Survei Terbaru The Fed: Geliat Investasi Kripto Warga Amerika Serikat di Tengah Bayang-Bayang Skeptisisme

Andi Saputra | InfoNanti
20 Mei 2026, 12:54 WIB
Survei Terbaru The Fed: Geliat Investasi Kripto Warga Amerika Serikat di Tengah Bayang-Bayang Skeptisisme

InfoNanti — Di tengah dinamika ekonomi global yang kian kompleks, mata uang digital tampaknya kembali menemukan momentumnya di Amerika Serikat. Laporan terbaru yang dirilis oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mengungkapkan sebuah tren signifikan: sekitar 10 persen orang dewasa di Negeri Paman Sam tersebut tercatat memiliki atau menggunakan aset kripto pada akhir tahun 2025. Angka ini menandai pertumbuhan yang cukup stabil dibandingkan periode sebelumnya, mencerminkan pergeseran persepsi publik terhadap investasi digital.

Data yang dihimpun oleh tim redaksi kami menunjukkan bahwa angka partisipasi ini meningkat dari 7 persen pada akhir tahun 2024. Meskipun pertumbuhan ini terlihat menjanjikan, ia belum mampu melampaui rekor tertinggi sebesar 12 persen yang pernah tercapai pada tahun 2022, tepat sebelum guncangan hebat melanda industri akibat runtuhnya salah satu bursa kripto terbesar, FTX. Lonjakan minat ini memberikan sinyal bahwa meskipun trauma masa lalu masih membekas, kepercayaan investor perlahan mulai pulih seiring dengan munculnya instrumen keuangan yang lebih terstruktur.

Baca Juga

Gebrakan Michael Saylor: Strategy Inc Kembali Borong Bitcoin Senilai Rp 43 Triliun dalam Sepekan

Gebrakan Michael Saylor: Strategy Inc Kembali Borong Bitcoin Senilai Rp 43 Triliun dalam Sepekan

Gelombang Baru Adopsi Aset Digital di Negeri Paman Sam

Survei yang dilakukan oleh The Fed ini tidak main-main. Mengambil sampel representatif secara nasional yang mencakup hampir 13.000 orang dewasa pada Oktober 2025, laporan ini memberikan pandangan mendalam tentang bagaimana pasar kripto beroperasi di tingkat akar rumput. Salah satu temuan paling menarik adalah bagaimana cara masyarakat berinteraksi dengan aset tersebut.

Sebagian besar responden mengaku menyimpan mata uang kripto murni sebagai instrumen investasi. Ini menempatkan “paparan investasi” sebagai kategori partisipasi terbesar di mata publik Amerika. Menariknya, fungsi utama mata uang sebagai alat tukar atau metode pembayaran justru masih tertinggal jauh. Hanya sebagian kecil dari pemilik aset yang benar-benar menggunakan Bitcoin atau Ethereum untuk melakukan transfer uang atau transaksi jual beli barang sehari-hari.

Baca Juga

Badai Tekanan Jual Ethereum: Mengapa Harga ETH Masih Terjebak di Bawah Level USD 2.300?

Badai Tekanan Jual Ethereum: Mengapa Harga ETH Masih Terjebak di Bawah Level USD 2.300?

Peran Vital ETF dalam Menjembatani Investor Ritel

Mengapa minat terhadap kripto kembali naik? InfoNanti mencatat bahwa The Fed secara eksplisit menghubungkan kenaikan ini dengan kehadiran Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin dan Ethereum spot. Kehadiran produk keuangan ini seolah menjadi jembatan bagi investor ritel yang sebelumnya merasa ragu atau kesulitan untuk membeli aset kripto secara langsung melalui bursa digital yang sering dianggap berisiko tinggi.

Dengan adanya ETF, investor kini bisa mendapatkan paparan terhadap pergerakan harga Bitcoin tanpa harus repot mengelola dompet digital (wallet) atau mengkhawatirkan keamanan kunci pribadi (private keys). Hal ini menciptakan pintu masuk yang lebih aman dan teregulasi, sehingga menarik minat kelompok masyarakat yang lebih luas untuk mencicipi manisnya aset kripto dalam portofolio mereka.

Baca Juga

Langkah Agresif Eric Trump: American Bitcoin Amankan 7.500 BTC dan Perluas Imperium Penambangan

Langkah Agresif Eric Trump: American Bitcoin Amankan 7.500 BTC dan Perluas Imperium Penambangan

Antara Investasi Spekulatif dan Alat Pembayaran yang Minim

Meskipun kepemilikan meningkat, The Fed tetap mempertahankan pandangannya bahwa bagi mayoritas warga Amerika, kripto lebih merupakan aset spekulatif ketimbang mata uang fungsional. Fenomena ini memperkuat narasi bahwa Bitcoin sering kali dianggap sebagai “emas digital”—sesuatu yang disimpan dengan harapan harganya akan melonjak di masa depan, bukan sesuatu yang digunakan untuk membeli secangkir kopi di kedai terdekat.

Kurangnya penggunaan kripto sebagai alat pembayaran bisa disebabkan oleh volatilitas harga yang masih tinggi serta infrastruktur pembayaran yang belum sepenuhnya terintegrasi secara masif. Di sisi lain, regulasi keuangan yang ketat di Amerika Serikat juga membuat banyak penyedia jasa keuangan konvensional masih berhati-hati dalam mengadopsi kripto sebagai sistem pembayaran arus utama.

Baca Juga

Alarm Keamanan Kripto: 14 Dompet Digital Bankr Dibobol Peretas, Bagaimana Nasib Ganti Rugi Pengguna?

Alarm Keamanan Kripto: 14 Dompet Digital Bankr Dibobol Peretas, Bagaimana Nasib Ganti Rugi Pengguna?

Profil Demografi: Siapa Sebenarnya Pemilik Kripto Saat Ini?

Berdasarkan analisis data dari InfoNanti, profil pemilik kripto di Amerika Serikat ternyata masih cukup terpusat pada demografi tertentu. Pola yang ditemukan sejak The Fed mulai melacak aset digital pada tahun 2021 masih bertahan hingga kini. Penggunaan kripto paling terkonsentrasi di kalangan orang dewasa muda di bawah usia 45 tahun.

Selain faktor usia, tingkat pendapatan juga memainkan peran kunci. Rumah tangga dengan pendapatan di atas rata-rata nasional cenderung lebih berani mengambil risiko untuk berinvestasi di aset ini. Sebaliknya, rumah tangga berpenghasilan rendah terlihat sangat kurang terwakili dalam daftar investor aktif. Tren gender juga menunjukkan ketimpangan, di mana pria tercatat jauh lebih cenderung memiliki Bitcoin, Ethereum, atau mata uang kripto lainnya dibandingkan wanita.

Sisi Lain Koin: Skeptisisme dan Trauma Masa Lalu

Namun, di balik angka 10 persen yang menunjukkan pertumbuhan tersebut, tersimpan keresahan yang mendalam di masyarakat umum. Sebuah survei terpisah oleh Public First mengungkapkan bahwa sekitar 45 persen warga Amerika Serikat menganggap investasi kripto sama sekali tidak sepadan dengan risikonya, sekalipun menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.

Skeptisisme ini tidak hanya terbatas pada dunia kripto, tetapi juga merembet ke teknologi kecerdasan buatan (AI). Publik merasa bahwa perkembangan teknologi yang terlalu cepat, tanpa dibarengi dengan regulasi yang kuat, justru dapat membahayakan stabilitas finansial dan sosial mereka. Bahkan, hampir separuh warga AS lebih memilih mempercayakan uang mereka pada bank tradisional daripada platform kripto, mencerminkan adanya krisis kepercayaan yang belum sepenuhnya teratasi.

Ketegangan Politik dan Pengaruh ‘Uang Besar’ di Balik Layar

Kondisi ini menciptakan dilema bagi para politisi di Washington. Kelompok-kelompok kepentingan yang didanai oleh industri kripto dan AI, seperti Super PAC Fairshake dan Leading the Future, telah menggelontorkan dana hingga puluhan juta dolar untuk mendukung kandidat yang pro-inovasi. Di satu sisi, para kandidat membutuhkan dana kampanye tersebut, namun di sisi lain, mereka harus menghadapi konstituen yang sangat waspada terhadap pengaruh industri ini.

Senator Chris Murphy dari Partai Demokrat bahkan secara vokal menyebutkan bahwa pendekatan terbaik bagi partainya adalah dengan menyoroti pengeluaran besar dari kelompok kepentingan ini sebagai isu politik. Menurutnya, masyarakat tidak ingin merasa “diinjak-injak” secara ekonomi oleh perusahaan teknologi besar yang tidak mereka percayai. Dinamika ini diprediksi akan menjadi salah satu topik panas dalam pemilihan paruh waktu mendatang.

Masa Depan Kripto: Di Ambang Regulasi atau Kebebasan?

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran harga USD 76.700, sebuah angka yang menunjukkan ketangguhan pasar meskipun diterpa berbagai sentimen negatif. Namun, masa depan industri ini di Amerika Serikat akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah merumuskan regulasi kripto yang mampu menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan konsumen.

Warga Amerika tampaknya mulai sadar bahwa teknologi keuangan adalah masa depan, namun mereka menuntut transparansi dan akuntabilitas. Apakah angka 10 persen ini akan terus merangkak naik atau justru kembali merosot? Semuanya bergantung pada seberapa jauh industri ini mampu membuktikan nilai gunanya di luar sekadar instrumen spekulasi, serta seberapa efektif otoritas seperti The Fed dalam menjaga stabilitas makroekonomi di tengah inflasi dan perubahan kebijakan moneter.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. InfoNanti menyarankan Anda untuk selalu melakukan riset mendalam dan analisis mandiri sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset kripto. Kami tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *