Sinyal Merah Bitcoin: Permintaan Merosot ke Level Terendah Sejak 2025, Apakah Fase Bearish Permanen Mengintai?

Andi Saputra | InfoNanti
25 Mei 2026, 22:51 WIB
Sinyal Merah Bitcoin: Permintaan Merosot ke Level Terendah Sejak 2025, Apakah Fase Bearish Permanen Mengintai?

InfoNanti Pasar mata uang digital global kembali dikejutkan oleh data fundamental yang menunjukkan pelemahan signifikan. Bitcoin, sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, kini tengah berada di bawah tekanan berat setelah indikator permintaan riilnya merosot tajam. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa tren koreksi yang lebih dalam mungkin saja sedang mengintai di depan mata.

Berdasarkan laporan terbaru yang dihimpun dari data CoinmarketCap pada Senin (25/5/2026), para analis dari CryptoQuant mengungkapkan sebuah temuan yang cukup mengkhawatirkan. Indikator yang dikenal sebagai apparent demand atau permintaan riil Bitcoin telah menyentuh angka minus 147.000 BTC. Angka ini menandai level permintaan paling rendah dan paling bearish yang pernah tercatat sejak periode kelam pada Desember 2025 silam.

Baca Juga

Gempuran Digital: Amerika Serikat Bekukan Aset Kripto Iran Senilai Rp 8,8 Triliun

Gempuran Digital: Amerika Serikat Bekukan Aset Kripto Iran Senilai Rp 8,8 Triliun

Memahami Indikator Apparent Demand: Mengapa Angka Minus Begitu Krusial?

Bagi para investor yang terbiasa dengan analisis teknikal kripto, istilah apparent demand bukanlah hal yang asing. Indikator ini merupakan metrik vital yang digunakan untuk mengukur selisih antara total produksi Bitcoin (melalui penambangan) dengan perubahan dalam stok yang tidak berpindah atau tersimpan di dompet-dompet tertentu. Secara sederhana, metrik ini menunjukkan apakah pasar sedang dalam fase akumulasi atau justru sedang melakukan distribusi massal.

Ketika angka apparent demand terjun bebas ke area negatif, seperti yang terjadi saat ini dengan angka minus 147.000 BTC, hal itu memberikan sinyal kuat bahwa pasokan yang tersedia di pasar jauh melampaui daya serap atau minat beli para investor. Dengan kata lain, lebih banyak orang yang ingin melepaskan aset mereka dibandingkan mereka yang ingin masuk dan membeli di harga saat ini. Kondisi ini menciptakan ketimpangan suplai dan permintaan yang biasanya menjadi cikal bakal penurunan harga lebih lanjut.

Baca Juga

Babak Baru Regulasi Kripto di Rusia: Pemerintah Wajibkan Pelacakan Alamat IP Penambang Bitcoin

Babak Baru Regulasi Kripto di Rusia: Pemerintah Wajibkan Pelacakan Alamat IP Penambang Bitcoin

Bayang-Bayang Kelam Desember 2025 Kembali Menghantui

Penurunan permintaan yang terjadi saat ini bukanlah tanpa konteks historis. Para analis melihat adanya pola yang serupa dengan kejadian pada akhir tahun 2025. Kala itu, pasar aset digital menghadapi guncangan hebat ketika para investor jangka panjang mulai kehilangan kepercayaan dan melakukan aksi ambil untung secara besar-besaran. Sentimen pasar yang semula optimis berubah drastis menjadi defensif, memaksa Bitcoin untuk bergerak menyamping dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya mengalami tekanan jual tambahan.

Situasi di tahun 2026 ini tampaknya merupakan kelanjutan atau repetisi dari kejenuhan pasar tersebut. Melemahnya permintaan ini terjadi setelah pasar aset digital terus-menerus digempur oleh ketidakpastian makroekonomi dan perubahan regulasi di beberapa negara besar. Bagi para pengamat pasar, sulitnya Bitcoin untuk membangun momentum pemulihan yang solid berakar pada fakta bahwa tidak ada arus modal baru (fresh money) yang cukup signifikan untuk menggerakkan harga ke atas.

Baca Juga

Gebrakan Raksasa Perbankan: Hana Bank Akuisisi Saham Induk Upbit Senilai Rp 11 Triliun demi Kuasai Pasar Kripto Asia

Gebrakan Raksasa Perbankan: Hana Bank Akuisisi Saham Induk Upbit Senilai Rp 11 Triliun demi Kuasai Pasar Kripto Asia

Tekanan Jual vs Minat Beli: Siapa yang Mendominasi?

Dalam dinamika pasar saat ini, tekanan jual tampak lebih mendominasi dibandingkan masuknya pembeli baru. Analis pasar dari berbagai institusi menyoroti bahwa selama indikator permintaan masih betah berada di zona negatif, potensi Bitcoin untuk mempertahankan penguatan harga secara berkelanjutan sangatlah kecil. Kenaikan harga kecil yang terjadi sesekali seringkali dianggap sebagai dead cat bounce atau pemulihan semu yang akan segera disusul oleh aksi jual yang lebih agresif.

“Kenaikan harga dalam jangka pendek saat ini sangat rentan. Tanpa didukung oleh penguatan permintaan di pasar spot, setiap upaya reli akan dengan cepat memudar karena langsung dimanfaatkan oleh trader untuk melakukan exit,” ujar salah satu analis senior dalam laporan tersebut. Hal ini memaksa para investor untuk lebih teliti dalam melihat pergerakan harga bitcoin harian agar tidak terjebak dalam euforia sesaat.

Baca Juga

Analisis Tajam: Bitcoin Dibayangi Tren Bearish, Target Penurunan Hingga USD 10.000?

Analisis Tajam: Bitcoin Dibayangi Tren Bearish, Target Penurunan Hingga USD 10.000?

Menanti Titik Balik: Kapan Pembeli Akan Kembali?

Meskipun angka minus 147.000 BTC terlihat sangat mengintimidasi, para ahli mengingatkan bahwa data ini adalah cerminan kondisi saat ini, bukan ramalan pasti akan kehancuran total. Pasar kripto dikenal dengan volatilitasnya yang ekstrem, di mana sentimen bisa berubah dalam sekejap jika ada katalis positif yang kuat. Investor kini tengah menantikan momen di mana indikator permintaan mulai merangkak naik dan kembali ke zona positif.

Kembalinya apparent demand ke area hijau akan menjadi sinyal pertama bagi kelompok bullish bahwa pasar telah mencapai titik jenuh jual (oversold) dan pembeli mulai kembali mendominasi. Kondisi tersebut akan mengindikasikan bahwa pasokan Bitcoin yang beredar mulai kembali terserap ke dalam dompet-dompet akumulasi, yang pada gilirannya akan mengurangi tekanan jual di bursa.

Strategi Investor: Sikap Hati-Hati Menjadi Kunci

Di tengah ketidakpastian ini, sikap waspada menjadi pilihan yang paling rasional bagi banyak pelaku pasar. Mengambil keputusan investasi kripto saat ini memerlukan analisis yang lebih dalam daripada sekadar mengikuti tren di media sosial. Banyak investor berpengalaman memilih untuk melakukan wait and see, menunggu konfirmasi lebih lanjut dari indikator on-chain sebelum menambah posisi mereka.

Penting untuk diingat bahwa setiap instrumen investasi, terutama aset kripto seperti Bitcoin, memiliki risiko yang sangat tinggi. Pergerakan harga yang liar bisa mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi para pembaca untuk melakukan riset mandiri secara komprehensif (DYOR – Do Your Own Research) dan memahami profil risiko masing-masing sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset.

Kesimpulan: Menatap Masa Depan Bitcoin

Data dari CryptoQuant ini menjadi pengingat penting bahwa pasar Bitcoin saat ini masih berada dalam tekanan distribusi yang kuat. Angka permintaan yang menyentuh level terendah sejak Desember 2025 adalah peringatan nyata bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia blockchain dan aset digital. Apakah Bitcoin akan mampu bangkit dari tekanan ini atau justru akan menguji level support yang lebih rendah? Semua mata kini tertuju pada pergerakan likuiditas di pasar spot dalam beberapa minggu ke depan.

Sebagai penutup, tetaplah memperbarui informasi Anda dengan mengikuti perkembangan sentimen pasar secara rutin. Keputusan yang bijak adalah keputusan yang didasarkan pada data dan logika, bukan sekadar emosi atau ketakutan akan kehilangan momentum (FOMO). Tetap waspada dan kelola risiko Anda dengan sebaik-baiknya di tengah badai permintaan yang tengah melanda pasar Bitcoin saat ini.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Segala bentuk keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. InfoNanti tidak bertanggung jawab atas potensi keuntungan maupun kerugian yang mungkin timbul dari aktivitas perdagangan aset kripto Anda.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *