Rupiah Tembus Ambang Psikologis Rp 18.000 per Dolar AS, Alarm Bahaya Bagi Ekonomi Nasional?

Rizky Pratama | InfoNanti
04 Jun 2026, 12:52 WIB
Rupiah Tembus Ambang Psikologis Rp 18.000 per Dolar AS, Alarm Bahaya Bagi Ekonomi Nasional?

InfoNanti — Pasar keuangan domestik hari ini dikejutkan dengan guncangan hebat yang melanda mata uang Garuda. Nilai tukar rupiah terpantau melorot tajam hingga menembus level psikologis baru yang sangat mengkhawatirkan, yakni Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan yang terjadi pada perdagangan Kamis (4/6/2026) ini memicu kegelisahan di kalangan pelaku pasar dan otoritas kebijakan, mengingat angka tersebut merupakan titik terendah dalam sejarah panjang pergerakan nilai tukar di tanah air.

Laju Pelemahan yang Tak Terbendung

Berdasarkan data pasar yang dihimpun tim redaksi InfoNanti, pelemahan ini sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda sejak penutupan perdagangan hari sebelumnya. Pada Rabu (3/6/2026), rupiah melemah sekitar 127,5 poin atau setara 0,71 persen ke posisi Rp 17.966 per dolar AS. Namun, siapa sangka memasuki sesi perdagangan pagi ini, tekanan jual semakin masif hingga memaksa rupiah bertekuk lutut di level Rp 18.019 per dolar AS pada pukul 10.12 WIB.

Baca Juga

Mengejar Ambisi 100 GW PLTS: Mengapa Dua Tahun Pertama Adalah ‘Pertaruhan’ Masa Depan Energi Indonesia?

Mengejar Ambisi 100 GW PLTS: Mengapa Dua Tahun Pertama Adalah ‘Pertaruhan’ Masa Depan Energi Indonesia?

Kondisi ini seolah mengonfirmasi bahwa sentimen negatif global tengah menyelimuti pasar negara berkembang. Rupiah tidak sendirian dalam menghadapi badai ini, namun intensitas pelemahannya yang menembus angka bulat Rp 18.000 memberikan beban psikologis tersendiri bagi pelaku usaha dan masyarakat luas. Ketidakpastian ini memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana pemerintah dan bank sentral mampu meredam gejolak ini?

DPR RI: Pemerintah Harus Segera Turun Tangan

Menanggapi situasi darurat ini, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, angkat bicara dengan nada serius. Ia mendesak pemerintah untuk tidak lagi bersikap pasif dan segera menyusun langkah mitigasi yang konkret. Menurut Said, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini sudah berada di luar batas kewajaran jika dilihat dari indikator fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya masih cukup solid.

Baca Juga

Rupiah Kian Terjepit: Kurs Dolar AS di Perbankan Nasional Meroket hingga Rp 17.670

Rupiah Kian Terjepit: Kurs Dolar AS di Perbankan Nasional Meroket hingga Rp 17.670

“Persoalannya ini bukan sekadar fundamental ekonomi saja. Kami menilai posisi rupiah saat ini sudah sangat undervalued atau berada di bawah nilai wajarnya. Secara kalkulasi teknis, rupiah seharusnya paling tinggi maksimal tidak boleh melewati batas Rp 17.600,” tegas Said saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Said menekankan bahwa pemerintah perlu segera melakukan pembenahan total pada tata kelola kebijakan ekonomi. Hal ini krusial untuk menjaga kepercayaan investor asing agar tidak terjadi pelarian modal (capital outflow) yang lebih besar. Optimisme pasar harus dibangun kembali melalui kebijakan yang transparan dan terukur.

Faktor Eksternal: Geopolitik dan Keperkasaan Ekonomi AS

Mengapa rupiah begitu rapuh belakangan ini? Lukman Leong, seorang analis mata uang dari Doo Financial Futures, memberikan perspektifnya kepada InfoNanti. Ia menuturkan bahwa faktor eksternal memegang peranan kunci dalam menekan mata uang Garuda. Meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memicu kepanikan pasar global, sehingga investor cenderung mengalihkan aset mereka ke dalam bentuk safe haven, yaitu dolar AS.

Baca Juga

KPR Tenor 40 Tahun: Terobosan Berani Cicilan Rumah Murah untuk Karyawan Gaji UMR

KPR Tenor 40 Tahun: Terobosan Berani Cicilan Rumah Murah untuk Karyawan Gaji UMR

“Dolar AS mendapatkan tenaga ekstra dari ketidakpastian global. Ketika dunia sedang tidak baik-baik saja, semua orang berlari mencari perlindungan pada dolar. Inilah yang membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan hebat,” jelas Lukman.

Selain faktor perang dan konflik, data ekonomi dari Negeri Paman Sam juga tidak berpihak pada kita. Laporan ketenagakerjaan AS yang tetap solid serta survei dari Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan penguatan aktivitas sektor jasa di Amerika, memperkuat keyakinan pasar bahwa ekonomi AS masih sangat tangguh. Hal ini membuat ekspektasi terhadap suku bunga tinggi bertahan lebih lama (higher for longer), yang secara otomatis terus memompa kekuatan dolar terhadap mata uang dunia lainnya.

Baca Juga

Jeritan Taipan Rusia: Suku Bunga Tinggi Jadi ‘Jebakan’ Mematikan bagi Ekonomi Moskow

Jeritan Taipan Rusia: Suku Bunga Tinggi Jadi ‘Jebakan’ Mematikan bagi Ekonomi Moskow

Menanti Langkah Agresif Bank Indonesia

Di tengah badai yang belum mereda, harapan kini tertumpu pada Bank Indonesia (BI) sebagai penjaga stabilitas moneter. Para analis memprediksi bahwa BI tidak akan tinggal diam melihat rupiah dipermalukan di angka Rp 18.000. Langkah intervensi di pasar valuta asing maupun pasar surat utang diperkirakan akan semakin agresif dalam beberapa hari ke depan.

Lukman Leong menambahkan bahwa sentimen domestik yang saat ini masih cenderung lesu membutuhkan pemicu positif dari otoritas moneter. “Melihat rupiah yang sudah menembus level psikologis baru ini, kemungkinan besar Bank Indonesia akan melakukan intervensi secara agresif untuk menjaga volatilitas agar tidak liar,” ungkapnya. BI diperkirakan akan menggunakan instrumen Triple Intervention untuk memastikan pasokan dolar di pasar tetap terjaga.

Dampak Nyata Bagi Sektor Riil

Pelemahan rupiah hingga ke level Rp 18.000 bukanlah sekadar angka di atas kertas. Dampaknya akan segera merembet ke kehidupan sehari-hari masyarakat. Sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor, seperti industri farmasi, otomotif, dan elektronik, dipastikan akan mengalami kenaikan biaya produksi yang signifikan. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin harga barang di tingkat konsumen akan ikut terkerek naik, yang pada gilirannya dapat memicu inflasi.

Di sisi lain, sektor pariwisata dan ekspor mungkin mendapatkan angin segar karena produk Indonesia menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri. Namun, keuntungan tersebut seringkali tergerus oleh ketidakpastian harga bahan baku yang juga meningkat. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan kebijakan agar ekonomi nasional tetap mampu bertahan di tengah fluktuasi yang ekstrem ini.

Penutup dan Outlook Pasar

Untuk jangka pendek, pergerakan rupiah diprediksi masih akan sangat fluktuatif. Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran lebar antara Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS. Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati rilis data ekonomi global dan langkah konkret yang diambil oleh pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

Situasi ini menjadi pengingat keras bahwa ketahanan ekonomi nasional harus terus diperkuat. Ketergantungan pada aliran modal jangka pendek dan sensitivitas terhadap isu global masih menjadi tantangan besar bagi stabilitas rupiah. Tanpa mitigasi yang cepat dan tepat, angka Rp 18.000 bisa jadi bukan lagi batas bawah, melainkan awal dari tantangan ekonomi yang lebih berat bagi Indonesia di tahun 2026 ini.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *