Ramalan Bitcoin Menuju USD 96.000: Saat Permintaan Institusi ‘Melumat’ Pasokan Pasar Hingga 500%

Andi Saputra | InfoNanti
05 Mei 2026, 06:51 WIB
Ramalan Bitcoin Menuju USD 96.000: Saat Permintaan Institusi 'Melumat' Pasokan Pasar Hingga 500%

InfoNanti — Dinamika pasar kripto global kembali memasuki fase krusial yang membuat para investor menahan napas. Seiring dengan semakin matangnya ekosistem aset digital, Bitcoin (BTC) kini tidak lagi dipandang sekadar aset spekulatif bagi ritel, melainkan telah menjelma menjadi komoditas utama bagi raksasa finansial dunia. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa Bitcoin berpotensi besar mencatat reli masif menuju angka psikologis USD 96.000 dalam waktu dekat, didorong oleh ketidakseimbangan antara pasokan yang kian langka dan permintaan institusi yang meledak tak terkendali.

Anomali Pasokan: Institusi Membeli 5 Kali Lipat dari Produksi Penambang

Salah satu pemicu utama kegairahan pasar saat ini adalah data yang dirilis oleh Capriole Investments. Charles Edwards, pendiri lembaga riset tersebut, menyoroti fenomena langka di mana permintaan dari entitas institusional kini melampaui jumlah produksi harian Bitcoin oleh para penambang dengan rasio yang mengejutkan: lima banding satu. Secara statistik, permintaan ini tercatat melonjak hingga 500 persen dibandingkan dengan suplai baru yang masuk ke pasar setiap harinya.

Baca Juga

Bitcoin Tembus Rekor USD 77.000: Menguak Manuver Militer AS di Balik Lonjakan Drastis Kripto

Bitcoin Tembus Rekor USD 77.000: Menguak Manuver Militer AS di Balik Lonjakan Drastis Kripto

Kondisi ini menciptakan apa yang disebut para analis sebagai ‘supply shock’. Sejak peristiwa halving pada tahun 2024, produksi harian Bitcoin menyusut menjadi hanya sekitar 450 BTC per hari. Namun, nafsu makan perusahaan publik, dana lindung nilai (hedge funds), dan pengelola dana ETF (Exchange Traded Funds) justru berada di titik tertinggi. Berdasarkan catatan sejarah, setiap kali rasio pembelian institusi mencapai level se-ekstrim ini, harga bitcoin cenderung merespons dengan lonjakan agresif hanya dalam hitungan hari.

Target USD 96.000: Realitas atau Sekadar Euforia?

Proyeksi harga di level USD 96.000 bukanlah angka yang muncul tanpa landasan data. Edwards menjelaskan bahwa jika berkaca pada pola historis, Bitcoin biasanya mengalami kenaikan rata-rata sebesar 24 persen dalam kurun waktu satu bulan setelah terjadinya lonjakan permintaan institusional yang signifikan. Mengingat Bitcoin baru-baru ini berhasil menembus barikade USD 80.000, kenaikan 24 persen secara matematis akan membawa mata uang kripto nomor satu ini mendarat di kisaran USD 96.000.

Baca Juga

Langkah Strategis Chris Giancarlo: Sang ‘Crypto Dad’ Resmi Bertransformasi Menjadi Penasihat Penuh Waktu Industri Kripto

Langkah Strategis Chris Giancarlo: Sang ‘Crypto Dad’ Resmi Bertransformasi Menjadi Penasihat Penuh Waktu Industri Kripto

Pergerakan ini menandakan kembalinya kepercayaan diri pasar setelah periode konsolidasi yang panjang. Di pasar investasi kripto, momentum adalah segalanya. Ketika harga mulai bergerak melampaui level tertinggi sepanjang masa (All-Time High), hal tersebut sering kali memicu efek bola salju yang menarik lebih banyak modal masuk, baik dari kalangan profesional maupun investor ritel yang takut ketinggalan momentum atau FOMO (Fear of Missing Out).

Badai Likuidasi dan Lonjakan Volume Perdagangan

Kenaikan harga menuju level USD 80.500 dalam 24 jam terakhir tidak terjadi tanpa korban. Data dari CoinGlass mengungkapkan bahwa lonjakan ini telah menghapus posisi ‘short’ senilai lebih dari USD 162 juta. Para trader yang bertaruh bahwa harga Bitcoin akan turun terpaksa melakukan likuidasi paksa, yang ironisnya justru menambah daya dorong bagi harga untuk merangkak naik lebih tinggi lagi.

Baca Juga

Era Baru Aset Digital: Jepang Resmi Akui Kripto Sebagai Produk Keuangan Resmi

Era Baru Aset Digital: Jepang Resmi Akui Kripto Sebagai Produk Keuangan Resmi

Volume perdagangan juga mencatatkan kenaikan fantastis sebesar 95 persen, mencapai nilai transaksi harian sekitar USD 34 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa likuiditas di pasar sedang sangat cair, dengan aktivitas jual-beli yang sangat intens. Tingginya volume perdagangan ini sering kali menjadi validasi bahwa tren kenaikan harga didukung oleh partisipasi pasar yang luas, bukan sekadar manipulasi oleh segelintir pihak atau ‘whales’.

Peran Strategis Korporasi dan ETF

Sentimen positif ini kian diperkuat oleh langkah-langkah strategis dari pemain besar di industri. Analis Taiki Maeda memprediksi adanya gelombang pembelian besar-besaran dari entitas korporasi yang memiliki strategi akumulasi agresif. Diperkirakan, dana sebesar USD 2 hingga USD 3 miliar akan dikucurkan untuk menambah pundi-pundi Bitcoin dalam waktu singkat, terutama menjelang pertengahan Mei. Instrumen keuangan seperti STRC diprediksi akan menjadi kendaraan utama bagi masuknya arus modal ini.

Baca Juga

Dominasi Jack Dorsey: Block Inc Amankan 28.355 Bitcoin, Bukti Nyata Strategi HODL Korporasi

Dominasi Jack Dorsey: Block Inc Amankan 28.355 Bitcoin, Bukti Nyata Strategi HODL Korporasi

Selain itu, analis teknikal kawakan Ali Martinez memberikan perspektif jangka panjang yang menarik. Menurut pemantauannya, Bitcoin masih berada dalam koridor tren naik (uptrend) yang sangat kuat yang telah terjaga sejak tahun 2017. Meskipun pasar sempat mengalami koreksi ke level USD 65.000 beberapa waktu lalu, Martinez melihat titik tersebut bukan sebagai akhir dari pasar bullish, melainkan fondasi kokoh bagi peluncuran harga ke level yang lebih tinggi.

Sinyal Waspada: Spekulasi vs Permintaan Riil

Namun, di tengah gegap gempita kenaikan harga, lembaga riset CryptoQuant memberikan peringatan yang patut diperhatikan bagi mereka yang bertransaksi di pasar spot. Terdapat indikasi bahwa kenaikan harga belakangan ini lebih banyak digerakkan oleh aktivitas di pasar futures atau kontrak berjangka, ketimbang permintaan langsung di pasar spot.

Data on-chain menunjukkan adanya divergensi atau perbedaan arah antara kenaikan harga dan indikator permintaan riil yang justru tercatat negatif sepanjang bulan April. Kondisi di mana harga naik namun permintaan di pasar spot menyusut sering kali dianggap sebagai sinyal bahwa pertumbuhan harga bersifat spekulatif. CryptoQuant memperingatkan bahwa pola ini memiliki kemiripan dengan awal fase pasar bearish pada tahun 2022, sehingga investor diingatkan untuk tetap menjaga manajemen risiko yang ketat.

Menavigasi Volatilitas di Masa Depan

Bagi para pelaku trading, volatilitas adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan peluang keuntungan yang luar biasa dalam waktu singkat, namun di sisi lain, ia menyimpan risiko kerugian yang sama besarnya. Kesenjangan antara sentimen institusi yang sangat bullish dan peringatan teknis mengenai spekulasi menciptakan dinamika pasar yang sangat menarik untuk disimak.

Apakah Bitcoin benar-benar akan menyentuh USD 96.000 dalam hitungan minggu? Ataukah pasar akan mengalami koreksi tajam akibat tekanan spekulasi di pasar berjangka? Yang pasti, keterlibatan institusi yang semakin dalam telah mengubah struktur pasar Bitcoin selamanya. Pergerakan harga kini tidak hanya bergantung pada tweet tokoh populer, tetapi pada keputusan-keputusan strategis di ruang rapat direksi perusahaan-perusahaan keuangan global.

Kesimpulan dan Disclaimer

Fenomena lonjakan permintaan institusi hingga 500 persen di atas produksi harian adalah bukti nyata bahwa kelangkaan Bitcoin semakin terasa. Meskipun target harga USD 96.000 terlihat sangat mungkin dicapai berdasarkan data historis, penting bagi setiap investor untuk melakukan analisis mandiri yang mendalam. Dinamika di pasar keuangan selalu penuh dengan ketidakpastian.

Disclaimer: Seluruh isi artikel ini bersifat informasi dan edukasi, bukan merupakan saran investasi resmi. Keputusan untuk membeli atau menjual aset kripto sepenuhnya berada di tangan pembaca. InfoNanti tidak bertanggung jawab atas segala keuntungan maupun kerugian yang timbul dari keputusan investasi yang diambil pembaca berdasarkan konten ini. Selalu gunakan dana dingin dan pahami risiko sebelum terjun ke dunia kripto yang fluktuatif.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *