Menguak Luka Lama Angel Di Maria di Old Trafford: Antara Kebencian pada Van Gaal dan Cinta untuk Premier League

Fajar Nugroho | InfoNanti
26 Mei 2026, 22:51 WIB
Menguak Luka Lama Angel Di Maria di Old Trafford: Antara Kebencian pada Van Gaal dan Cinta untuk Premier League

InfoNanti — Jagat sepak bola Inggris kembali diramaikan oleh pengakuan jujur dari salah satu talenta terbaik dunia, Angel Di Maria. Pemain berjuluk ‘El Fideo’ tersebut baru-baru ini membuka tabir kegagalannya saat berseragam Manchester United (MU). Dalam sebuah wawancara mendalam yang dirilis pada Selasa (26/5/2026), legenda hidup Argentina ini secara terbuka mengungkapkan bahwa rasa tidak betahnya di Old Trafford bukan semata karena faktor teknis di lapangan, melainkan akibat hubungan yang sangat toksik dengan sang manajer saat itu, Louis van Gaal.

Kepindahan Di Maria ke Manchester United pada musim panas 2014 sebenarnya membawa ekspektasi yang sangat tinggi. Datang sebagai pahlawan kemenangan Real Madrid di final Liga Champions, Di Maria diharapkan menjadi pewaris takhta nomor punggung 7 yang legendaris. Namun, apa yang seharusnya menjadi kisah heroik justru berubah menjadi drama penuh rasa frustrasi. Di Maria mengaku bahwa benih-benih kebencian mulai tumbuh ketika komunikasinya dengan Van Gaal menemui jalan buntu.

Baca Juga

Hujan Kartu Merah di Estadio Azteca: Rekor Baru Tercipta dalam Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Hujan Kartu Merah di Estadio Azteca: Rekor Baru Tercipta dalam Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Awal yang Manis yang Berujung Pahit

Pada bulan-bulan awal, segalanya tampak berjalan sesuai rencana. Di Maria tampil memukau dengan asis-asis brilian dan gol cungkil ikoniknya ke gawang Leicester City. Publik Old Trafford merasa telah menemukan sosok pemain bintang yang selama ini mereka cari. Namun, keharmonisan itu tidak bertahan lama. Di Maria mengungkapkan bahwa perubahan sikap Louis van Gaal yang terlalu kaku mulai mengikis kepercayaan dirinya.

“Awalnya semuanya berjalan sangat baik. Segalanya terasa lancar dan saya menikmati setiap momen di lapangan,” kenang Di Maria dalam wawancara tersebut. Namun, suasana berubah drastis ketika Van Gaal mulai menunjukkan metode kepelatihan yang menurut Di Maria sangat menjatuhkan mental. Sang manajer asal Belanda itu dikabarkan lebih fokus pada kesalahan kecil daripada kontribusi besar yang diberikan sang pemain.

Baca Juga

San Siro Bergetar oleh Cemoohan, Allegri Akui AC Milan Layak Dihujat Usai Takluk dari Udinese

San Siro Bergetar oleh Cemoohan, Allegri Akui AC Milan Layak Dihujat Usai Takluk dari Udinese

Metode Kritik Van Gaal yang Melelahkan Mental

Salah satu poin utama yang disoroti Di Maria adalah ketidakmampuan Van Gaal untuk memberikan apresiasi. Di mata sang pelatih, performa Di Maria selalu dianggap kurang sempurna. Kritik yang diberikan pun terasa tidak konstruktif karena terus-menerus mengulang poin-poin negatif. Hal inilah yang akhirnya membuat hubungan keduanya retak secara permanen di ruang ganti Old Trafford.

“Dia tidak pernah menunjukkan kepada saya apa yang saya lakukan dengan baik. Hanya hal-hal negatif yang dibahas, berulang-ulang, hari demi hari. Akhirnya, saya mencapai titik jenuh dan merasa muak,” ujar Di Maria. Bagi seorang pemain kreatif yang membutuhkan kebebasan berekspresi seperti Di Maria, kekakuan taktik dan kritik tajam Van Gaal bagaikan jeruji besi yang membelenggu kemampuannya.

Baca Juga

Luke Shaw dan Ambisi Piala Dunia 2026: Mengapa Sang Bek Kiri Menjadi Kunci bagi Timnas Inggris?

Luke Shaw dan Ambisi Piala Dunia 2026: Mengapa Sang Bek Kiri Menjadi Kunci bagi Timnas Inggris?

Trauma di Luar Lapangan: Cuaca dan Kriminalitas

Masalah Di Maria tidak berhenti di kompleks latihan Carrington saja. Kehidupan pribadinya di Inggris juga diwarnai dengan berbagai kesulitan yang menguras emosi. Perbedaan budaya dan kondisi iklim di Manchester menjadi tantangan tersendiri bagi keluarganya. Di Maria mengeluhkan betapa cepatnya hari menjadi gelap dan cuaca dingin yang menusuk tulang, yang sangat kontras dengan kehidupan hangat di Madrid atau Lisbon.

Namun, puncak dari segala penderitaannya adalah insiden perampokan di rumahnya. Kejadian traumatis ini terjadi saat ia dan keluarganya sedang berada di dalam rumah. Pengalaman tersebut meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi istri dan anak-anaknya. Menurut Di Maria, ketika masalah di klub bertumpuk dengan masalah keamanan keluarga, keputusannya untuk hengkang sudah tidak bisa ditawar lagi.

Baca Juga

Andoni Iraola Resmi Pamit dari Bournemouth: Akhir Perjalanan Manis di Vitality Stadium

Andoni Iraola Resmi Pamit dari Bournemouth: Akhir Perjalanan Manis di Vitality Stadium

“Di Manchester, semuanya terasa semakin memburuk. Ada kasus perampokan di rumah saya yang membuat keluarga ketakutan. Ketika Anda tidak bermain dengan baik, memiliki masalah dengan pelatih, dan keluarga tidak merasa aman, itu benar-benar memengaruhi Anda. Itulah yang membuat saya membenci berada di sana,” tegas pemain yang kini sudah mengoleksi banyak trofi internasional tersebut.

Mengapa PSG Terasa Berbeda?

Menariknya, Di Maria juga sempat mengalami insiden perampokan saat membela Paris Saint-Germain (PSG). Namun, ia tetap bertahan di Paris selama bertahun-tahun. Hal ini memunculkan pertanyaan: apa bedanya? Di Maria menjelaskan bahwa kenyamanan hidup di Paris jauh lebih baik dibandingkan Manchester. Hubungan yang harmonis dengan manajemen klub dan lingkungan kota yang lebih bersahabat membuatnya merasa betah meski sempat mengalami musibah serupa.

Prioritas utama Di Maria adalah kebahagiaan keluarganya. Ia merasa bahwa di Manchester, ia tidak bisa memberikan ketenangan tersebut. Inilah alasan kuat mengapa ia akhirnya menolak ikut tur pramusim MU pada 2015 dan lebih memilih menetap di Argentina hingga proses transfernya ke PSG selesai. Langkah ini sempat memicu kemarahan fans Setan Merah, namun bagi Di Maria, itu adalah langkah penyelamatan diri.

Tanpa Penyesalan: Cinta untuk Premier League

Meskipun memiliki kenangan buruk dengan Louis van Gaal, Angel Di Maria menegaskan bahwa ia sama sekali tidak menyesal pernah memutuskan untuk bergabung dengan Manchester United. Baginya, bermain di kompetisi seketat Premier League adalah impian setiap pesepak bola profesional. Ia juga tidak menampik bahwa tawaran finansial dari United sangat menggiurkan dan sulit untuk ditolak.

Lebih dari itu, Di Maria memiliki kesan positif terhadap orang-orang di balik layar klub. “Kalau bicara soal atmosfer klub dan orang-orang di dalamnya, jujur saja saya merasa sangat senang. Ada banyak individu hebat yang selalu memperlakukan saya dengan baik dan mendukung saya di masa-masa sulit. Untuk itu, saya sangat bersyukur,” tambahnya dengan nada yang lebih melunak.

Cinta yang ditunjukkan oleh para penggemar di stadion juga menjadi memori indah yang tetap ia simpan. Atmosfer pertandingan di Inggris dianggapnya sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Baginya, pengalaman mengenakan seragam merah United adalah sebuah pencapaian luar biasa dalam kariernya, meski harus diakhiri dengan cara yang tidak ideal.

Warisan yang Terputus di Teater Impian

Kisah Angel Di Maria di Manchester United akan selalu diingat sebagai salah satu contoh transfer besar yang gagal bersinergi dengan filosofi pelatih. Kegagalannya seolah menjadi cermin betapa pentingnya kecocokan gaya bermain antara pelatih dan pemain bintang. Seandainya saat itu United dilatih oleh sosok yang lebih fleksibel, mungkin cerita Di Maria akan berakhir dengan trofi dan status legenda sejati di Old Trafford.

Kini, Di Maria telah menapaki senja kariernya dengan kepala tegak. Ia telah membuktikan kualitasnya di berbagai liga top Eropa dan membawa negaranya meraih kejayaan tertinggi. Pengakuan terbarunya ini menjadi pengingat bagi dunia sepak bola bahwa di balik angka-angka transfer yang fantastis, ada sisi kemanusiaan, mentalitas, dan kenyamanan keluarga yang jauh lebih krusial bagi kesuksesan seorang atlet.

Manchester United sendiri telah melalui banyak perubahan manajerial sejak era Van Gaal. Namun, nama Di Maria tetap akan sering disebut setiap kali publik membicarakan tentang potensi besar yang terbuang akibat benturan ego dan taktik di lapangan hijau. Pada akhirnya, Di Maria telah berdamai dengan masa lalunya, meski rasa ‘benci’ terhadap masa-masa itu tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanannya.

Fajar Nugroho

Fajar Nugroho

Penulis olahraga dengan fokus pada sepak bola internasional dan liga top dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *