Geliat Pasar Kripto: Saham Digital Melonjak Tajam di Tengah Momentum Krusial RUU Clarity Act

Andi Saputra | InfoNanti
05 Mei 2026, 18:52 WIB
Geliat Pasar Kripto: Saham Digital Melonjak Tajam di Tengah Momentum Krusial RUU Clarity Act

InfoNanti — Di tengah atmosfer ketidakpastian yang menyelimuti lantai bursa Wall Street, sektor aset digital justru menunjukkan taji yang luar biasa. Senin, 4 Mei 2026, menjadi catatan sejarah penting ketika saham-saham yang berafiliasi dengan industri kripto mengalami reli signifikan. Fenomena ini bukan tanpa alasan; angin segar dari koridor politik Washington D.C. mengenai kemajuan Rancangan Undang-Undang (RUU) struktur pasar yang dikenal sebagai Clarity Act menjadi bahan bakar utama yang menggerakkan optimisme para investor.

Dominasi Circle dan Kebangkitan Raksasa Infrastruktur Kripto

Salah satu sorotan utama dalam perdagangan kali ini adalah performa impresif dari Circle. Sebagai entitas di balik stablecoin USDC yang populer, saham Circle meroket hingga 19,89% dan menutup hari di level USD 119,53. Pergerakan ini mempertegas tren positif perusahaan yang telah mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 32,4% dalam satu bulan terakhir, serta pertumbuhan akumulatif lebih dari 50% sejak awal tahun 2026.

Baca Juga

Marak Penculikan Pemilik Aset Kripto di Prancis, Pascal Boyart Kritik Tajam Kelalaian Pemerintah

Marak Penculikan Pemilik Aset Kripto di Prancis, Pascal Boyart Kritik Tajam Kelalaian Pemerintah

Sentimen positif ini pun menular ke pemain besar lainnya. Coinbase Global, bursa kripto terbesar di Amerika Serikat, berhasil menutup perdagangan dengan kenaikan 6,14% di angka USD 202,99. Perusahaan infrastruktur digital, Bitgo, juga tidak ketinggalan dengan mencatatkan lonjakan 10,26% ke level USD 11,50. Tak hanya itu, platform perdagangan retail Robinhood dan SOL Strategies turut meramaikan pesta hijau ini dengan kenaikan masing-masing sebesar 3,92% dan 17,83%.

Bitcoin Menembus Level Psikologis USD 80.000

Di pasar aset itu sendiri, Bitcoin berhasil mencatatkan tonggak sejarah baru. Mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sukses menembus barikade USD 80.000, diperdagangkan naik 2,12% pada posisi USD 80.020. Pencapaian ini terasa kontras dengan kondisi pasar modal konvensional AS yang justru lesu. Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau merosot 1,13% sementara S&P 500 melemah 0,41%, yang sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga

Peringatan Keras Warren Buffett: Mengapa Kripto dan Spekulasi Pasar Lebih Mirip Perjudian Daripada Investasi

Peringatan Keras Warren Buffett: Mengapa Kripto dan Spekulasi Pasar Lebih Mirip Perjudian Daripada Investasi

Kesenjangan performa antara aset kripto dan pasar saham tradisional ini mengindikasikan bahwa investor mulai melihat investasi kripto sebagai instrumen yang memiliki narasi fundamentalnya sendiri, terutama ketika berkaitan dengan kepastian regulasi di negara ekonomi terbesar dunia.

Clarity Act: Titik Terang dalam Labirin Regulasi

Mengapa Clarity Act begitu berpengaruh? Jawabannya terletak pada upaya standardisasi yang telah lama dinantikan oleh pelaku industri. Pada akhir pekan sebelumnya, Senator Angela Alsobrooks dan Thom Tillis dikabarkan telah mencapai titik temu terkait poin krusial yang selama ini menjadi ganjalan: mekanisme imbal hasil pada stablecoin.

Dalam draf terbaru, terdapat ketentuan ketat yang melarang entitas tertentu untuk memberikan bunga atau imbal hasil kepada pengguna di AS atas kepemilikan stablecoin. Langkah ini dirancang agar karakteristik stablecoin tidak secara langsung berbenturan atau menyerupai produk deposito perbankan tradisional. Larangan ini mencakup segala bentuk pembayaran yang secara fungsional setara dengan bunga bank, sebuah upaya kompromi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan konvensional.

Baca Juga

Prediksi Suram Bitcoin 2026: Survei Deutsche Bank Ungkap Keraguan Investor di Tengah Ancaman Komputer Kuantum

Prediksi Suram Bitcoin 2026: Survei Deutsche Bank Ungkap Keraguan Investor di Tengah Ancaman Komputer Kuantum

Perseteruan Sengit dengan Sektor Perbankan

Meski kemajuan telah dicapai, jalan menuju pengesahan Clarity Act tidaklah mulus. Sektor perbankan menjadi pihak yang paling vokal menyuarakan keberatan. Kelompok perdagangan bank besar berargumen bahwa draf yang diusulkan saat ini masih memiliki celah yang membahayakan. Mereka khawatir bahwa platform kripto seperti Coinbase tetap bisa menawarkan insentif tertentu yang, meskipun tidak disebut sebagai bunga, tetap dapat menarik simpanan nasabah keluar dari bank tradisional.

“Sangat penting bagi Kongres untuk memastikan regulasi ini tepat sasaran agar tidak memicu pelarian deposito yang masif,” ungkap perwakilan kelompok perbankan. Namun, Senator Tillis merespons kritik tersebut dengan menegaskan bahwa versi terbaru ini adalah produk konsensus yang sudah jauh lebih matang untuk mencegah risiko sistemik pada likuiditas bank.

Baca Juga

Ketangguhan Bitcoin di Level USD 75.000: CEO Tether Sebut Aset Kripto Ini Tak Terpatahkan Bak Baja

Ketangguhan Bitcoin di Level USD 75.000: CEO Tether Sebut Aset Kripto Ini Tak Terpatahkan Bak Baja

Ambisi Industri dan Dorongan Politik

Di sisi lain, raksasa industri seperti Coinbase terus mendesak agar proses legislasi dipercepat. Kebutuhan akan kerangka hukum yang jelas atau regulasi kripto yang pasti dianggap sebagai syarat mutlak bagi pertumbuhan industri jangka panjang. Dukungan pun datang dari pemerintahan saat ini yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump, yang dikabarkan sangat aktif mendorong agar aturan ini segera disahkan demi menjaga kepemimpinan AS dalam teknologi finansial global.

CEO Blockchain Association, Summer Mersinger, menilai langkah ini sebagai progres positif yang harus segera ditindaklanjuti oleh Komite Perbankan Senat tanpa penundaan lebih lanjut. Targetnya, pembahasan lintas partai akan dilakukan secara intensif pada bulan Mei ini guna mencapai keputusan final.

Tantangan Politik: Analogi Charlie Brown

Meskipun optimisme membuncah, realitas politik di Capitol Hill tetap menjadi tantangan tersendiri. Senator Bernie Moreno memberikan peringatan keras bahwa proses negosiasi dengan pihak oposisi terkadang terasa seperti drama klasik Charlie Brown yang mencoba menendang bola namun selalu ditarik di detik terakhir oleh Lucy van Pelt. Hal ini merujuk pada kebiasaan munculnya tuntutan baru di tengah negosiasi yang sudah hampir selesai.

“Kami telah bersikap sangat akomodatif terhadap berbagai masukan, namun pada satu titik, konsensus harus segera diputuskan,” tegas Moreno. Kekhawatiran ini cukup beralasan, mengingat riset dari American Bankers Association mengklaim bahwa keberadaan stablecoin dengan imbal hasil berpotensi menggerus kemampuan bank dalam menyalurkan kredit hingga 20%, yang pada akhirnya berdampak pada sektor UMKM dan pertanian.

Masa Depan Stablecoin dan Ekosistem Finansial

Penting untuk dipahami bahwa Clarity Act bukan sekadar aturan tentang bunga. Ini adalah upaya untuk mendefinisikan ulang bagaimana uang digital beroperasi dalam ekonomi modern. Jika stablecoin dapat diterima secara legal untuk transaksi harian tanpa merusak struktur perbankan, maka efisiensi sistem pembayaran global bisa meningkat drastis.

Bagi para investor, volatilitas yang terjadi saat ini merupakan respons alami terhadap proses pendewasaan sebuah kelas aset baru. Lonjakan saham Circle dan Coinbase adalah bukti nyata bahwa pasar sangat menghargai setiap langkah menuju legalitas. Namun, seperti pesan yang selalu digaungkan oleh para ahli, setiap keputusan investasi harus didasarkan pada analisis mendalam dan pemahaman terhadap risiko yang ada.

Kini, perhatian seluruh dunia tertuju pada Senat AS. Apakah Clarity Act akan menjadi gerbang pembuka bagi era emas kripto, atau justru menjadi titik balik yang membatasi inovasi? Satu yang pasti, perjalanan aset digital menuju pengakuan arus utama baru saja memasuki babak yang paling menentukan.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *