Bukan Cuma Samsung S25 Edge, Inilah Deretan Smartphone Tertipis di Dunia yang Pernah Diciptakan
InfoNanti — Dalam beberapa tahun terakhir, parameter kejayaan sebuah smartphone sering kali diukur dari seberapa gahar chipset yang digunakan atau seberapa besar kapasitas baterai yang tertanam di dalamnya. Namun, bagi para penikmat estetika kelas atas, ada satu elemen yang tak lekang oleh waktu dan selalu menjadi simbol kemewahan: ketipisan bodi. Memangkas sasis hingga ke titik ekstrem tanpa melenyapkan jeroan bertenaga adalah sebuah keajaiban rekayasa teknologi yang terus dikejar oleh para raksasa teknologi.
Baru-baru ini, perhatian dunia tertuju pada Samsung Galaxy S25 Edge. Dengan ketebalan hanya 5,8 mm dan bobot ringan 163 gram, ponsel ini seolah mendefinisikan ulang apa itu smartphone premium di tahun 2026. Samsung berhasil menyematkan kamera utama 200 MP dan chipset setara varian Ultra ke dalam bingkai yang begitu ramping. Meski harus merelakan lensa telefoto dan kapasitas baterai ekstra, dukungan One UI 8.5 menjadikannya favorit banyak orang. Namun, benarkah Galaxy S25 Edge adalah yang paling tipis? Ternyata, ada beberapa perangkat lain yang berhasil menembus batas ketipisan lebih jauh lagi.
Revolusi Visual OpenAI: ChatGPT Images 2.0 Hadir, Serta Ambisi Samsung di Balik Snapdragon 8 Elite Gen 6
1. Apple iPhone Air: Ambisi Apple Mengejar Kelangsingan Eksklusif
Lahir pada akhir tahun 2025, iPhone Air menjadi jawaban Apple bagi pengguna yang menginginkan perangkat yang hampir tidak terasa di kantong. Dengan ketebalan yang hanya menyentuh angka 5,6 mm, perangkat ini berhasil mengungguli Galaxy S25 Edge sebanyak 0,2 mm. Secara visual, iPhone Air adalah mahakarya, namun kecantikan ini menuntut pengorbanan yang tidak sedikit.
Apple terpaksa memangkas habis lensa telefoto dan ultra-wide, menyisakan konfigurasi kamera tunggal yang mumpuni namun kurang fleksibel untuk fotografi profesional. Bahkan, fitur video ProRes yang menjadi kebanggaan Apple harus dibatasi, dan perekaman 4K hanya bisa berjalan di 60 fps. Dari sisi daya tahan, baterai 3.149 mAh yang dibawanya sering kali harus berjuang ekstra keras dibandingkan baterai 3.900 mAh milik S25 Edge. Ini membuktikan bahwa dalam dunia teknologi Apple, ketipisan terkadang harus dibayar mahal dengan fungsionalitas.
OpenAI Putus Rantai Eksklusivitas dengan Microsoft: Era Baru Demokratisasi AI di Semua Layanan Cloud
2. Samsung Galaxy Z Fold 7: Sihir Layar Lipat yang Menipu Mata
Jika kita berbicara mengenai inovasi, Samsung sebenarnya memiliki senjata rahasia yang jauh lebih tipis dari lini Edge mereka sendiri, yaitu Samsung Galaxy Z Fold 7. Saat dalam kondisi terlipat, ponsel ini memang terlihat konvensional dengan ketebalan 8,9 mm. Namun, begitu layar utamanya dibentangkan, dunia seolah melihat sebuah keajaiban teknik: bodinya hanya setebal 4,2 mm.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Format ponsel layar lipat memberikan keuntungan bagi para insinyur untuk menyebar komponen internal di area permukaan sasis yang dua kali lebih luas. Hasilnya, meskipun sangat tipis saat dibuka, Galaxy Z Fold 7 tidak berkompromi soal performa. Ia tetap membawa kamera kelas flagship, kapasitas penyimpanan hingga 1 TB, dan baterai 4.400 mAh. Ini adalah bukti bahwa masa depan perangkat tipis mungkin terletak pada fleksibilitas layar.
Review Doogee T30 Pro: Tablet Visual 2.5K dengan Performa Helio G99 yang Tangguh di Kelasnya
3. Samsung Galaxy Z Trifold: Rekor Baru di Kategori Multi-Lipat
Tidak puas dengan satu lipatan, Samsung melangkah lebih jauh dengan menghadirkan Galaxy Z Trifold. Perangkat ini dirancang untuk mereka yang haus akan inovasi tanpa batas. Saat layar trifold ini dibuka sepenuhnya, ketebalannya mencatatkan angka yang nyaris tak masuk akal: hanya 3,9 mm. Sebagai perbandingan, ini hampir setipis beberapa lembar kartu kredit yang ditumpuk.
Namun, kepraktisan tentu menjadi isu lain. Saat dilipat, perangkat ini berubah menjadi tumpukan setebal 12,9 mm yang cukup mengganjal di saku. Dengan harga mencapai USD 2.899, Trifold jelas bukan ditujukan untuk pasar massal. Namun, keberhasilannya menanamkan baterai 5.600 mAh di dalam arsitektur serumit itu adalah tamparan bagi mereka yang mengatakan bahwa gadget tipis tidak bisa memiliki baterai besar.
Fenomena iPhone 17: Rekor Penjualan Terbesar Apple di Tengah Krisis Komponen Global
4. Oppo R5: Sang Pionir yang Mendahului Zamannya
Mundur ke satu dekade silam, tepatnya tahun 2014, industri smartphone pernah mengalami demam “adu tipis” yang sangat sengit. Salah satu jawara tak terbantahkan kala itu adalah Oppo R5. Dengan ketebalan 4,85 mm, ponsel ini sudah lebih tipis dari iPhone Air maupun Galaxy S25 Edge jauh sebelum teknologi modern berkembang seperti sekarang.
Oppo R5 adalah alasan mengapa kita mulai terbiasa kehilangan lubang audio jack 3.5mm. Demi mengejar angka di bawah 5 mm, Oppo harus membuang slot kartu SD dan audio jack, sebuah langkah yang sangat radikal pada masanya. Meski performanya kini sudah tertinggal jauh, Oppo R5 tetap dikenang sebagai perangkat yang berani mendobrak pakem desain konvensional demi sebuah estetika murni.
5. Vivo X5 Max: Sebuah Paradoks Teknologi yang Menakjubkan
Puncak dari segala rekor ketipisan smartphone layar datar dipegang oleh Vivo X5 Max. Dirilis pada tahun 2014, ponsel ini hanya memiliki ketebalan 4,75 mm. Namun, yang membuat Vivo X5 Max begitu legendaris bukanlah sekadar angkanya, melainkan fakta bahwa ia tidak membuang fitur-fitur penting.
Berbeda dengan Oppo R5 atau bahkan smartphone modern saat ini, Vivo X5 Max secara ajaib masih mampu menyertakan lubang audio jack 3.5mm, dua slot kartu SIM, dan slot MicroSD. Ini adalah sebuah paradoks rekayasa yang luar biasa. Jika produsen tahun 2014 bisa memasukkan audio jack ke dalam bodi 4,75 mm, maka klaim perusahaan teknologi modern yang menyebut “tidak ada ruang” untuk fitur tersebut di ponsel yang lebih tebal menjadi sangat patut dipertanyakan.
Mengapa Mengejar Ketipisan Masih Penting?
Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah kita benar-benar butuh ponsel setipis itu? Bagi sebagian besar pengguna, baterai yang bertahan dua hari jauh lebih penting daripada ponsel yang setipis kertas. Namun, bagi industri, mengejar ketipisan adalah tentang menunjukkan kapabilitas riset dan pengembangan. Ini adalah ajang pamer kekuatan antar brand untuk membuktikan siapa yang paling jenius dalam mengelola ruang internal yang sangat terbatas.
Ketipisan juga berpengaruh pada ergonomi dan portabilitas. Di era di mana layar smartphone semakin membesar, menjaga bodi tetap tipis adalah satu-satunya cara agar perangkat tersebut tetap nyaman digenggam dengan satu tangan. Kedepannya, dengan penemuan material baterai baru seperti silikon-karbon, kita mungkin akan melihat smartphone yang tidak hanya tipis, tapi juga memiliki daya tahan baterai yang luar biasa.
Kesimpulan: Masa Depan Desain Smartphone
Melihat daftar di atas, jelas bahwa Samsung Galaxy S25 Edge bukanlah akhir dari evolusi desain. Kita telah melihat bagaimana perangkat lipat seperti Samsung Z Fold dan Trifold memberikan dimensi baru pada konsep ketipisan. Sementara itu, perangkat legendaris dari masa lalu seperti Vivo X5 Max memberikan pelajaran berharga bahwa estetika tidak selalu harus mengorbankan fungsionalitas.
Apakah Anda lebih memilih ponsel yang sedikit tebal dengan baterai raksasa, atau ponsel super tipis yang terasa seperti masa depan di tangan Anda? Satu hal yang pasti, InfoNanti akan terus memantau perkembangan teknologi ini untuk memberikan informasi terbaru bagi Anda para pecinta gadget sejati.