Tragedi Eternal Darkness: 50 Jet Tempur Israel Luluhlantakkan Lebanon dalam 10 Menit di Tengah Rapuhnya Gencatan Senjata

Siti Rahma | InfoNanti
09 Apr 2026, 09:58 WIB
Tragedi Eternal Darkness: 50 Jet Tempur Israel Luluhlantakkan Lebanon dalam 10 Menit di Tengah Rapuhnya Gencatan Senjata

InfoNanti — Suasana tenang di jantung kota Beirut seketika berubah menjadi neraka dalam hitungan menit. Em Walid, seorang pemilik toko pakaian, masih ingat betul bagaimana suara ledakan yang memekakkan telinga merobek langit Lebanon pada Rabu (8/4/2026). “Bahkan kucing-kucing jalanan pun berlarian ketakutan,” ungkapnya dengan nada gemetar, menggambarkan kengerian serangan udara paling mematikan yang pernah melanda negeri itu dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan terbaru yang dihimpun tim redaksi menunjukkan angka korban yang sangat memprihatinkan. Sedikitnya 254 nyawa melayang dan lebih dari 1.160 orang lainnya menderita luka-luka akibat agresi udara tersebut. Namun, angka ini diprediksi masih akan terus bertambah seiring upaya tim penyelamat yang berjibaku mencari korban di balik gundukan puing bangunan yang hancur. Ini bukan sekadar eskalasi biasa, melainkan titik nadir dalam konflik Timur Tengah yang kian membara sejak awal bulan lalu.

Baca Juga

Drama Firdos Square: Mengenang Runtuhnya Patung Saddam Hussein dan Akhir Sebuah Era di Irak

Drama Firdos Square: Mengenang Runtuhnya Patung Saddam Hussein dan Akhir Sebuah Era di Irak

Ironi di Balik Meja Perundingan

Tragedi ini meletus hanya berselang beberapa jam setelah gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi diberlakukan. Namun, secercah harapan akan perdamaian itu rupanya tidak berlaku bagi Lebanon. Terjadi tumpang tindih klaim mengenai posisi Lebanon dalam kesepakatan dua minggu tersebut. Sementara Pakistan dan Iran bersikukuh bahwa Lebanon masuk dalam perjanjian, pihak Israel dan AS justru memiliki pandangan yang berbeda secara diametral.

Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Lebanon adalah “pertempuran terpisah,” sebuah narasi yang diamini oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut sama sekali tidak mencakup wilayah Lebanon. Dania Arayssi, seorang analis senior dari New Lines Institute for Strategy and Policy, menilai bahwa Netanyahu sengaja memanfaatkan situasi yang masih cair ini untuk memaksimalkan capaian operasional militernya sebelum tekanan internasional benar-benar mengikat tangan mereka.

Baca Juga

Ketegangan di Washington: Trump Konfirmasi Penangkapan Pelaku Penembakan Saat Gala Makan Malam Gedung Putih

Ketegangan di Washington: Trump Konfirmasi Penangkapan Pelaku Penembakan Saat Gala Makan Malam Gedung Putih

Operasi ‘Eternal Darkness’ dan Kehancuran Massal

Di medan tempur, militer Israel (IDF) meluncurkan operasi kilat yang mereka beri nama menyeramkan: “Eternal Darkness”. Melansir laporan dari Times of Israel, sebanyak 50 jet tempur dikerahkan untuk menjatuhkan sekitar 160 bom ke 100 titik strategis yang diklaim sebagai basis kekuatan Hizbullah. Seluruh serangan masif ini dilakukan hanya dalam kurun waktu 10 menit, sebuah demonstrasi kekuatan udara yang sangat destruktif.

Ironisnya, serangan yang diklaim sebagai respons terencana terhadap posisi Hizbullah ini justru menghantam banyak kawasan permukiman padat penduduk tanpa adanya peringatan dini. Akibatnya, rumah sakit di seantero negeri, termasuk American University of Beirut Medical Center di kawasan Hamra, kini berada dalam kondisi kritis akibat gelombang pasien yang membludak.

Baca Juga

Ambisi Baru Gedung Putih: Donald Trump Lempar Wacana Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51 Amerika Serikat

Ambisi Baru Gedung Putih: Donald Trump Lempar Wacana Venezuela Jadi Negara Bagian ke-51 Amerika Serikat
  • Sedikitnya 254 korban jiwa terkonfirmasi hingga saat ini.
  • Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
  • Sekitar 1.700 nyawa telah melayang sejak serangan darat dan udara ditingkatkan pada awal Maret.

Suara dari Balik Reruntuhan

Di tengah kepulan asap yang masih menyelimuti langit kota, seorang mahasiswa filsafat di American University of Beirut menceritakan pengalamannya saat gelombang bom pertama jatuh. Ia melihat asap membubung tinggi dari berbagai titik di penjuru kota. Saudaranya yang berada di Distrik Aley beruntung bisa selamat, meski tetangga dekatnya tewas seketika terkena hantaman bom.

Hizbullah sendiri menegaskan bahwa mereka memiliki hak sah untuk melakukan perlawanan. Kelompok ini menyatakan bahwa darah para martir tidak akan tumpah sia-sia, dan agresi ini justru memperkuat legitimasi mereka untuk membalas setiap serangan yang dilakukan oleh pasukan pendudukan. Namun, dengan pernyataan Netanyahu yang memastikan operasi militer akan terus berlanjut, masa depan kemanusiaan di Lebanon kini berada di ujung tanduk, terjepit di antara kepentingan geopolitik global dan ambisi militer yang tak kunjung usai.

Baca Juga

Tragedi di Tepi Barat: Kisah Pilu Sabriya Shamasneh, Lansia Palestina yang Tewas dalam Penggerebekan Israel

Tragedi di Tepi Barat: Kisah Pilu Sabriya Shamasneh, Lansia Palestina yang Tewas dalam Penggerebekan Israel
Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *