Ramalan Buruk Jeremy Grantham: Mengapa Bitcoin Diprediksi Akan Menua dan Menghilang Secara Perlahan?

Andi Saputra | InfoNanti
28 Jun 2026, 14:51 WIB
Ramalan Buruk Jeremy Grantham: Mengapa Bitcoin Diprediksi Akan Menua dan Menghilang Secara Perlahan?

InfoNanti — Di tengah hiruk-pikuk pasar aset digital yang kerap menjanjikan kekayaan instan, sebuah suara peringatan keras menggema dari salah satu tokoh paling disegani di dunia investasi, Jeremy Grantham. Co-founder dari perusahaan manajemen aset GMO ini kembali melontarkan kritik tajam yang menohok jantung komunitas kripto. Grantham, yang dikenal luas karena kemampuannya mendeteksi gelembung pasar sebelum meletus, memprediksi bahwa Bitcoin (BTC) tidak akan berakhir dengan sebuah ledakan besar yang dramatis, melainkan akan memudar secara perlahan dalam kesunyian.

Pandangan Grantham ini bukan sekadar skeptisisme biasa. Baginya, Bitcoin adalah anomali dalam dunia keuangan yang tidak memiliki fondasi nilai yang nyata. Dalam sebuah wawancara mendalam, ia menegaskan bahwa aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia ini akan secara bertahap kehilangan relevansinya selama beberapa dekade mendatang. Ia melihat sebuah pola di mana antusiasme publik akan terkikis oleh realitas kegunaan yang minim.

Baca Juga

Boom Investasi Kripto di Indonesia: Menembus 21 Juta Investor, Masa Depan Aset Digital Kian Berkilau

Boom Investasi Kripto di Indonesia: Menembus 21 Juta Investor, Masa Depan Aset Digital Kian Berkilau

Filosofi Kekosongan: Mengapa Grantham Begitu Skeptis?

Inti dari kritik Grantham terletak pada absennya nilai intrinsik dalam Bitcoin. Berbeda dengan saham yang mewakili kepemilikan dalam perusahaan yang menghasilkan laba, atau obligasi yang menjanjikan aliran kas, Bitcoin dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Grantham menilai bahwa kenaikan harganya selama ini murni didorong oleh psikologi massa dan spekulasi tanpa dasar fundamental yang kokoh.

“Selama bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan tahun, nilainya akan terus menyusut. Saya rasa ini bukan tentang sebuah ‘ledakan’ besar yang menghancurkan segalanya dalam semalam, melainkan sebuah ‘rintihan’ panjang yang menandai akhir dari relevansinya,” ujar Grantham dengan nada reflektif. Analogi ini menggambarkan sebuah proses degradasi nilai yang lambat namun pasti, di mana investor secara perlahan mulai menyadari bahwa aset yang mereka genggam tidak memberikan manfaat praktis di dunia nyata.

Baca Juga

Strategi Baru Michael Saylor: Alasan di Balik Keputusan Mengejutkan Strategy Melepas Sebagian Aset Bitcoin

Strategi Baru Michael Saylor: Alasan di Balik Keputusan Mengejutkan Strategy Melepas Sebagian Aset Bitcoin

Ketidakstabilan yang Menghantui Kepercayaan Investor

Salah satu poin krusial yang disoroti oleh Grantham adalah kegagalan Bitcoin untuk berfungsi sebagai penyimpan nilai yang stabil (store of value). Meskipun sering digadang-gadang sebagai ‘emas digital’, volatilitas Bitcoin yang ekstrem justru membuktikan sebaliknya. Grantham menunjuk pada fakta bahwa nilai Bitcoin bisa anjlok hingga separuhnya tanpa alasan ekonomi yang jelas, bahkan di saat kondisi ekonomi makro sedang berada dalam posisi yang kuat.

“Ini bukanlah bentuk nilai yang stabil. Bagaimana mungkin Anda bisa bergantung pada sesuatu yang harganya bisa jatuh bebas dalam waktu singkat tanpa ada pemicu fundamental?” tambahnya. Bagi Grantham, stabilitas adalah syarat mutlak bagi sebuah aset untuk bisa diandalkan dalam jangka panjang. Ketidakhadiran stabilitas ini membuat Bitcoin tetap berada di ranah investasi berisiko tinggi yang lebih mirip dengan perjudian daripada perencanaan keuangan yang matang.

Baca Juga

Misteri 1.096 BTC di Balik Layar Cardano: Charles Hoskinson Buka Suara Terkait Jejak Audit Masa Lalu

Misteri 1.096 BTC di Balik Layar Cardano: Charles Hoskinson Buka Suara Terkait Jejak Audit Masa Lalu

Emas vs Bitcoin: Pertarungan Antara Kepastian dan Tren

Sebagai seorang pengamat pasar yang telah melewati berbagai siklus ekonomi, Grantham membandingkan performa Bitcoin dengan emas. Meskipun emas juga mengalami fluktuasi, ia menilai logam mulia tersebut tetap memberikan keuntungan yang solid dan memiliki rekam jejak ribuan tahun sebagai aset pelindung nilai. Emas memiliki kegunaan fisik dan tempat yang mapan dalam sejarah peradaban manusia, sesuatu yang belum dan mungkin tidak akan pernah dimiliki oleh Bitcoin.

Menurut Grantham, Bitcoin belum terbukti mampu bertahan dalam berbagai kondisi pasar yang ekstrem dengan cara yang dilakukan oleh emas. Selama periode pasar bullish, Bitcoin memang melonjak tinggi, namun seringkali gagal mempertahankan momentumnya ketika sentimen berubah. Hal ini memperkuat argumennya bahwa Bitcoin lebih merupakan instrumen spekulatif yang menunggangi gelombang likuiditas global daripada aset yang memiliki daya tahan intrinsik.

Baca Juga

Aksi Heroik Polisi Shanghai: Gagalkan Penipuan Bitcoin Ratusan Juta yang Sasar Lansia

Aksi Heroik Polisi Shanghai: Gagalkan Penipuan Bitcoin Ratusan Juta yang Sasar Lansia

Krisis Utilitas di Dunia Nyata

Pertanyaan besar yang diajukan oleh InfoNanti melalui analisis ini adalah: Untuk apa sebenarnya Bitcoin digunakan? Grantham berpendapat bahwa penggunaan praktis Bitcoin dalam aktivitas perdagangan sehari-hari hampir tidak ada. Orang-orang tidak menggunakan Bitcoin untuk membeli makan malam atau membayar belanjaan di supermarket secara masif. Hambatan teknis, biaya transaksi yang fluktuatif, dan waktu pemrosesan menjadikannya tidak efisien untuk transaksi ritel.

Lebih jauh lagi, Grantham menyinggung sisi gelap dari anonimitas yang ditawarkan oleh teknologi blockchain. Ia menyatakan bahwa salah satu utilitas nyata yang dominan saat ini adalah memfasilitasi aktivitas ilegal. “Yang dilakukan Bitcoin saat ini adalah memungkinkan para kriminal untuk memindahkan uang dengan lebih mudah,” klaimnya. Kritik ini tentu menambah beban moral bagi para investor yang peduli terhadap aspek regulasi dan etika dalam berinvestasi.

Philippe Laffont dan Pergeseran Kiblat ke AI serta Luar Angkasa

Senada dengan Grantham, miliarder lain seperti Philippe Laffont dari Coatue Management juga mulai menunjukkan keraguan yang sama. Laffont, yang dikenal sebagai investor teknologi ulung, mengaku semakin tidak yakin dengan masa depan jangka panjang Bitcoin. Baginya, daya tarik Bitcoin mulai memudar seiring munculnya alternatif investasi lain yang lebih menjanjikan dan lebih mudah untuk dievaluasi secara fundamental.

Laffont menyoroti bahwa di masa lalu, Bitcoin diuntungkan karena kurangnya opsi spekulatif yang menarik bagi investor. Namun kini, lanskap telah berubah total. Kehadiran stablecoin dan munculnya sektor-sektor revolusioner seperti Kecerdasan Buatan (AI) serta eksplorasi luar angkasa melalui perusahaan seperti SpaceX telah mendiversifikasi pilihan investor. “Saya lebih suka bertaruh pada SpaceX yang nilainya bisa berlipat ganda dalam 20 tahun ke depan, atau pada model-model AI yang memiliki dampak nyata bagi produktivitas global,” ungkap Laffont.

Psikologi Pasar: Antara Inovasi dan Fanatisme “Sekte”

Salah satu fenomena menarik yang diamati oleh para miliarder ini adalah perilaku komunitas Bitcoin yang menyerupai sekte. Laffont mencatat bahwa diskusi mengenai Bitcoin seringkali tidak lagi bersifat objektif. Investor cenderung terbagi menjadi dua kubu ekstrem: pendukung fanatik atau penentang keras. Sifat “all-in” dari para penganut kripto ini membuat evaluasi risiko menjadi bias.

Di media sosial, pernyataan skeptis dari tokoh sekaliber Laffont atau Grantham seringkali disambut dengan reaksi keras oleh para trader. Namun, ada pula suara-suara yang mulai setuju bahwa Wall Street telah “merampas jiwa” dari Bitcoin. Sejak institusi keuangan besar mulai masuk, esensi desentralisasi yang menjadi semangat awal Bitcoin perlahan mulai terkikis, mengubahnya menjadi sekadar komoditas spekulatif lainnya yang membosankan bagi para visioner teknologi.

Masa Depan yang Penuh Ketidakpastian

Saat ini, harga Bitcoin masih berjuang untuk kembali ke level tertingginya. Dengan penurunan lebih dari 50% dari puncaknya dan berada di kisaran di bawah US$ 60.000, banyak analis yang memperkirakan bahwa fase konsolidasi atau bahkan penurunan lebih lanjut masih akan terjadi. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap siklus pasar bearish, Bitcoin bisa terkoreksi hingga 70% atau lebih.

Kesimpulannya, pesan dari Grantham dan Laffont melalui laporan eksklusif InfoNanti ini adalah sebuah pengingat tentang pentingnya kewaspadaan. Dunia keuangan selalu bergerak dinamis, dan aset yang hari ini dianggap sebagai masa depan bisa saja menjadi peninggalan masa lalu di hari esok. Bagi investor, memahami perbedaan antara tren spekulatif dan inovasi yang memiliki utilitas jangka panjang adalah kunci untuk bertahan di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks.

Disclaimer: Keputusan untuk melakukan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Pastikan untuk melakukan riset mendalam dan konsultasi dengan ahli keuangan sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual aset kripto. InfoNanti tidak bertanggung jawab atas potensi kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul dari keputusan investasi Anda.

Andi Saputra

Andi Saputra

Analis crypto dan blockchain enthusiast sejak 2017.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *