Misteri ‘Asian Passing’: Mengapa Kamera TV Inggris Kerap Hilang Saat Pemain Asia Angkat Trofi?

Fajar Nugroho | InfoNanti
27 Mei 2026, 04:51 WIB
Misteri 'Asian Passing': Mengapa Kamera TV Inggris Kerap Hilang Saat Pemain Asia Angkat Trofi?

InfoNanti — Panggung megah Stadion Wembley baru saja menjadi saksi bisu dari sebuah drama yang melampaui sekadar hasil skor di papan digital. Di balik gemuruh sorak-sorai pendukung Hull City yang merayakan kembalinya mereka ke kasta tertinggi liga inggris, sebuah anomali siaran televisi kembali memicu perdebatan panas di jagat maya. Fenomena ini bukan lagi sekadar kebetulan teknis, melainkan sebuah pola berulang yang oleh para penggemar sepak bola di seluruh dunia dijuluki sebagai ‘Asian Passing’.

Kejadian terbaru bermula saat Hull City berhasil menumbangkan Middlesbrough dalam laga final playoff promosi Premier League yang sangat krusial. Kemenangan tipis 1-0 tersebut memastikan ‘The Tigers’ akan mencicipi atmosfer kasta tertinggi musim depan. Namun, saat momen sakral pengangkatan trofi dimulai, ada sesuatu yang terasa ganjil dalam produksi siaran langsungnya. Kamera yang semula mengikuti satu per satu pemain yang naik ke podium tiba-tiba memalingkan sudut pandangnya tepat saat penggawa asal Jepang, Yu Hirakawa, hendak mengangkat piala tersebut.

Baca Juga

Malut United Kian Terengah-engah, Dewa United Berhasil Curi Poin Penuh di Ternate

Malut United Kian Terengah-engah, Dewa United Berhasil Curi Poin Penuh di Ternate

Momen Yu Hirakawa yang Terlewatkan

Yu Hirakawa bukanlah pemain sembarangan dalam laga tersebut. Dialah sosok yang memberikan assist krusial bagi gol tunggal kemenangan Hull City. Sebagai pahlawan di lapangan, tentu wajar jika para penggemar ingin melihat wajah kegembiraannya saat mengangkat trofi juara di atas kepalanya. Namun, apa yang terjadi di layar kaca justru sebaliknya. Begitu tangan Hirakawa menyentuh gagang trofi, kamera TV Inggris yang bertugas melakukan siaran langsung segera melakukan pemotongan gambar (cut) ke sudut pandang jauh (wide shot) atau mengubah fokus ke arah lain.

Ketidaknyamanan ini terasa nyata bagi jutaan penonton yang menyaksikan lewat layar kaca. Begitu Hirakawa selesai mengangkat trofi dan menyerahkannya kepada rekan setimnya yang bukan berasal dari Asia, kamera kembali menyoroti podium secara close-up. Perubahan sudut pandang yang mendadak ini membuat momen keemasan pemain berusia 25 tahun itu hilang begitu saja dari rekaman sejarah siaran langsung. Reaksi keras pun bermunculan di media sosial, terutama dari kalangan fans yang mengamati perkembangan pemain asia di Eropa.

Baca Juga

Mimpi La Decimosexta Kandas, Arbeloa Curahkan Pedihnya Kekalahan Real Madrid di Munich

Mimpi La Decimosexta Kandas, Arbeloa Curahkan Pedihnya Kekalahan Real Madrid di Munich

Mengenal Fenomena ‘Asian Passing’

Istilah ‘Asian Passing’ kini menjadi perbincangan hangat di platform X (dahulu Twitter) dan forum-forum sepak bola internasional. Istilah ini merujuk pada kecenderungan stasiun televisi di Inggris yang seolah-olah secara sengaja atau tidak sengaja melewatkan momen-momen individu pemain asal benua kuning saat perayaan gelar juara. Banyak pihak yang awalnya menganggap ini sebagai teori konspirasi belaka, namun dokumentasi yang dikumpulkan oleh para netizen menunjukkan data yang cukup mengejutkan.

Seorang penggemar di Korea Selatan melalui akun @IpswichTownKR membagikan kompilasi video yang menunjukkan pola serupa dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. “Ini sangat aneh. Ada teori yang terus menguat bahwa setiap kali ada pemain Asia yang hendak mengangkat trofi di Inggris, operator kamera atau sutradara siaran langsung akan segera memotong gambarnya,” tulis salah satu netizen yang unggahannya kemudian menjadi viral.

Baca Juga

Akhir Era El Pistolero: Uruguay Umumkan Skuad Resmi Piala Dunia 2026 Tanpa Luis Suarez

Akhir Era El Pistolero: Uruguay Umumkan Skuad Resmi Piala Dunia 2026 Tanpa Luis Suarez

Jejak Digital yang Tak Bisa Berbohong

Jika ditarik ke belakang, kasus Yu Hirakawa hanyalah puncak dari gunung es. Publik diingatkan kembali pada momen 16 Mei 2025, ketika bek Manchester City asal Uzbekistan, Abdukodir Khusanov, meraih trofi Piala FA. Saat perayaan di podium, kamera TV Inggris melakukan hal yang persis sama: mengubah sudut pandang tepat di detik Khusanov mengangkat piala. Hal ini memicu pertanyaan besar bagi para penonton di wilayah Asia Tengah yang sengaja terjaga dini hari demi melihat pahlawan nasional mereka merayakan kesuksesan di premier league.

Tak berhenti di situ, sejarah mencatat nama-nama besar lainnya yang mengalami nasib serupa. Shinji Okazaki, penyerang lincah Jepang yang menjadi bagian penting dari dongeng Leicester City saat menjuarai Premier League tahun 2016, juga sempat mengalami momen di mana kameramen seolah enggan memberikan panggung padanya di podium. Hal serupa terjadi pada Takumi Minamino saat merayakan kemenangan Liverpool di ajang Carabao Cup tahun 2022.

Baca Juga

Misteri Paceklik Gol Kylian Mbappe: Strategi Rahasia atau Penurunan Performa Jelang Piala Dunia 2026?

Misteri Paceklik Gol Kylian Mbappe: Strategi Rahasia atau Penurunan Performa Jelang Piala Dunia 2026?

Daftar Pemain Bintang yang Menjadi Korban

Para pengamat sepak bola mencatat bahwa pemain-pemain elit Korea Selatan juga tidak luput dari pola ini. Legenda Manchester United, Park Ji-sung, serta bintang Tottenham Hotspur, Son Heung-min, hingga pemain muda bertalenta Lee Kang-in, seringkali mendapatkan perlakuan yang sama dalam siaran langsung pertandingan berskala internasional seperti Liga Champions. Meskipun mereka adalah ikon global dengan nilai komersial tinggi, entah mengapa di momen-momen krusial perayaan, lensa kamera seolah memiliki agenda lain.

Fenomena ini memicu diskursus tentang representasi dan inklusivitas dalam industri penyiaran olahraga di Barat. Bagi banyak penggemar di Asia, melihat pemain dari negara mereka sukses di panggung dunia adalah sumber kebanggaan yang luar biasa. Ketika momen tersebut “dihilangkan” oleh teknis siaran, ada rasa kekecewaan yang mendalam dan anggapan adanya bias yang tidak disadari dalam tim produksi televisi.

Pembelaan Teknis vs Realita Lapangan

Secara teknis, seorang sutradara siaran langsung (live director) memiliki tanggung jawab berat untuk mengatur puluhan kamera guna menangkap suasana stadion secara keseluruhan. Mereka berargumen bahwa perubahan sudut kamera dilakukan secara cepat untuk memberikan dinamika visual dan menangkap emosi dari berbagai sudut, termasuk reaksi penonton dan kemeriahan kembang api. Dalam kecepatan produksi yang sangat tinggi, kesalahan koordinasi seringkali terjadi.

Namun, argumentasi teknis ini mulai diragukan ketika frekuensi “kesalahan” tersebut terjadi secara konsisten pada profil pemain yang memiliki latar belakang etnis yang sama. “Asian passing adalah pola yang sudah dikenal lama di antara fans di negara-negara Asia. Sungguh mengejutkan banyak fans di luar Asia yang belum menyadari hal ini sampai bukti-buktinya dikumpulkan secara masif,” komentar salah seorang pengguna forum sepak bola dunia.

Dampak Bagi Citra Industri Penyiaran

Kontroversi ini sejatinya merugikan citra industri penyiaran Inggris yang selama ini dikenal paling profesional di dunia. Premier League, sebagai produk hiburan yang dikonsumsi oleh miliaran orang di seluruh dunia, sangat bergantung pada pasar Asia. Jika sentimen negatif ini terus berkembang, hal itu bisa mempengaruhi hubungan antara pemegang hak siar dengan jutaan pelanggan di benua Asia yang merasa pahlawan mereka tidak dihargai secara setara di layar kaca.

Pihak penyelenggara liga dan stasiun televisi terkait sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi mengenai tudingan ‘Asian Passing’ tersebut. Namun, desakan untuk memperbaiki standar produksi agar lebih sensitif terhadap keberagaman pemain mulai bermunculan. Fans menuntut agar setiap pemain, tanpa memandang asal negaranya, mendapatkan hak yang sama untuk terekam dalam sejarah melalui sorotan kamera saat mereka mencapai puncak prestasi.

Masa Depan Representasi Asia di Sepak Bola Eropa

Terlepas dari kontroversi kamera, kehadiran pemain Asia di liga-liga top Eropa kini semakin tak terbendung. Mereka bukan lagi sekadar pelengkap kuota atau alat pemasaran, melainkan pemain kunci yang menentukan hasil akhir pertandingan. Kasus Yu Hirakawa di Hull City membuktikan bahwa kontribusi nyata di lapangan hijau adalah jawaban terbaik atas segala bentuk marginalisasi, baik yang disengaja maupun tidak.

Ke depan, diharapkan ada evaluasi menyeluruh dalam manajemen produksi siaran langsung olahraga. Dengan semakin globalnya sepak bola, mata kamera harus mampu menangkap setiap detail emosi dan perjuangan semua pemain secara adil. Dunia tidak hanya ingin melihat tim yang juara, tetapi juga setiap individu yang telah mencucurkan keringat untuk meraih trofi tersebut. Mari kita nantikan, apakah dalam perayaan juara berikutnya, pahlawan-pahlawan dari Asia akan mendapatkan sorotan lampu kamera yang semestinya mereka dapatkan.

Bagi Anda yang ingin terus memperbarui informasi mengenai perkembangan berita sepak bola internasional dan isu-isu menarik lainnya, pastikan untuk tetap memantau laporan mendalam kami hanya di platform terpercaya ini.

Fajar Nugroho

Fajar Nugroho

Penulis olahraga dengan fokus pada sepak bola internasional dan liga top dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *