Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia: Membangun Kekuatan Soft Power Menuju WCCE 2026

Siti Rahma | InfoNanti
21 Mei 2026, 18:52 WIB
Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia: Membangun Kekuatan Soft Power Menuju WCCE 2026

InfoNanti — Langkah strategis tengah diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk mempertegas posisinya sebagai pemain utama di panggung industri kreatif dunia. Melalui sinergi lintas kementerian, Indonesia bersiap mengorkestrasi sebuah perhelatan akbar yang tidak hanya sekadar pertemuan seremonial, tetapi menjadi mesin penggerak ekonomi baru melalui jalur diplomasi lunak atau soft power.

Sinergi Strategis: Ekraf dan Kemlu Bersatu

Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf)/Badan Ekonomi Kreatif kini secara resmi mempererat jalinan kolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Langkah ini diambil guna memperluas jejaring kerja sama internasional serta memperkokoh fondasi diplomasi ekonomi kreatif Indonesia di level global. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di Kantor Kemlu, Jakarta, yang mempertemukan Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya dengan Menteri Luar Negeri Sugiono.

Baca Juga

Tragedi Berdarah di Jerman: Seorang WNI Tewas Mengenaskan, Keluarga Ragukan Motif Pertengkaran

Tragedi Berdarah di Jerman: Seorang WNI Tewas Mengenaskan, Keluarga Ragukan Motif Pertengkaran

Dalam audiensi tersebut, Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa sektor ekonomi kreatif bukan lagi sekadar pelengkap pertumbuhan ekonomi, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen vital dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Dengan kekayaan budaya dan inovasi yang melimpah, Indonesia memiliki modal besar untuk berbicara banyak di kancah internasional.

“Ekonomi kreatif telah terbukti menjadi instrumen diplomasi yang sangat efektif. Ini adalah elemen krusial dalam grand strategy diplomasi soft power kita. Oleh karena itu, kemitraan erat dengan Kemlu menjadi fondasi utama untuk memperkuat kepemimpinan Indonesia di ekosistem kreatif global,” ujar Riefky dengan nada optimistis.

Menuju WCCE 2026: Panggung Kreativitas Dunia

Fokus utama dari kolaborasi ini adalah persiapan matang menyambut gelaran The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2026. Forum internasional ini diproyeksikan menjadi katalisator bagi perluasan peluang investasi serta pembuka pintu akses pasar global bagi para pelaku industri kreatif dalam negeri.

Baca Juga

Diplomasi Bermartabat Iran: Pezeshkian Tantang Kebijakan Trump dan Serukan Akhiri Konflik Secara Terhormat

Diplomasi Bermartabat Iran: Pezeshkian Tantang Kebijakan Trump dan Serukan Akhiri Konflik Secara Terhormat

Melalui WCCE 2026, Indonesia ingin membangun narasi kuat sebagai salah satu pusat gravitasi ekonomi kreatif dunia. Riefky menilai bahwa jaringan luas yang dimiliki oleh Kemlu, melalui perwakilan-perwakilan di luar negeri, akan menjadi motor penggerak utama. Dengan dukungan diplomatik yang solid, agenda-agenda kreatif Indonesia diharapkan dapat menyentuh pasar yang lebih luas dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat luas.

Konferensi ini mengusung tema besar yang sangat relevan dengan kondisi zaman, yakni “Inclusively Creative: Collective Continuity”. Tema ini mencerminkan semangat keberlanjutan dan inklusivitas dalam industri kreatif, di mana inovasi harus bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat secara berkelanjutan.

Target Ambisius dan Dukungan Jaringan Global

WCCE 2026 tidak main-main dalam menetapkan target. Pemerintah berencana mempromosikan acara ini melalui seluruh kantor perwakilan Indonesia di mancanegara dengan target partisipasi lebih dari 80 negara. Ini adalah upaya masif untuk menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi pemimpin pemikiran (thought leader) dalam isu-isu ekonomi kreatif global.

Baca Juga

Tragedi Eternal Darkness: 50 Jet Tempur Israel Luluhlantakkan Lebanon dalam 10 Menit di Tengah Rapuhnya Gencatan Senjata

Tragedi Eternal Darkness: 50 Jet Tempur Israel Luluhlantakkan Lebanon dalam 10 Menit di Tengah Rapuhnya Gencatan Senjata

Beberapa agenda utama yang telah dirancang untuk menyukseskan konferensi ini meliputi:

  • Friends of Creative Economy (FCE) Meeting: Pertemuan para pemangku kepentingan untuk merumuskan arah kebijakan kreatif.
  • Ministerial Meeting: Pertemuan tingkat menteri untuk penguatan komitmen antarnegara.
  • Plenary & Creative Session: Diskusi panel dan sesi berbagi ide inovatif.
  • Creativillage: Ruang pameran bagi produk-produk kreatif unggulan.
  • Bilateral Meeting: Pertemuan khusus untuk membahas kerja sama antar-dua negara.

Menteri Luar Negeri Sugiono menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan kesiapan kementeriannya untuk memberikan dukungan penuh. Kemlu berkomitmen untuk mengawal setiap kerja sama internasional yang mampu memberikan kontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Angka yang Berbicara: Kontribusi Ekonomi Kreatif

Dibalik ambisi diplomasi tersebut, terdapat data yang menunjukkan betapa perkasanya sektor ini. Berdasarkan catatan pemerintah, pada tahun 2024 saja, kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional telah mencapai angka fantastis, yakni Rp1.611,15 triliun, atau setara dengan 7,28 persen dari total PDB.

Baca Juga

Manuver Strategis Trump: Mengenal ‘Operasi Sledgehammer’ dan Ambisi Militer AS di Iran

Manuver Strategis Trump: Mengenal ‘Operasi Sledgehammer’ dan Ambisi Militer AS di Iran

Tren positif ini terus berlanjut ke tahun 2025, di mana nilai ekspor dari sektor kreatif tercatat menembus angka 31,94 miliar dolar AS. Tak hanya itu, realisasi investasi di sektor ini mencapai Rp183,01 triliun dengan daya serap tenaga kerja yang sangat signifikan, yakni sekitar 27,4 juta orang. Angka-angka ini menjadi bukti bahwa industri kreatif adalah tulang punggung baru ekonomi Indonesia yang sangat menjanjikan.

Dengan performa yang terus menanjak, pemerintah menetapkan target yang lebih tinggi lagi. Pada tahun 2029, diharapkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional mampu menyentuh angka 8,0 hingga 8,4 persen. Langkah diplomasi melalui WCCE 2026 dipandang sebagai salah satu kunci untuk mencapai target tersebut.

Rekam Jejak Kepemimpinan Indonesia

Kepercayaan diri Indonesia dalam menggelar WCCE 2026 bukanlah tanpa alasan. Indonesia memiliki rekam jejak yang panjang dan solid dalam menginisiasi forum-forum ekonomi kreatif internasional. Sebelumnya, Indonesia telah sukses menyelenggarakan WCCE di Bali pada tahun 2018 dan 2022. Selain itu, Indonesia juga aktif terlibat dalam penyelenggaraan di Dubai pada 2021 serta di Tashkent pada 2024.

Diplomasi kreatif Indonesia juga merambah hingga ke meja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kedua kementerian telah berhasil mengawal pengajuan resolusi PBB terkait ekonomi kreatif pada tahun 2019 dan 2023. Kerja sama dengan organisasi internasional seperti WIPO, OACPS, dan UN DESA juga terus diperkuat untuk memastikan standar dan perlindungan hak kekayaan intelektual pelaku kreatif Indonesia diakui secara global.

Di tingkat bilateral, Indonesia telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai negara maju dan berkembang. Sebut saja Australia, Belanda, Denmark, Prancis, Inggris, hingga sesama negara Asia Tenggara seperti Filipina dan Thailand. Kemitraan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pertukaran talenta, pengembangan teknologi, hingga pembukaan akses pasar global yang lebih luas bagi para pelaku UMKM kreatif.

Menatap Masa Depan Kreatif

Upaya memperkuat diplomasi ekonomi kreatif ini adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Dengan mengintegrasikan kekuatan diplomasi formal dan daya pikat industri kreatif, Indonesia sedang membangun citra sebagai negara yang modern, inovatif, namun tetap berpijak pada akar budaya yang kuat. WCCE 2026 akan menjadi panggung di mana dunia melihat bagaimana kreativitas bisa menjadi solusi bagi tantangan ekonomi global masa depan.

Sinergi antara Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Luar Negeri diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang kondusif bagi para kreator lokal untuk go international. Keberhasilan agenda ini bukan hanya kemenangan bagi pemerintah, tetapi juga peluang besar bagi puluhan juta tenaga kerja di sektor kreatif untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik melalui panggung dunia.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *