Kebangkitan Sang ‘King of the North’: Profil Lengkap Andy Burnham dalam Bursa Calon PM Inggris

Siti Rahma | InfoNanti
23 Jun 2026, 08:52 WIB
Kebangkitan Sang 'King of the North': Profil Lengkap Andy Burnham dalam Bursa Calon PM Inggris

InfoNanti — Di tengah gejolak politik Britania Raya yang tak menentu, sebuah nama lama kembali mencuat dengan narasi baru yang lebih kuat. Andy Burnham, sosok yang pernah dua kali menelan pil pahit dalam perebutan kursi pimpinan Partai Buruh, kini seolah sedang menulis babak penutup yang manis untuk karier politiknya. Pasca pengunduran diri Keir Starmer, angin segar mulai berembus ke arah Burnham, menandai kembalinya sang ‘putra daerah’ ke pusat kekuasaan di Westminster.

Kemenangan telaknya dalam pemilihan sela di daerah pemilihan Makerfield bukan sekadar angka di atas kertas. Dengan keunggulan lebih dari 9.000 suara di atas kandidat Reform UK, Burnham membuktikan bahwa magnet politiknya masih sangat kuat. Ia berhasil mendongkrak perolehan suara partai dari 45 persen menjadi hampir 55 persen, sebuah sinyal bagi para petinggi di London bahwa mandat rakyat di utara Inggris kini berada dalam genggamannya.

Baca Juga

Harmoni di Tanah Para Martir: Misi Perdamaian Paus Leo XIV Membasuh Luka Sejarah Aljazair

Harmoni di Tanah Para Martir: Misi Perdamaian Paus Leo XIV Membasuh Luka Sejarah Aljazair

Akar Liverpool dan Romantisme Kelas Pekerja

Lahir di Liverpool pada tahun 1970, Andy Burnham bukan datang dari dinasti politik kelas atas. Ia tumbuh besar di Culcheth, sebuah desa bersahaja di Cheshire. Ayahnya adalah seorang teknisi perusahaan telekomunikasi BT, sementara ibunya bekerja sebagai resepsionis praktik dokter umum. Latar belakang ini membentuk fondasi ideologinya sebagai pembela kelas pekerja yang autentik.

Ketertarikan Burnham pada dunia politik Inggris tidak muncul dari buku teks formal, melainkan dari realitas sosial yang ia saksikan di layar kaca. Pada usia 14 tahun, ia tergerak untuk bergabung dengan Partai Buruh setelah menonton drama legendaris BBC, Boys from the Blackstuff. Drama tersebut menggambarkan getirnya hidup para pengangguran di Liverpool, sebuah narasi yang membakar semangat mudanya untuk membawa perubahan.

Baca Juga

Jejak Dahsyat Novarupta: Mengenang Letusan Gunung Berapi Terbesar di Abad ke-20 yang Mengubah Alaska

Jejak Dahsyat Novarupta: Mengenang Letusan Gunung Berapi Terbesar di Abad ke-20 yang Mengubah Alaska

Selain politik, napas hidup Burnham adalah sepak bola Everton. Di masa sekolahnya di sebuah sekolah menengah Katolik negeri, ia dikenal sebagai sosok yang sangat kompetitif. Bakat olahraganya bahkan membawanya menjadi pelempar cepat dalam tim kriket Lancashire Schoolboys. Namun, ambisi akademisnya tidak kalah tajam. Bersama kedua saudara laki-lakinya, Burnham menjadi generasi pertama dalam keluarganya yang berhasil menembus tembok Universitas Cambridge untuk mendalami Sastra Inggris.

Pergulatan Identitas di Menara Gading Cambridge

Masa-masa di Cambridge tidak selalu mudah bagi Burnham. Dalam memoarnya yang bertajuk Head North, ia secara jujur mengungkapkan perasaan terasing atau merasa sebagai “orang luar” di tengah lingkungan kampus yang elit. Namun, di sinilah karakter Burnham teruji. Ia menemukan pelarian sekaligus identitas dalam musik indie Inggris Utara.

Baca Juga

Jendela Alam Semesta: Mengenang 34 Tahun Peluncuran Teleskop Hubble yang Mengubah Sejarah Astronomi Modern

Jendela Alam Semesta: Mengenang 34 Tahun Peluncuran Teleskop Hubble yang Mengubah Sejarah Astronomi Modern

Lirik-lirik dari The Smiths dan energi dari The Stone Roses bukan sekadar hiburan baginya, melainkan jangkar yang menghubungkannya kembali ke akar budayanya di Manchester dan Liverpool. Musik inilah yang memberinya rasa percaya diri untuk tetap menjadi dirinya sendiri di tengah kepungan tradisi London yang kaku. Setelah lulus, ia sempat mencicipi dunia jurnalisme di majalah industri sebelum akhirnya pintu menuju Westminster terbuka melalui peran sebagai peneliti bagi Tessa Jowell.

Menapak Tangga Kekuasaan dan Tragedi Hillsborough

Karier politik Burnham melesat bak meteor. Setelah mengabdi sebagai penasihat khusus Menteri Kebudayaan Chris Smith, ia terpilih menjadi anggota parlemen (MP) untuk wilayah Leigh di Greater Manchester pada tahun 2001. Di bawah pemerintahan Tony Blair dan Gordon Brown, ia menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari menteri junior hingga menjabat sebagai Menteri Kesehatan.

Baca Juga

Keajaiban di Balik Puing: Kisah Penyelamatan Bayi Kucing ‘Tornado’ yang Bertahan dari Amukan Badai Mississippi

Keajaiban di Balik Puing: Kisah Penyelamatan Bayi Kucing ‘Tornado’ yang Bertahan dari Amukan Badai Mississippi

Salah satu tonggak sejarah yang paling mengharukan dalam kariernya adalah ketika ia menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Media, dan Olahraga. Burnham dengan berani mengangkat kembali luka lama Tragedi Hillsborough ke meja kabinet. Insiden tahun 1989 yang menewaskan 97 pendukung Liverpool tersebut telah lama diabaikan secara hukum. Kegigihan Burnham mendorong pembukaan kembali penyelidikan yang akhirnya memberikan keadilan bagi keluarga korban, sebuah langkah yang mengukuhkan reputasinya sebagai politikus yang memiliki nurani.

Dua Kegagalan yang Mendewasakan

Jalan menuju puncak kekuasaan partai tidaklah mulus. Setelah pengunduran diri Gordon Brown pada 2010, Burnham maju dalam pemilihan pemimpin partai namun berakhir di posisi keempat, kalah dari Ed Miliband. Lima tahun kemudian, ia mencoba lagi dengan optimisme tinggi, namun justru tersapu oleh gelombang kiri yang dibawa oleh Jeremy Corbyn.

Kritik sering menghampiri Burnham, terutama mengenai sikapnya yang dianggap terlalu fleksibel mengikuti arah angin partai. Saat referendum Brexit, ia secara vokal mendukung Inggris tetap di Uni Eropa. Namun, saat arus partai bergerak lebih ke kiri di bawah Corbyn, ia tetap bertahan di kabinet bayangan sebagai menteri dalam negeri bayangan, bahkan mulai menyuarakan ide-ide radikal seperti nasionalisasi sektor energi dan air.

Transformasi Menjadi ‘King of the North’

Pada tahun 2017, Burnham mengambil keputusan berani untuk meninggalkan hiruk-pikuk Westminster dan mencalonkan diri sebagai Wali Kota Greater Manchester pertama. Keputusan ini terbukti menjadi langkah jenius. Ia memenangkan pemilihan dengan lebih dari 60 persen suara, sebuah kemenangan mutlak yang ia ulangi dengan margin lebih besar pada 2021.

Sebagai wali kota, ia melakukan revolusi pada sistem transportasi publik. Ia berhasil menciptakan ‘Bee Network’, sebuah sistem yang mengintegrasikan bus dan moda lainnya di bawah kendali publik, mirip dengan model yang ada di London. Namun, namanya benar-benar meledak secara nasional saat pandemi COVID-19 melanda. Burnham dengan lantang melawan kebijakan pusat yang dianggap tidak adil terhadap wilayah utara, menuding pemerintah London bertindak dengan rasa hina terhadap masyarakatnya. Dari sinilah julukan ‘King of the North’ lahir.

Masa Depan: Menuju Kursi Perdana Menteri?

Kini, dengan dukungan dari tokoh-tokoh kunci seperti Wes Streeting, Burnham kembali ke panggung nasional dengan profil yang jauh lebih matang. Ia bukan lagi sekadar politikus karier dari Westminster, melainkan seorang pemimpin daerah yang telah teruji di lapangan. Meski pernyataannya tentang kebijakan fiskal dan pasar obligasi sempat menuai kontroversi, pengaruhnya di kalangan pemilih akar rumput tidak bisa dipandang sebelah mata.

Tantangan terbesar Burnham ke depan adalah menyeimbangkan identitasnya sebagai pembela wilayah utara dengan kebutuhan untuk merangkul seluruh spektrum pemilih di Inggris. Di tengah tekanan dari ekonomi Inggris yang dinamis dan bangkitnya kekuatan politik baru seperti Reform UK, Andy Burnham muncul sebagai sosok yang menawarkan stabilitas dengan sentuhan personal yang kuat. Apakah kali ketiga ini akan menjadi keberuntungan baginya untuk akhirnya melangkah masuk ke 10 Downing Street? Hanya waktu yang akan menjawab.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *