Kontroversi Roman Gofman: Tangan Kanan Netanyahu yang Kini Nakhodai Mossad

Siti Rahma | InfoNanti
13 Apr 2026, 08:52 WIB
Kontroversi Roman Gofman: Tangan Kanan Netanyahu yang Kini Nakhodai Mossad

InfoNanti — Panggung intelijen global tengah menyoroti langkah strategis Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang secara resmi menunjuk Mayor Jenderal Roman Gofman sebagai Direktur Mossad yang baru. Keputusan krusial ini, yang telah mendapat lampu hijau dari Komite Penasihat Penunjukan Senior, memicu gelombang diskusi hangat di kalangan elite keamanan karena rekam jejak Gofman yang dianggap sarat akan catatan kontroversial.

Gofman dijadwalkan akan mengambil alih kursi kepemimpinan lembaga mata-mata paling berpengaruh di dunia tersebut pada 2 Juni mendatang, menggantikan David Barnea. Dengan masa jabatan lima tahun di depannya, ia memikul tanggung jawab besar di tengah eskalasi keamanan internasional yang kian tidak menentu.

Bayang-bayang Skandal Ori Elmakayes

Penunjukan Gofman tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Komite penasihat yang dipimpin oleh mantan Presiden Mahkamah Agung, Asher Grunis, sempat membedah kembali insiden kelam pada tahun 2022. Kala itu, saat menjabat sebagai Komandan Divisi Bashan, Gofman dituding terlibat dalam perekrutan remaja berusia 17 tahun, Ori Elmakayes, untuk misi operasi pengaruh di media sosial yang menyasar Iran dan proksinya.

Baca Juga

Misi Damai Islamabad: Mengapa Iran Percayakan Pakistan sebagai Jembatan Dialog dengan Amerika Serikat?

Misi Damai Islamabad: Mengapa Iran Percayakan Pakistan sebagai Jembatan Dialog dengan Amerika Serikat?

Misi tersebut berakhir berantakan ketika Elmakayes ditangkap dan dipenjara selama 18 bulan atas tuduhan membocorkan rahasia negara. Gofman berdalih tidak mengetahui usia asli remaja tersebut, namun publik kadung skeptis. Elmakayes sendiri secara terbuka melontarkan kritik pedas melalui platform X, menyebut penunjukan Gofman sebagai ancaman bagi integritas intelijen Israel. Menurutnya, seseorang yang gagal melindungi aset sipil di masa lalu tidak layak memimpin agen-agen rahasia di medan operasi.

Pertaruhan Antara Loyalitas dan Kompetensi Spionase

Selain skandal masa lalu, kritik tajam juga datang dari internal komunitas keamanan. Sejumlah pejabat senior menyayangkan pemilihan Gofman yang dianggap kurang memiliki latar belakang operasional intelijen murni. Karier Gofman lebih banyak dihabiskan di unit tempur Korps Lapis Baja dan jabatan birokrasi militer sebagai Sekretaris Militer Perdana Menteri.

Baca Juga

Mengenal ‘Garis Kuning’ Israel di Lebanon: Zona Penyangga Mematikan yang Mengancam Gencatan Senjata

Mengenal ‘Garis Kuning’ Israel di Lebanon: Zona Penyangga Mematikan yang Mengancam Gencatan Senjata

Kedekatan emosional dan politiknya dengan Netanyahu memang tidak terbantahkan. Sebagai orang kepercayaan, Gofman sering kali menjadi ujung tombak dalam mengawasi implementasi arahan perdana menteri di tubuh militer. Namun, bagi para kritikus, memimpin Mossad membutuhkan intuisi spionase yang jauh melampaui loyalitas politik atau kepemimpinan tempur konvensional.

Rekam Jejak Tempur dan Pandangan Keras Terhadap Gaza

Meski menuai polemik, Gofman adalah sosok yang dikenal memiliki nyali di lapangan. Pada peristiwa serangan 7 Oktober 2023, ia terjun langsung ke garis depan dan mengalami luka serius dalam baku tembak melawan militan di dekat perbatasan Gaza. Keberanian fisik ini menjadi poin plus yang sering dibanggakan oleh para pendukungnya.

Baca Juga

Jejak Langkah George Washington: Kilas Balik Inaugurasi Presiden Pertama Amerika Serikat pada 30 April 1789

Jejak Langkah George Washington: Kilas Balik Inaugurasi Presiden Pertama Amerika Serikat pada 30 April 1789

Secara ideologis, Gofman dikenal sebagai penganut garis keras. Ia pernah menyusun dokumen strategis yang menyarankan agar militer tetap memegang kendali penuh atas Gaza pasca-konflik, sebuah posisi yang sangat selaras dengan visi politik Perdana Menteri Netanyahu. Kini, dunia menanti apakah di bawah nakhoda Gofman, Mossad akan semakin tajam dalam operasi rahasianya atau justru terjebak dalam turbulensi internal akibat penunjukannya yang kontroversial.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *