Gejolak Harga Pangan Nasional: Cabai Rawit Merah Meroket, Menilik Rencana Strategis Bulog Lewat Beraskita Premium
InfoNanti — Dinamika pasar pangan di tanah air kembali menunjukkan tren yang cukup menantang bagi kantong masyarakat di akhir pekan ini. Memasuki pertengahan tahun 2026, sejumlah komoditas bahan pokok terpantau mengalami fluktuasi harga yang signifikan. Berdasarkan pantauan terkini yang dihimpun oleh tim redaksi kami, lonjakan paling mencolok terjadi pada sektor hortikultura, khususnya kelompok cabai yang semakin “pedas” bagi dompet konsumen di Jakarta dan sekitarnya.
Hingga Sabtu, 20 Juni 2026, data yang dirilis melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah telah menembus angka Rp 76.300 per kilogram. Kenaikan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan representasi dari beban biaya hidup yang harus ditanggung oleh rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner skala kecil. Situasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya efek domino terhadap inflasi pangan dalam waktu dekat.
Kebijakan Impor Baru Kemendag: Langkah Strategis Menuju Swasembada Pangan dan Perlindungan Petani Lokal
Rincian Harga Bumbu Dapur: Cabai dan Bawang Masih Fluktuatif
Tak hanya cabai rawit merah yang mengalami tekanan harga. Pantauan lapangan menunjukkan bahwa varian cabai lainnya juga tidak mau kalah dalam urusan kenaikan harga. Cabai merah besar kini dipatok di kisaran Rp 57.700 per kilogram, disusul oleh cabai merah keriting yang bertengger di harga Rp 55.500 per kilogram. Sementara itu, bagi masyarakat yang mengandalkan cabai rawit hijau untuk kebutuhan harian, harus bersiap merogoh kocek sebesar Rp 54.950 per kilogram.
Sektor bumbu dapur lainnya seperti bawang merah dan bawang putih juga menunjukkan angka yang belum stabil. Di tingkat pedagang eceran secara nasional, bawang merah tercatat berada di level Rp 53.650 per kilogram, sedangkan bawang putih sedikit lebih rendah namun tetap terasa berat di harga Rp 41.100 per kilogram. Kondisi ini memaksa para ibu rumah tangga untuk lebih kreatif dalam mengatur strategi belanja harian agar kebutuhan gizi keluarga tetap terpenuhi tanpa menguras tabungan.
Rupiah Tunjukkan Taji di Level 17.689, Momentum Damai Timur Tengah Tekan Dominasi Dolar AS
Stabilitas Harga Beras: Antara Kualitas Bawah hingga Super
Sebagai komoditas paling vital, harga beras terus menjadi perhatian utama pemerintah. InfoNanti mencatat adanya segmentasi harga yang cukup lebar berdasarkan kualitas yang ditawarkan kepada konsumen. Untuk beras kualitas bawah I, harga saat ini stabil di angka Rp 14.650 per kilogram, sementara kualitas bawah II dibanderol Rp 14.600 per kilogram.
Beralih ke kategori yang paling banyak dikonsumsi masyarakat menengah, yakni beras kualitas medium I, harganya kini telah menyentuh Rp 16.300 per kilogram, dengan kualitas medium II menyusul di angka Rp 16.100 per kilogram. Di kasta tertinggi, beras kualitas super I dipasarkan dengan harga Rp 17.550 per kilogram, dan super II di harga Rp 17.100 per kilogram. Perbedaan harga yang tipis antar kelas ini seringkali membuat konsumen bingung dalam menentukan pilihan terbaik antara kualitas dan efisiensi anggaran.
Tren Positif Logam Mulia: Harga Perak Antam Melonjak, Jadi Primadona Alternatif Investasi 2026
Daging dan Telur: Sumber Protein yang Kian Mahal
Beralih ke komoditas protein, harga telur ayam ras di wilayah Jakarta terpantau berada di angka Rp 29.950 per kilogram pada pantauan Sabtu pagi pukul 09.30 WIB. Kenaikan tipis ini biasanya dipicu oleh biaya pakan ternak yang juga mengalami penyesuaian harga di tingkat produsen. Sementara itu, harga daging ayam ras segar dibanderol Rp 37.100 per kilogram, sebuah angka yang masih dianggap wajar namun tetap perlu diwaspadai jika terjadi lonjakan mendadak.
Untuk sektor daging merah, masyarakat harus menyiapkan anggaran lebih. Daging sapi kualitas I kini dipasarkan dengan harga mencapai Rp 149.300 per kilogram, sedangkan untuk kualitas II berada di posisi Rp 140.500 per kilogram. Harga ini mencerminkan tingginya biaya logistik dan distribusi daging dari rumah potong hewan ke pasar-pasar tradisional yang tersebar di wilayah ibu kota.
PLN Akselerasi Transisi Energi: 97 Proyek Kelistrikan Mulai Dilelang, Investasi Tembus Rp291 Triliun
Gula dan Minyak Goreng: Kebutuhan Dasar yang Terus Dipantau
Komoditas pemanis dan minyak goreng juga tak luput dari pemantauan intensif. Gula pasir kualitas premium tercatat menyentuh Rp 20.300 per kilogram, sementara gula pasir lokal yang lebih ekonomis berada di harga Rp 19.100 per kilogram. Di sisi lain, minyak goreng tetap menjadi komoditas sensitif. Minyak goreng curah saat ini dijual dengan harga Rp 20.600 per liter. Bagi mereka yang lebih memilih kemasan bermerek, minyak goreng kemasan merek I dipatok Rp 24.200 per liter, dan merek II di harga Rp 23.350 per liter.
Inovasi Bulog: Menanti Persetujuan Program Beraskita Premium
Melihat tren kenaikan harga beras, khususnya di kategori premium, Perum Bulog tidak tinggal diam. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, secara resmi telah mengusulkan sebuah program terobosan yang diberi nama “Beraskita Premium”. Langkah strategis ini diusulkan langsung kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, sebagai upaya konkret untuk meredam gejolak harga di pasaran.
Program ini dirancang berkaca pada kesuksesan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang telah lebih dulu hadir untuk kategori beras medium. Rizal menekankan bahwa saat ini beras premium tengah mengalami tren kenaikan harga yang cukup signifikan, sehingga diperlukan instrumen penyeimbang agar harga di tingkat konsumen tetap terkendali.
“Kami telah menyarankan kepada Menko Pangan dalam rapat koordinasi terbaru untuk meluncurkan Beraskita Premium. Harapannya, produk ini bisa menjadi jangkar stabilisasi sebagaimana SPHP bekerja pada kelas beras medium,” ungkap Rizal saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan. Menurutnya, kepastian peluncuran program ini hanya tinggal menunggu ketuk palu dari pihak kementerian.
Target Harga dan Harapan untuk Masyarakat
Rencananya, Beraskita Premium akan dilepas ke pasar dengan mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah, yakni sekitar Rp 14.900 per kilogram. Angka ini dinilai jauh lebih kompetitif dibandingkan harga beras premium di pasaran saat ini yang sudah menembus angka Rp 17.000-an. Sebagai perbandingan, beras SPHP Bulog saat ini dijual di kisaran Rp 12.500 per kilogram untuk menjaga stabilitas kelas medium.
Melalui langkah ini, Bulog berharap masyarakat tidak perlu merasa cemas akan ketersediaan beras berkualitas dengan harga terjangkau. “Tujuan utama kami adalah memberikan ketenangan bagi masyarakat. Dengan adanya pilihan beras premium yang harganya dipatok pemerintah, maka otomatis harga-harga lain di pasar akan cenderung ikut stabil,” tambah Rizal. Jika disetujui dalam waktu dekat, program ini ditargetkan mulai berjalan as soon as possible untuk merespons kebutuhan mendesak di lapangan.
Kesimpulannya, kondisi harga pangan hari ini memang menunjukkan beberapa tantangan nyata, mulai dari mahalnya cabai hingga strategi baru pada komoditas beras. Namun, dengan koordinasi yang kuat antara lembaga pangan dan pemerintah, diharapkan stabilitas harga dapat segera tercapai demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Indonesia.