Tradisional

Laporan IC3: Gelombang Kejahatan Internet Kian Masif

Pusat Pengaduan Kejahatan Internet atau Internet Crime Complaint Center (IC3) melaporkan bahwa secara keseluruhan, kerugian akibat penipuan di sektor aset digital mencapai rekor baru senilai USD 11,36 miliar pada 2025. Angka ini menyumbang lebih dari separuh total kerugian kejahatan internet nasional yang dilacak oleh FBI, yakni sebesar USD 20,9 miliar.

Peningkatan volume pengaduan juga cukup signifikan. IC3 menerima lebih dari 181 ribu laporan terkait kripto, naik 21% dari tahun sebelumnya. Fenomena ini menandai sejarah baru bagi lembaga tersebut, di mana untuk pertama kalinya jumlah total pengaduan melampaui angka satu juta dalam kurun waktu 25 tahun operasionalnya.

Modus Operandi: Dari Sindikat Asia Tenggara hingga Peran AI

FBI mengidentifikasi bahwa sebagian besar skema penipuan ini digerakkan oleh organisasi kriminal terorganisir yang berbasis di Asia Tenggara, khususnya di kompleks penipuan Kamboja, Laos, dan Myanmar. Mereka sering kali memanfaatkan tenaga kerja hasil perdagangan manusia untuk menjalankan aksi tipu-tipu secara masif.

Baca Juga

Revolusi Remitansi Global: Western Union Siap Debut di Dunia Kripto dengan Stablecoin USDPT pada 2026

Revolusi Remitansi Global: Western Union Siap Debut di Dunia Kripto dengan Stablecoin USDPT pada 2026

Selain itu, muncul tren baru yang melibatkan teknologi mutakhir. Untuk pertama kalinya, IC3 memasukkan kategori kecerdasan buatan (AI) dalam laporannya. Tercatat kerugian sebesar USD 893 juta terkait penggunaan AI dalam penipuan, di mana sebagian besar juga melibatkan transaksi kripto. AI digunakan untuk menciptakan narasi investasi yang lebih meyakinkan sehingga korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dijebak.

Ancaman Melalui ATM Kripto dan Modus ‘Recovery’

Metode konvensional melalui fisik pun tidak luput dari perhatian pelaku kejahatan. Penipuan yang memanfaatkan kios atau ATM mata uang kripto terus meningkat dengan kerugian mencapai USD 389 juta. Lansia kembali menjadi korban dominan di sini dengan total kerugian mencapai USD 257,4 juta.

Baca Juga

Eksodus Penambang Bitcoin ke Sektor AI: Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Pasar Kripto

Eksodus Penambang Bitcoin ke Sektor AI: Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Pasar Kripto

Tak berhenti di situ, muncul pula modus ‘penipuan pemulihan’ (recovery scam). Dalam skema ini, penipu menyamar sebagai firma hukum atau pejabat pemerintah yang menjanjikan pengembalian dana bagi mereka yang sebelumnya pernah tertipu. Alih-alih mendapatkan uangnya kembali, korban justru diperas untuk mengeluarkan dana tambahan yang totalnya mencapai USD 1,4 miliar secara nasional.

Langkah Intervensi dan Wilayah Terdampak

Meskipun situasi tampak kelam, otoritas terkait tidak tinggal diam. Tim Pemulihan Aset IC3 berhasil membekukan dana sekitar USD 679 juta melalui ribuan tindakan intervensi. Program proaktif bernama ‘Operasi Level Up’ juga berhasil memberi peringatan kepada ribuan korban sebelum mereka kehilangan lebih banyak dana.

Secara geografis, California memimpin daftar negara bagian dengan kerugian kripto terbesar mencapai USD 2,09 miliar, disusul oleh Texas, Florida, dan New York. Oregon juga mencatatkan angka yang mengejutkan, di mana meskipun volume pengaduannya lebih sedikit, namun nilai kerugian per individunya tercatat sangat tinggi.

Baca Juga

Update Pasar Kripto 13 Mei 2026: Bitcoin Bertahan di Level $80 Ribu, Mayoritas Altcoin Terkoreksi Tajam

Update Pasar Kripto 13 Mei 2026: Bitcoin Bertahan di Level $80 Ribu, Mayoritas Altcoin Terkoreksi Tajam

Fenomena ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat global akan pentingnya edukasi digital, terutama bagi kelompok usia rentan, agar tidak mudah tergiur oleh janji keuntungan instan di ekosistem digital yang dinamis namun penuh risiko.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *