Bitcoin atau Ethereum: Menakar Siapa yang Akan Menyentuh ‘Bottom’ Terlebih Dahulu di Tengah Gejolak Pasar

Andi Saputra | InfoNanti
20 Jun 2026, 10:51 WIB
Bitcoin atau Ethereum: Menakar Siapa yang Akan Menyentuh 'Bottom' Terlebih Dahulu di Tengah Gejolak Pasar

InfoNanti — Dinamika pasar mata uang digital kembali memasuki fase krusial yang membuat banyak investor menahan napas. Dua raksasa utama, Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), baru-baru ini menunjukkan tren koreksi yang cukup tajam, memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat pasar mengenai kapan fase terendah atau ‘bottom’ akan benar-benar tercapai. Sejak awal Juni, kedua aset ini telah mengalami fluktuasi signifikan yang membawa mereka ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, namun pertanyaannya tetap sama: apakah ini akhir dari penurunan, atau justru hanya awal dari kejatuhan yang lebih dalam?

Mencari Titik Terendah di Tengah Ketidakpastian Global

Pasar kripto sering kali bergerak dalam siklus yang sulit ditebak, namun para analis profesional selalu mencoba membedah pola tersebut melalui kacamata teknikal dan fundamental. Di tengah situasi ekonomi makro yang belum stabil, investasi kripto kini dihadapkan pada tantangan likuiditas. Banyak analis berpendapat bahwa meskipun harga sudah terkoreksi cukup dalam, pasar belum sepenuhnya mencapai titik nadir pada siklus kali ini.

Baca Juga

Update Harga Kripto 27 April 2026: Bitcoin Melaju ke Rp 1,34 Miliar, Sinyal Bullish Dominasi Pasar

Update Harga Kripto 27 April 2026: Bitcoin Melaju ke Rp 1,34 Miliar, Sinyal Bullish Dominasi Pasar

Perdebatan mengenai aset mana yang akan ‘menyerah’ lebih dulu pada tekanan jual—apakah Bitcoin sebagai emas digital atau Ethereum sebagai tulang punggung ekosistem DeFi—menjadi topik utama di berbagai forum diskusi. Kondisi ini dipicu oleh sentimen global yang beragam, mulai dari kebijakan suku bunga The Fed hingga regulasi ketat yang mulai diterapkan oleh negara-negara seperti Prancis terhadap industri digital.

Ethereum di Bawah Tekanan: Prediksi Menuju Level US$ 1.200

Analis kripto ternama yang dikenal dengan nama Ted memberikan sorotan khusus terhadap Ethereum. Melalui observasinya, ia menilai bahwa Ethereum memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk menemukan titik ‘bottom’ lebih cepat dibandingkan Bitcoin. Hal ini didasarkan pada penyerapan likuiditas di sisi bawah yang dinilai sudah cukup masif. Ted memproyeksikan bahwa harga Ethereum masih berpotensi tergelincir ke kisaran US$ 1.300 hingga US$ 1.400 sebelum akhirnya menemukan pijakan yang kuat.

Baca Juga

AS Hantam Jantung Kripto Iran: Nobitex dan Platform Utama Masuk Daftar Hitam Departemen Keuangan

AS Hantam Jantung Kripto Iran: Nobitex dan Platform Utama Masuk Daftar Hitam Departemen Keuangan

“Setelah likuiditas di bawah tersapu bersih, perhatian pasar akan beralih ke sisi atas yang terlihat jauh lebih menarik untuk dieksplorasi,” ungkap Ted dalam catatannya. Namun, perjalanan menuju pemulihan tersebut tidak akan mudah. Saat ini, ETH tengah berjuang di bawah level psikologis US$ 1.700. Jika aset ini gagal merebut kembali posisi tersebut dalam waktu dekat, ada risiko pelemahan tambahan sekitar 5% hingga 6% yang menghantui para pemegang aset.

Analisa Teknikal: Sinyal Bearish yang Menghantui ETH

Tidak hanya Ted, analis kawakan Ali Martinez juga memberikan peringatan serupa. Berdasarkan analisa teknikal kripto, Martinez mengamati bahwa Ethereum sedang bergerak keluar dari pola kanal pergerakannya yang stabil. Lebih mengkhawatirkan lagi, ETH kini diperdagangkan di bawah indikator Simple Moving Average (SMA) 200 jam—sebuah indikator yang sering digunakan jurnalis keuangan dan trader untuk mengukur tren jangka panjang.

Baca Juga

Update Harga Kripto 27 Mei 2026: Bitcoin Terpeleset ke Level USD 75.000, Zcash Alami Pendarahan Hebat

Update Harga Kripto 27 Mei 2026: Bitcoin Terpeleset ke Level USD 75.000, Zcash Alami Pendarahan Hebat

Kondisi ini memperkuat prediksi bahwa harga dapat merosot hingga ke level US$ 1.580. Sementara itu, analis lain bernama Niels memiliki pandangan yang lebih ekstrem namun optimis dalam jangka panjang. Niels memperkirakan Ethereum bahkan bisa menyentuh angka US$ 1.200 di tahun ini. Meski terdengar menakutkan bagi trader harian, bagi Niels, level harga tersebut adalah ‘golden opportunity’ atau peluang akumulasi bagi mereka yang percaya pada prospek jangka panjang teknologi blockchain Ethereum.

Bitcoin dan Bayang-bayang Level US$ 43.000

Beralih ke sang raja kripto, Bitcoin pun tidak luput dari badai. Sempat anjlok ke area US$ 59.000 pada awal Juni, Bitcoin mencatatkan performa terendahnya sejak akhir tahun 2024. Namun, para ahli melihat bahwa level ini belum cukup kuat untuk dikatakan sebagai titik terendah absolut. Ted mengidentifikasi adanya klaster likuiditas besar yang ‘menunggu’ di kisaran US$ 50.000 hingga US$ 60.000, di mana tumpukan pesanan beli (buy orders) terlihat sangat padat di berbagai bursa global.

Baca Juga

Revolusi Remitansi Global: Western Union Siap Debut di Dunia Kripto dengan Stablecoin USDPT pada 2026

Revolusi Remitansi Global: Western Union Siap Debut di Dunia Kripto dengan Stablecoin USDPT pada 2026

Proyeksi yang lebih pesimistis datang dari analis bernama Bee dan Crypto Lens. Bee melihat adanya potensi penurunan hingga ke angka US$ 51.000, sementara Crypto Lens memberikan peringatan keras bahwa harga Bitcoin bisa saja terjun bebas ke level US$ 43.000 pada bulan Agustus mendatang. Sentimen bearish ini didorong oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelanjutan kebijakan moneter yang ketat di Amerika Serikat.

Sisi Terang: Penurunan Cadangan Bitcoin di Bursa

Di balik semua proyeksi harga yang memerah, InfoNanti menemukan satu data menarik yang memberikan secercah harapan bagi para ‘bulls’. Jumlah Bitcoin yang tersimpan di bursa kripto (exchange reserves) dilaporkan telah menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir. Fenomena ini biasanya menandakan bahwa investor besar atau ‘whales’ sedang memindahkan aset mereka ke dompet dingin (cold storage) untuk disimpan dalam jangka panjang.

Penurunan suplai di bursa secara teori akan mengurangi tekanan jual di pasar spot. Jika permintaan kembali meningkat sementara barang yang tersedia di bursa menipis, maka potensi ‘supply shock’ bisa terjadi, yang pada gilirannya akan mendorong harga naik secara tiba-tiba. Ini adalah sebuah narasi perlawanan yang sering kali muncul tepat saat sentimen publik berada di titik paling pesimistis.

Kesimpulan Bagi Investor

Pertarungan antara Bitcoin dan Ethereum untuk mencapai titik terendah adalah cerminan dari kematangan pasar yang sedang diuji. Ethereum mungkin akan menyentuh ‘bottom’ lebih cepat karena volatilitasnya yang lebih tinggi dan ketergantungannya pada ekosistem aplikasi, sementara Bitcoin mungkin akan bergerak lebih lambat namun pasti dalam mencari pijakan di atas level US$ 50.000.

Bagi Anda yang terus memantau berita kripto terbaru, penting untuk diingat bahwa volatilitas adalah bagian tak terpisahkan dari industri ini. Menggunakan strategi manajemen risiko yang ketat dan melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan adalah kunci utama untuk bertahan. Apakah harga akan benar-benar menyentuh level terendah yang diprediksi para analis? Hanya waktu dan data pasar yang akan menjawabnya dalam beberapa bulan ke depan.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *