Hyperliquid (HYPE) dan Ambisi Pasar Aset US$ 600 Triliun: Mengapa Bitwise Menyebutnya Revolusi Fintech, Bukan Sekadar Kripto?
InfoNanti — Jagat aset digital kembali diguncang oleh narasi baru yang cukup berani, memposisikan sebuah protokol bukan lagi sekadar pelengkap di ekosistem blockchain, melainkan ancaman nyata bagi tatanan keuangan tradisional. Chief Investment Officer (CIO) Bitwise, Matt Hougan, baru-baru ini memberikan perspektif yang memicu diskusi hangat di kalangan analis Wall Street. Menurutnya, Hyperliquid (HYPE) seharusnya tidak lagi dipandang sebelah mata dalam lingkup pasar kripto yang bernilai US$ 3 triliun. Sebaliknya, HYPE harus dinilai berdasarkan potensi disrupsinya terhadap pasar aset global yang memiliki valuasi fantastis mencapai US$ 600 triliun.
Analisis tajam ini muncul di tengah antusiasme pasar terhadap instrumen investasi baru yang menjembatani dunia desentralisasi dengan institusi formal. InfoNanti mencatat bahwa pandangan Hougan ini bukan tanpa dasar. Sejak debutnya di New York Stock Exchange (NYSE) pada pertengahan Mei, ETF spot Hyperliquid milik Bitwise yang berkode BHYP telah menunjukkan performa yang luar biasa. Produk ini berhasil menyerap dana segar hingga hampir US$ 60 juta atau setara dengan Rp 1,06 triliun, sebuah angka yang sangat impresif untuk sebuah peluncuran ETP kripto aset tunggal sejak kehadiran Bitcoin di pasar modal arus utama.
Visi Revolusioner Presiden Kolombia: Mengubah Air Menjadi Bitcoin dan Magnet Investasi Global
Melampaui Batas Kripto: Visi Fintech Masa Depan
Bagi banyak pihak, kripto sering kali dianggap sebagai kelas aset spekulatif yang terisolasi. Namun, Hougan memiliki tesis yang berbeda mengenai Hyperliquid. Ia menggambarkan platform ini sebagai aplikasi teknologi fintech yang revolusioner, yang kebetulan menggunakan teknologi blockchain sebagai tulang punggungnya. Strategi ini memungkinkan terciptanya sebuah pengalaman keuangan yang jauh lebih efisien, transparan, dan cepat dibandingkan dengan sistem perbankan atau bursa tradisional yang selama ini kita kenal.
“Ini bukan sekadar aplikasi kripto biasa. Ini adalah manifestasi dari aplikasi keuangan masa depan yang memanfaatkan infrastruktur kripto di bagian belakang (backend) untuk menciptakan paradigma baru yang melampaui kemampuan sistem tradisional,” ungkap Hougan. Narasi ini menandakan bahwa Hyperliquid sedang mencoba mendefinisikan ulang bagaimana aset diperdagangkan secara global, tanpa harus terkekang oleh birokrasi dan latensi yang melekat pada infrastruktur keuangan lama.
Terobosan Baru Korea Selatan: Asuransi Berbasis Mata Uang Digital yang Cair dalam Sekejap
Tokenomik Generasi Kedua: Evolusi HYPE
Salah satu poin krusial yang diangkat dalam laporan InfoNanti adalah mengenai model ekonomi di balik token HYPE. Hougan menegaskan bahwa investor perlu menyadari adanya pergeseran fundamental dari token bursa tradisional ke apa yang ia sebut sebagai “Token Generasi 2”. Perbedaan utamanya terletak pada bagaimana nilai diciptakan dan didistribusikan kembali kepada pemegang token. Platform Hyperliquid mengarahkan hampir seluruh biaya perdagangan yang dihasilkan untuk mekanisme pembelian kembali (buyback), sebuah langkah yang mirip dengan strategi dividen saham di dunia korporat.
Mekanisme ini menciptakan tekanan beli yang konsisten dan menyelaraskan kepentingan platform dengan para investor jangka panjang. Hingga saat ini, pasar merespons positif model tersebut. Harga token HYPE sempat menyentuh angka US$ 68 atau sekitar Rp 1,21 juta, mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 10% dalam waktu singkat. Dengan posisi yang kini mantap di peringkat ke-11 berdasarkan kapitalisasi pasar menurut data BeinCrypto, HYPE bukan lagi pemain kecil yang bisa diabaikan begitu saja oleh para manajer investasi global.
Justin Sun vs World Liberty: Mengurai Gugatan Hukum dan Prahara Tata Kelola di Balik Token WLFI
Persaingan Sengit dengan Raksasa Wall Street
Meskipun memiliki potensi yang sangat besar, jalan Hyperliquid untuk mendominasi pasar global dipastikan tidak akan mulus. Hougan secara jujur mengakui adanya risiko eksekusi yang signifikan. Lawan yang dihadapi bukanlah protokol DeFi skala kecil, melainkan raksasa institusional seperti New York Stock Exchange (NYSE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME). Lembaga-lembaga ini tentu tidak akan tinggal diam melihat pangsa pasar mereka tergerus oleh inovasi on-chain.
“Akan ada persaingan yang sangat ketat di masa depan. Tidak ada jaminan mutlak bahwa Hyperliquid akan memenangkan pertempuran ini, namun mereka telah menetapkan standar baru yang memaksa pemain lama untuk beradaptasi,” tambah Hougan. Bagi investor di Amerika Serikat, akses langsung ke bursa luar negeri memang masih menjadi tantangan regulasi. Namun, kehadiran ETF BHYP dari Bitwise menjadi pintu gerbang legal bagi mereka untuk ikut serta dalam pertumbuhan ekosistem ini, di mana sekitar 70% kepemilikan ETF tersebut dikelola melalui infrastruktur Bitwise yang kokoh.
Update Harga Kripto 26 April 2026: Bitcoin Bertahan di Level Rp 1,33 Miliar Saat Altcoin Mulai Berguguran
Sinyal Hijau dari Regulator dan Minat Institusi
Dinamika pasar semakin menarik ketika kita melihat sisi regulasi. Persetujuan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) terhadap kontrak berjangka perpetual Bitcoin yang diatur di AS melalui KalshiEX menjadi katalisator penting bagi seluruh industri. Meskipun Hyperliquid beroperasi sebagai bursa terdesentralisasi (DEX), kejelasan regulasi pada produk derivatif kripto memberikan legitimasi tambahan bagi kategori produk yang selama ini didominasi oleh bursa luar negeri.
InfoNanti memantau bahwa Hyperliquid telah menjadi patokan atau benchmark dalam kategori bursa terdesentralisasi. Sepanjang tahun 2025, platform ini memproses volume perdagangan perpetual mencapai angka fantastis US$ 2,9 triliun, dengan open interest sebesar US$ 7 miliar dan menghasilkan pendapatan dari biaya perdagangan mencapai US$ 800 juta. Data ini bukan hanya sekadar angka, melainkan bukti nyata adanya permintaan pasar yang sangat besar terhadap transparansi dan self-custody yang ditawarkan oleh teknologi on-chain.
Komentar Mengejutkan dari CEO Intercontinental Exchange
Salah satu pengakuan paling mengejutkan datang dari Jeff Sprecher, CEO Intercontinental Exchange (perusahaan induk NYSE). Dalam sebuah forum diskusi, Sprecher memberikan pernyataan yang menggemparkan dengan menyebut bahwa Hyperliquid berpotensi menjadi lebih besar daripada Nasdaq. Pernyataan dari tokoh sentral keuangan tradisional ini menunjukkan bahwa Wall Street mulai merasa terancam sekaligus terpesona oleh efisiensi yang ditawarkan oleh derivatif on-chain.
Grayscale, salah satu manajer aset kripto terbesar di dunia, juga tidak mau ketinggalan momentum ini. Mereka telah mengajukan permohonan ETF spot Hyperliquid dengan kode GHYP. Langkah ini semakin mengukuhkan posisi HYPE sebagai aset yang layak masuk ke dalam portofolio investasi institusional, bersanding dengan nama besar seperti Bitcoin dan Ether. Dengan dukungan dari berbagai lini, mulai dari teknologi, model bisnis, hingga minat institusional, Hyperliquid kini berdiri di garis depan revolusi keuangan digital.
Kesimpulan dan Pandangan Masa Depan
Secara keseluruhan, fenomena Hyperliquid menggambarkan transformasi besar dalam cara kita memandang nilai sebuah aset digital. Ia bukan lagi sekadar instrumen spekulasi bagi para penggiat kripto, melainkan alat keuangan canggih yang siap menantang dominasi perbankan investasi tradisional. Dengan model tokenomik yang berorientasi pada nilai nyata dan performa operasional yang melampaui bursa konvensional, HYPE membawa harapan baru bagi efisiensi pasar global.
Namun, seperti halnya setiap investasi berisiko tinggi lainnya, para pelaku pasar tetap diharapkan untuk melakukan analisis mendalam. Persaingan dengan pemain lama dan ketidakpastian regulasi global tetap menjadi faktor yang harus dipertimbangkan secara matang. Satu hal yang pasti, narasi yang dibangun oleh Matt Hougan dan Bitwise telah membuka mata dunia bahwa masa depan keuangan mungkin tidak lagi berada di gedung-gedung pencakar langit Wall Street, melainkan di dalam baris-baris kode kontrak pintar yang transparan dan inklusif.