Mencetak Pelaut Kelas Dunia: Langkah Strategis Pertamina Trans Kontinental dalam Transformasi Talenta Maritim Indonesia

Rizky Pratama | InfoNanti
01 Mei 2026, 00:53 WIB
Mencetak Pelaut Kelas Dunia: Langkah Strategis Pertamina Trans Kontinental dalam Transformasi Talenta Maritim Indonesia

InfoNanti — Di tengah gelombang transformasi industri global yang kian dinamis, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia terus berupaya memperkuat fondasi sumber daya manusia di sektor kelautan. Memahami urgensi tersebut, PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) mengambil langkah nyata dengan meluncurkan inisiatif strategis bertajuk PTK Goes to Campus (PGTC). Program ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah misi untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan vokasi dengan realitas industri maritim yang semakin kompleks.

Pada akhir April 2026, tepatnya Selasa dan Rabu (28-29 April), Makassar menjadi saksi bisu bagaimana semangat kolaborasi antara korporasi dan institusi pendidikan berkobar. PTK memilih dua pilar utama pendidikan pelayaran di Indonesia Timur, yakni Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar dan Politeknik Pelayaran Barombong, sebagai panggung utama diseminasi ilmu dan teknologi. Melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) ini, PTK menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi pemain utama dalam logistik energi, tetapi juga menjadi inkubator bagi talenta maritim masa depan.

Baca Juga

Kemenhub Tindak Tegas Kapal Tanker MT Hasil: Kasus Pelayaran Ilegal Masuk Babak Baru Penyerahan Barang Bukti

Kemenhub Tindak Tegas Kapal Tanker MT Hasil: Kasus Pelayaran Ilegal Masuk Babak Baru Penyerahan Barang Bukti

Visi Global di Balik Program PTK Goes to Campus

Kehadiran jajaran petinggi PTK di Makassar bukan tanpa alasan. Komisaris Utama PT Pertamina Trans Kontinental, Subagjo H Moeljanto, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian integral dari pengawasan dewan komisaris terhadap program TJSL perusahaan. Menurutnya, industri maritim saat ini menuntut standar yang jauh lebih tinggi daripada satu dekade lalu. Persaingan tidak lagi terbatas pada level domestik, melainkan sudah merambah ke kancah internasional.

“Kami ingin memastikan bahwa pelaut Indonesia memiliki daya saing yang sejajar, bahkan melampaui pelaut dari negara-negara maritim besar lainnya. PGTC dirancang untuk memberikan wawasan langsung mengenai standar operasional global yang diterapkan di Pertamina Trans Kontinental,” ujar Subagjo dalam keterangannya. Fokus utama dari program ini adalah membekali para taruna dengan mentalitas profesional dan pemahaman mendalam tentang keselamatan pelayaran yang menjadi harga mati di sektor energi.

Baca Juga

Mengenal CNG: Solusi Energi Alternatif Pengganti LPG yang Lebih Hemat hingga 40 Persen

Mengenal CNG: Solusi Energi Alternatif Pengganti LPG yang Lebih Hemat hingga 40 Persen

Mengupas Tuntas Aspek HSSE dan Realitas Industri Maritim

Di hadapan sekitar 800 taruna dan taruni yang memenuhi aula PIP Makassar pada Selasa (28/4), atmosfer antusiasme sangat terasa. Dua pakar maritim dari PTK, Captain Costantinus Fatlolon dan Captain Sofyani Faisol, hadir membagikan pengalaman lapangan yang tak didapatkan di buku teks. Fokus materi mereka adalah mengenai Health, Safety, Security, and Environment (HSSE)—sebuah pilar utama yang menentukan keberhasilan operasi di laut lepas.

Aspek HSSE dalam dunia perkapalan modern bukan sekadar aturan formalitas, melainkan budaya kerja yang harus mendarah daging. Dalam sesi tersebut, para pakar menjelaskan bagaimana mitigasi risiko dilakukan dalam setiap jengkal operasional kapal tanker dan pendukung lepas pantai. Mengingat PTK bergerak di sektor energi yang memiliki risiko tinggi, pemahaman akan perlindungan lingkungan laut juga menjadi poin krusial yang ditekankan kepada para calon perwira kapal tersebut.

Baca Juga

Wajah Baru Pendidikan di SDN 104 Langensari: Rayakan Hardiknas 2026 Bersama BRI Peduli Melalui Program Ini Sekolahku

Wajah Baru Pendidikan di SDN 104 Langensari: Rayakan Hardiknas 2026 Bersama BRI Peduli Melalui Program Ini Sekolahku

Selain HSSE, para taruna juga diajak melihat gambaran besar industri maritim dunia. Perubahan rute logistik global, fluktuasi ekonomi, hingga kebijakan lingkungan internasional seperti aturan emisi dari IMO (International Maritime Organization) menjadi topik diskusi yang membuka cakrawala berpikir peserta. Tujuannya jelas: agar para taruna tidak hanya mahir secara teknis dalam mengemudikan kapal, tetapi juga cerdas secara strategis dalam melihat peluang karier di masa depan.

Digitalisasi: Tantangan dan Peluang bagi Pelaut Modern

Hari kedua pelaksanaan PGTC berlanjut di Politeknik Pelayaran Barombong pada Rabu (29/4). Di sini, sorotan utama tertuju pada fenomena digitalisasi yang tengah merombak wajah industri pelayaran. Komisaris PTK, Hartanto, dalam pemaparannya menekankan bahwa pelaut masa kini tidak boleh gagap teknologi. Teknologi digital telah merambah ke berbagai aspek, mulai dari navigasi otonom hingga sistem monitoring mesin kapal berbasis Internet of Things (IoT).

Baca Juga

Sejarah Panjang May Day: Mengenang Darah dan Air Mata Perjuangan Kelas Pekerja Dunia

Sejarah Panjang May Day: Mengenang Darah dan Air Mata Perjuangan Kelas Pekerja Dunia

“Era digitalisasi bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dikuasai. Standar pengetahuan pelaut harus terus ditingkatkan mengikuti perkembangan zaman. Mereka yang mampu mengintegrasikan keahlian nautika dengan kemampuan analitik data digital akan menjadi individu yang paling dicari di industri,” jelas Hartanto. Pesan ini menjadi pengingat keras bagi institusi pendidikan untuk terus memperbarui kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan logistik maritim modern yang serba terhubung.

Pojok LiteraSea: Warisan Pengetahuan Digital untuk Makassar

Sebagai bentuk dukungan konkret yang berkelanjutan, PTK tidak hanya meninggalkan ilmu lewat lisan, tetapi juga melalui infrastruktur. Salah satu momen bersejarah dalam rangkaian kegiatan ini adalah peresmian “Pojok LiteraSea” di PIP Makassar. Fasilitas ini merupakan sarana pembelajaran digital yang dirancang khusus untuk memperkaya literasi para taruna terkait dunia kemaritiman dan teknologi terkini.

Peresmian dilakukan secara simbolis oleh Direktur Operasional PTK, Yudi Wibisono, bersama Direktur PIP Makassar, Capt Rudi Susanto. Kehadiran Pojok LiteraSea diharapkan menjadi oase ilmu pengetahuan di tengah padatnya jadwal pendidikan semi-militer para taruna. Dengan akses ke literatur digital dan riset terbaru, para calon pelaut diharapkan memiliki budaya literasi yang kuat, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas intelektual mereka.

Yudi Wibisono dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa investasi terbaik perusahaan adalah investasi pada manusia. “Pojok LiteraSea adalah simbol bahwa PTK ingin tumbuh bersama dengan dunia pendidikan. Kami berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mencetak riset-riset inovatif di bidang operasional kapal,” tambahnya. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan kunjungan kerja jajaran komisaris untuk meninjau langsung efektivitas operasional bisnis PTK di wilayah Makassar dan sekitarnya.

Membangun Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045

Inisiatif PTK Goes to Campus ini sejatinya merupakan manifestasi dari dukungan terhadap visi besar pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Dengan memberikan pembekalan yang komprehensif, PTK ikut membantu pemerintah dalam mengurangi tingkat pengangguran terdidik dan meningkatkan kualitas tenaga kerja ahli di sektor perhubungan laut.

Dukungan terhadap vokasi pelayaran menjadi sangat penting karena lulusan dari politeknik pelayaran adalah ujung tombak yang akan mengoperasikan armada-armada besar yang mendistribusikan energi ke seluruh pelosok negeri. Sinergi antara PTK sebagai representasi industri dan lembaga pendidikan sebagai produsen talenta menciptakan ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Melalui narasi yang dibangun dalam program PGTC, PTK berhasil memposisikan dirinya bukan hanya sebagai perusahaan penyedia jasa kapal, tetapi juga sebagai edukator dan penggerak perubahan sosial. Ke depan, diharapkan program serupa dapat menjangkau lebih banyak perguruan tinggi di seluruh Indonesia, sehingga distribusi pengetahuan dan standar industri dapat merata dari Sabang sampai Merauke.

Kesimpulannya, perjalanan PTK di Makassar pekan ini telah menanamkan benih optimisme yang tinggi. Di tangan para taruna yang kini lebih paham akan pentingnya HSSE, digitalisasi, dan literasi, masa depan maritim Indonesia tampak jauh lebih cerah. Pelaut Indonesia kini tidak hanya siap melaut, tetapi siap untuk memimpin di lautan dunia dengan kompetensi yang tak tergoyahkan.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Penulis bisnis & startup dengan pengalaman di dunia digital marketing dan venture.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *