Manipulasi Opini Publik: Bagaimana Akun Palsu Asal China ‘Membajak’ ChatGPT untuk Guncang Stabilitas Amerika Serikat

Dewi Lestari | InfoNanti
13 Jun 2026, 18:51 WIB
Manipulasi Opini Publik: Bagaimana Akun Palsu Asal China 'Membajak' ChatGPT untuk Guncang Stabilitas Amerika Serikat

InfoNanti — Dunia siber kembali diguncang oleh temuan mengejutkan terkait penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan dalam skala masif. OpenAI, perusahaan di balik fenomena chatbot global, baru-baru ini membongkar sebuah operasi rahasia yang melibatkan jaringan akun palsu yang diduga kuat berbasis di China. Operasi ini tidak main-main; mereka bukan sekadar mencoba teknologi, melainkan menggunakan ChatGPT sebagai instrumen propaganda terstruktur guna memanipulasi opini publik di Amerika Serikat (AS).

Dalam laporan investigasi mendalamnya, OpenAI mengidentifikasi adanya upaya sistematis untuk menyusup ke dalam perdebatan domestik AS yang sensitif. Temuan ini menyoroti bagaimana kecerdasan buatan kini telah berevolusi menjadi pedang bermata dua: sebagai alat bantu produktivitas sekaligus senjata dalam perang informasi lintas negara. Jaringan ini diketahui terbagi ke dalam dua faksi utama dengan target dan strategi narasi yang berbeda namun memiliki tujuan akhir yang sama, yakni menciptakan instabilitas dan skeptisisme terhadap kebijakan pemerintah Washington.

Baca Juga

Era Baru IoT Oppo: Bedah Spesifikasi dan Harga Oppo Enco Clip2 serta Watch X3 yang Resmi Masuk Indonesia

Era Baru IoT Oppo: Bedah Spesifikasi dan Harga Oppo Enco Clip2 serta Watch X3 yang Resmi Masuk Indonesia

Operasi Bayangan: Mengenal Kelompok ‘Data Center Bandwagon’

Faksi pertama yang berhasil diidentifikasi oleh tim keamanan OpenAI dijuluki sebagai “Data Center Bandwagon”. Kelompok ini memiliki fokus yang sangat spesifik, yaitu menyerang ambisi Amerika Serikat dalam membangun infrastruktur AI yang masif. Modus operandi mereka terbilang cukup canggih dan kreatif. Alih-alih hanya menyebarkan teks propaganda yang kaku, mereka memerintahkan ChatGPT untuk menyusun argumen dalam bahasa Inggris yang mengalir serta merancang ilustrasi visual yang persuasif, termasuk dalam bentuk komik strip.

Narasi utama yang diusung oleh kelompok ini adalah dampak negatif pembangunan pusat data (data center) AI terhadap kehidupan masyarakat lokal. Mereka menyebarkan kekhawatiran bahwa fasilitas teknologi raksasa tersebut akan menguras pasokan listrik daerah secara drastis. Akibatnya, masyarakat dihasut untuk percaya bahwa keberadaan teknologi AI di wilayah mereka adalah penyebab utama meroketnya tagihan listrik bulanan. Melalui platform media sosial, para operator akun palsu ini menyamar sebagai warga lokal Amerika, menyebarkan konten hasil generator AI tersebut seolah-olah itu adalah keluhan tulus dari tetangga sebelah rumah.

Baca Juga

Harga Huawei MatePad 11.5 S: Tablet Revolusioner dengan Layar PaperMatte dan Performa Setara Laptop

Harga Huawei MatePad 11.5 S: Tablet Revolusioner dengan Layar PaperMatte dan Performa Setara Laptop

Strategi Manipulasi di Balik Layar: Dokumen Rahasia yang Terungkap

Salah satu temuan paling menarik dalam investigasi ini adalah kecerobohan para pelaku yang justru mengunggah dokumen strategi internal mereka langsung ke ChatGPT. Dokumen tersebut berisi panduan komprehensif tentang cara melakukan manipulasi opini publik secara efektif. Di dalamnya tercantum trik-trik untuk membuat akun palsu yang mampu lolos dari deteksi keamanan platform media sosial, hingga instruksi spesifik mengenai gaya bahasa yang harus digunakan agar terlihat seperti penutur asli Amerika.

OpenAI menduga kuat bahwa jaringan ini dikelola oleh tim media sosial profesional dari sebuah perusahaan swasta di China. Perusahaan ini disinyalir bekerja di bawah kontrak untuk klien yang berasal dari pemerintah daerah setempat di China. Hal ini menunjukkan adanya ekosistem komersial yang mulai terbentuk di mana penyedia jasa disinformasi digital menjual keahlian mereka kepada aktor politik untuk melancarkan serangan siber secara halus namun berdampak luas.

Baca Juga

Digiland Run 2026: Strategi Telkomsel Menaklukkan ‘The Racevolution’ dan Tantangan Infrastruktur Digital

Digiland Run 2026: Strategi Telkomsel Menaklukkan ‘The Racevolution’ dan Tantangan Infrastruktur Digital

Target Spesifik: Intimidasi Terhadap Diaspora dan Aktivis

Selain menyasar masyarakat umum di Amerika Serikat, operasi ini juga memiliki sisi gelap yang lebih personal. Mereka secara sistematis melancarkan serangan terhadap komunitas diaspora China yang tinggal di luar negeri, terutama para aktivis politik yang vokal mengkritik kebijakan Beijing. ChatGPT dimanfaatkan untuk memproduksi rangkaian kalimat makian, pelecehan digital, hingga narasi intimidatif yang ditujukan untuk membungkam para pembangkang politik tersebut.

Para pelaku seringkali menyamar sebagai sesama imigran atau profesional asal China yang sukses di AS untuk mendekati target mereka. Dalam interaksi daring, mereka terus-menerus memprovokasi tokoh-tokoh berpengaruh agar beralih fokus untuk membicarakan kegagalan kebijakan domestik pemerintah AS daripada menyoroti isu-isu di tanah air mereka. Strategi ini dikenal sebagai taktik pengalihan isu yang dirancang untuk memecah konsentrasi para aktivis dan menciptakan perpecahan di dalam komunitas diaspora.

Baca Juga

Xiaomi Smart Band 10 Pro Resmi Meluncur: Revolusi Layar 2000 Nits dan Baterai Super Awet 21 Hari

Xiaomi Smart Band 10 Pro Resmi Meluncur: Revolusi Layar 2000 Nits dan Baterai Super Awet 21 Hari

Memanfaatkan Data Nyata untuk Membungkus Kebohongan

Untuk membuat propaganda mereka terlihat valid di mata publik, akun-akun palsu ini tidak sepenuhnya menggunakan informasi fiktif. Mereka dengan cerdik menyisipkan tautan dari berita media arus utama yang sah, terutama laporan mengenai lelang kapasitas operator jaringan listrik dan ketersediaan energi. Langkah ini sangat efektif karena memanfaatkan keresahan masyarakat yang memang nyata terjadi. Fenomena lonjakan tarif listrik di sekitar area pusat data AI bukanlah isapan jempol semata.

Berdasarkan data dari Bloomberg, tarif listrik di beberapa wilayah yang berdekatan dengan pusat data memang tercatat meroket hingga 267 persen dalam lima tahun terakhir. Hal ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara pasokan energi dan permintaan yang masif dari fasilitas AI. Dengan membungkus narasi politik mereka di balik fakta ekonomi yang nyata, kelompok “Data Center Bandwagon” berhasil menciptakan propaganda digital yang sangat sulit dibedakan dari opini publik yang autentik oleh pengguna media sosial biasa.

Faksi Kedua: Diplomasi ‘Tikam dari Belakang’

Sementara kelompok pertama berfokus pada isu energi, kelompok kedua yang diidentifikasi oleh OpenAI memiliki agenda geopolitik yang lebih luas. Mereka fokus memproduksi konten yang mengkritik kebijakan tarif perdagangan dan dominasi teknologi AS. Salah satu narasi yang paling sering digaungkan adalah tuduhan bahwa Amerika Serikat sering kali “menusuk dari belakang” negara-negara sekutunya sendiri demi kepentingan ekonomi sepihak.

Menariknya, kelompok ini memiliki protokol keamanan yang sangat ketat terkait simbolisme politik. Mereka secara spesifik menginstruksikan ChatGPT untuk tidak pernah memunculkan wajah Presiden China Xi Jinping dalam visual apa pun yang dihasilkan. Selain itu, mereka memerintahkan agar konten propaganda ditulis dalam berbagai bahasa, mulai dari Inggris, Italia, Jepang, hingga Mandarin Tradisional. Penggunaan Mandarin Tradisional ini secara eksplisit menunjukkan bahwa audiens di Taiwan adalah salah satu target utama dalam upaya destabilisasi informasi ini.

Kegagalan Algoritma dalam Menarik Perhatian Publik

Meskipun operasi siber ini direncanakan dengan sangat matang dan menggunakan teknologi terbaru, OpenAI mencatat sebuah kabar baik: kampanye tersebut bisa dikatakan gagal total secara dampak. Berdasarkan analisis data, konten-konten yang disebarkan oleh jaringan akun palsu ini tidak mendapatkan keterlibatan atau engagement yang berarti dari pengguna asli di media sosial. Sebagian besar unggahan mereka hanya berakhir di ruang hampa digital tanpa ada yang membagikan ulang atau memberikan komentar secara organik.

Namun, para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa kita tidak boleh lengah. Signifikansi dari temuan ini bukan terletak pada keberhasilannya memengaruhi massa hari ini, melainkan pada keberanian aktor asing untuk mencoba menyusup ke dalam struktur demokrasi digital negara lain. Ini adalah sebuah pengujian (testing ground) bagi mereka untuk melihat seberapa jauh kecerdasan buatan dapat digunakan untuk mengotomatisasi pembuatan konten propaganda yang terasa personal dan lokal.

Teka-Teki Penggunaan ChatGPT di Tengah Dominasi Teknologi Domestik

Hingga saat ini, sebuah pertanyaan besar masih menghantui para peneliti di OpenAI. Mengapa para pelaku yang diduga berbasis di China ini memilih menggunakan ChatGPT—teknologi buatan Amerika Serikat—daripada memanfaatkan chatbot canggih buatan dalam negeri mereka sendiri seperti DeepSeek atau Ernie Bot? Padahal, China dikenal memiliki regulasi ketat dan dukungan besar bagi pengembangan AI domestik mereka.

Beberapa spekulasi menyebutkan bahwa ChatGPT dipilih karena kemampuannya dalam memahami nuansa budaya dan idiom bahasa Inggris Amerika jauh lebih unggul, yang mana sangat krusial untuk penyamaran sebagai warga lokal. OpenAI sendiri menyatakan dalam laporan penutupnya bahwa mereka tidak berada dalam posisi untuk menentukan motivasi pasti di balik pilihan platform tersebut. Yang pasti, peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi para pengembang teknologi di seluruh dunia untuk terus memperkuat sistem deteksi penyalahgunaan agar media sosial kita tidak menjadi medan tempur bagi narasi-narasi palsu yang dikendalikan oleh mesin.

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Fokus pada teknologi dan AI, aktif mengikuti perkembangan inovasi global.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *