Dominasi Jack Dorsey: Block Inc Amankan 28.355 Bitcoin, Bukti Nyata Strategi HODL Korporasi

Andi Saputra | InfoNanti
29 Apr 2026, 10:51 WIB
Dominasi Jack Dorsey: Block Inc Amankan 28.355 Bitcoin, Bukti Nyata Strategi HODL Korporasi

InfoNanti — Di tengah gejolak pasar global yang kian dinamis, langkah strategis Block Inc di bawah komando Jack Dorsey kembali menjadi sorotan tajam. Perusahaan raksasa teknologi finansial ini baru saja mengungkap detail kepemilikan aset digital mereka yang fantastis. Dalam laporan terbaru yang dirilis pada penghujung April 2026, Block mengonfirmasi bahwa mereka kini menggenggam total 28.355 unit Bitcoin (BTC).

Jika dikonversikan ke dalam mata uang Garuda, angka ini mencapai nilai yang mencengangkan, yakni sekitar Rp 37,95 triliun (berdasarkan asumsi kurs dolar AS di level Rp 17.250). Pengungkapan ini bukan sekadar pamer angka, melainkan bagian dari laporan Bukti Cadangan (Proof-of-Reserves) kuartal pertama tahun 2026 yang bertujuan untuk memperkuat transparansi di mata para investor dan pengguna setia mereka.

Baca Juga

Bitcoin Melambung Lewati USD 74.000, Ethereum Pimpin Kebangkitan Pasar Kripto Hari Ini

Bitcoin Melambung Lewati USD 74.000, Ethereum Pimpin Kebangkitan Pasar Kripto Hari Ini

Rincian Aset: Milik Pelanggan vs Kas Perusahaan

Membedah lebih dalam isi laporan tersebut, total 28.355 BTC tersebut tidak sepenuhnya merupakan milik internal perusahaan. Block Inc membagi aset tersebut menjadi dua kategori utama. Pertama, sebanyak 19.357 BTC senilai USD 1,5 miliar atau setara Rp 25,87 triliun merupakan aset yang dikelola atas nama pelanggan. Hal ini mencerminkan tingginya kepercayaan pengguna terhadap ekosistem Cash App untuk menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk investasi kripto.

Sementara itu, kategori kedua adalah aset yang masuk ke dalam kas internal perusahaan (corporate treasury). Di sini, Block memiliki 8.997 BTC dengan valuasi sekitar USD 692,3 juta atau kurang lebih Rp 11,94 triliun. Keberadaan aset ini menempatkan Block sebagai salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia, tepatnya berada di posisi ke-14, bersaing ketat dengan entitas besar lainnya seperti Trump Media.

Baca Juga

Efek Domino Stablecoin Berbunga: ABA Ingatkan Potensi Eksodus Besar-besaran Dana Perbankan

Efek Domino Stablecoin Berbunga: ABA Ingatkan Potensi Eksodus Besar-besaran Dana Perbankan

Transparansi On-Chain: Standar Baru Pasca-Runtuhnya FTX

Salah satu poin menarik yang ditekankan oleh manajemen Block adalah komitmen mereka terhadap transparansi. Perusahaan menyatakan bahwa siapapun kini dapat melakukan verifikasi secara independen melalui tanda tangan on-chain. Langkah ini memungkinkan publik untuk mengonfirmasi bahwa cadangan aset tersebut benar-benar ada dan dikendalikan secara aktif, bukan sekadar angka di atas kertas atau catatan historis semata.

Metode pelaporan semacam ini, yang dikenal dengan istilah Proof-of-Reserves, kian populer setelah skandal besar yang menimpa bursa aset digital FTX pada akhir tahun 2022. Industri kripto belajar dengan cara yang keras bahwa kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga. Dengan mengadopsi transparansi penuh, Block berusaha membangun fondasi kepercayaan yang lebih kokoh bagi institusi dan ritel yang ingin terjun ke dunia blockchain.

Baca Juga

Gurita Bisnis Digital: Mengupas Lonjakan Kekayaan Donald Trump Hingga USD 6,5 Miliar Lewat Sektor Kripto

Gurita Bisnis Digital: Mengupas Lonjakan Kekayaan Donald Trump Hingga USD 6,5 Miliar Lewat Sektor Kripto

Polemik Proof-of-Reserves: Kritik Pedas dari Michael Saylor

Namun, langkah transparan Block ini bukannya tanpa kritik. Menariknya, penentangan datang dari sesama pendukung fanatik Bitcoin, yakni Michael Saylor, Executive Chairman MicroStrategy. Dalam sebuah kesempatan, Saylor sempat melontarkan pendapat bahwa mempublikasikan alamat dompet kripto secara terbuka adalah strategi yang berisiko tinggi.

Saylor mengibaratkan transparansi alamat dompet dengan memberikan alamat rumah, nomor rekening bank, hingga nomor telepon anggota keluarga kepada publik. Menurutnya, hal ini justru mengekspos seluruh riwayat transaksi masa lalu dan potensi transaksi di masa depan, yang pada akhirnya dapat melemahkan keamanan bagi penerbit, kustodian, maupun investor itu sendiri. Bagi Saylor, Proof-of-Reserves hanyalah bukti kepemilikan aset yang tidak menjamin keamanan kewajiban perusahaan.

Baca Juga

Prediksi Bitcoin Tembus Rp 2,2 Miliar: Dampak Domino Ketegangan Global dan Perlombaan AI

Prediksi Bitcoin Tembus Rp 2,2 Miliar: Dampak Domino Ketegangan Global dan Perlombaan AI

Kinerja Finansial dan Ekosistem Cash App

Di balik tumpukan Bitcoin tersebut, Block Inc juga tengah mempersiapkan laporan laba kuartal pertama yang dijadwalkan meluncur pada awal Mei. Sebelumnya, pada kuartal keempat tahun 2025, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar USD 115,7 juta. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, namun fondasi bisnis mereka tetap terlihat kuat.

Salah satu mesin pertumbuhan utama mereka adalah Cash App. Dompet digital yang sangat populer di Amerika Serikat ini berhasil mencatatkan volume transaksi peer-to-peer yang masif, mencapai USD 218 miliar. Dari sisi bisnis Bitcoin saja, Cash App mampu menyumbangkan pendapatan sebesar USD 2,14 miliar dengan laba kotor sekitar USD 66 juta. Ini membuktikan bahwa integrasi teknologi finansial tradisional dengan aset kripto dapat menghasilkan sinergi bisnis yang menguntungkan.

Visi Masa Depan: Bitcoin Sebagai Protokol Internet

Bagi Jack Dorsey, investasi Block pada Bitcoin bukanlah sekadar spekulasi harga. Ada visi yang lebih besar di baliknya. Dorsey berambisi menjadikan Bitcoin sebagai protokol terbuka untuk transaksi finansial di seluruh dunia, layaknya internet yang menjadi protokol terbuka untuk informasi. Block saat ini tengah fokus mengembangkan berbagai produk pendukung, mulai dari alat penambangan (mining) hingga solusi penyimpanan mandiri (self-custody).

Langkah Block yang terus menambah kepemilikan Bitcoin secara bertahap, termasuk penambahan 108 BTC pada pertengahan 2025, menunjukkan keyakinan mereka bahwa Bitcoin adalah lindung nilai (hedge) terbaik terhadap inflasi mata uang fiat. Dengan harga Bitcoin yang sempat menyentuh angka fantastis di kisaran USD 117.000 atau sekitar Rp 1,9 miliar per koin, strategi “akumulasi perlahan” yang dilakukan Block terbukti membuahkan hasil manis secara valuasi.

Kesimpulan dan Catatan Penting Bagi Investor

Keberhasilan Block Inc dalam mengelola portofolio Bitcoin mereka memberikan sinyal kuat bahwa adopsi korporasi terhadap kripto terus berlanjut meskipun diwarnai berbagai perdebatan teknis. Transparansi yang ditawarkan melalui bukti cadangan mungkin memiliki pro dan kontra, namun hal tersebut menunjukkan evolusi industri menuju kematangan yang lebih baik.

Meski demikian, perlu diingat bahwa setiap langkah dalam dunia investasi, terutama di pasar kripto yang volatil, selalu membawa risiko. Para pembaca diharapkan untuk selalu melakukan riset mendalam dan analisis mandiri sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset digital. Masa depan teknologi blockchain memang menjanjikan, namun kecermatan dalam mengelola risiko tetap menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas finansial pribadi maupun korporasi.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *