Netanyahu di Ujung Tanduk: Antara Ambisi Perang yang Belum Tuntas dan Ketidakpuasan Publik Israel

Siti Rahma | InfoNanti
28 Apr 2026, 08:53 WIB
Netanyahu di Ujung Tanduk: Antara Ambisi Perang yang Belum Tuntas dan Ketidakpuasan Publik Israel

InfoNanti — Dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial yang menempatkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam posisi paling sulit sepanjang karier politiknya. Harapan besar yang sempat diapungkan mengenai keruntuhan rezim Iran dan penghancuran total kelompok proksinya kini tampak seperti fatamorgana yang kian menjauh. Di tengah tekanan militer yang belum kunjung memberikan hasil konklusif, Netanyahu kini harus berhadapan dengan badai domestik berupa ketidakpuasan publik yang terus meningkat menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada akhir tahun ini.

Ambisi yang Terbentur Realitas: Kegagalan Melumpuhkan Teheran

Sejak akhir Februari, narasi yang dibangun oleh pemerintahan Netanyahu dan sekutu utamanya, Amerika Serikat, adalah pelemahan fundamental terhadap kekuatan militer Republik Islam Iran. Fokus utama dari operasi ini mencakup penghancuran program nuklir, rudal balistik, hingga menciptakan kondisi yang memicu tumbangnya rezim di Teheran. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa meskipun infrastruktur militer Iran mengalami kerusakan signifikan, kendali strategis mereka atas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz tetap tak tergoyahkan.

Baca Juga

Drama Penyelamatan Pico: Kuda yang Kabur di Tengah Badai Milwaukee Berhasil ‘Dirayu’ dengan Sebatang Wortel

Drama Penyelamatan Pico: Kuda yang Kabur di Tengah Badai Milwaukee Berhasil ‘Dirayu’ dengan Sebatang Wortel

Kegagalan mencapai tujuan strategis ini memberikan celah bagi kritik tajam dari berbagai pihak. Para pengamat intelijen mencatat bahwa Iran memiliki ketahanan sistemik yang lebih kuat dari yang diperkirakan sebelumnya. Upaya untuk memutus rantai komando dan logistik proksi Iran di kawasan juga tidak berjalan semulus rencana di atas kertas. Situasi ini memicu perdebatan di Yerusalem mengenai efektivitas strategi militer yang selama ini diagung-agungkan oleh kabinet Netanyahu dalam menghadapi ancaman eksistensial dari arah utara dan timur.

Dilema Hubungan dengan Washington: Faktor Donald Trump

Salah satu elemen yang paling mengejutkan dalam perkembangan terbaru ini adalah pergeseran dinamika antara Netanyahu dan Presiden AS, Donald Trump. Meskipun secara publik keduanya sering menunjukkan kemesraan diplomatik, di balik layar, kepentingan strategis Trump mulai menunjukkan divergensi dengan kebijakan garis keras Israel. Trump dilaporkan mulai menekan Netanyahu untuk segera merampungkan operasi militer di Gaza dan Lebanon guna menjaga stabilitas regional yang lebih luas.

Baca Juga

Aksi ‘Pembobolan’ Toko Roti oleh Beruang Hitam di Tennessee: Antara Kelaparan dan Insting Satwa Liar

Aksi ‘Pembobolan’ Toko Roti oleh Beruang Hitam di Tennessee: Antara Kelaparan dan Insting Satwa Liar

Ketidakhadiran Trump dalam seremoni penerimaan Israel Prize pada April lalu, meskipun Netanyahu telah mengumumkan pemberian penghargaan tertinggi tersebut, menjadi simbol keretakan yang sulit disembunyikan. Padahal, Netanyahu berharap kehadiran Trump dapat memberikan dorongan moral dan politik yang signifikan di mata pemilih Israel. Sekarang, masyarakat mulai mempertanyakan apakah hubungan aliansi strategis ini masih sekuat dulu atau justru telah berubah menjadi beban politik bagi kedua belah pihak.

Gencatan Senjata yang Prematur di Lebanon

Perang melawan Hizbullah di Lebanon juga menyisakan luka dan tanda tanya besar. Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa gencatan senjata diambil atas dorongan Trump, meskipun militer Israel mengklaim operasi tersebut belum benar-benar tuntas. Saat ini, pasukan Israel masih menguasai zona penyangga sekitar 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan, namun kehadiran fisik ini tidak cukup untuk meredam kekhawatiran warga di perbatasan utara.

Baca Juga

Blak-blakan Donald Trump: Hanya Olahraga ‘Satu Menit’ di Tengah Peluncuran Program Kebugaran Nasional

Blak-blakan Donald Trump: Hanya Olahraga ‘Satu Menit’ di Tengah Peluncuran Program Kebugaran Nasional

Banyak pihak menilai bahwa penghentian serangan ini terlalu dini. Hizbullah, meski terpukul, diyakini masih memiliki kemampuan untuk melakukan konsolidasi ulang. Keputusan untuk melakukan gencatan senjata ini dianggap oleh sebagian warga Israel sebagai langkah mundur yang hanya menunda konflik yang lebih besar di masa depan, alih-alih menyelesaikannya secara permanen.

Suara dari Perbatasan: Kemarahan di Kiryat Shmona

Di wilayah Israel Utara, atmosfir kekecewaan sangat terasa. Warga yang telah menghabiskan waktu berbulan-bulan di bawah bayang-bayang serangan rudal merasa dikhianati oleh kebijakan pemerintah. Asaf Oakil, seorang warga Kiryat Shmona, mengungkapkan bahwa gencatan senjata adalah sebuah kesalahan fatal yang mengabaikan keamanan warga sipil di garis depan.

Baca Juga

Gencatan Senjata AS-Iran: Pakistan Jadi Tuan Rumah Perundingan Bersejarah di Tengah Krisis Selat Hormuz

Gencatan Senjata AS-Iran: Pakistan Jadi Tuan Rumah Perundingan Bersejarah di Tengah Krisis Selat Hormuz

Sentimen serupa menggema di berbagai sudut kota perbatasan. Protes mulai bermunculan, menuntut tanggung jawab pemerintah atas ketidakpastian nasib mereka. Toko-toko yang masih tutup dan jalanan yang sepi menjadi saksi bisu betapa stabilitas nasional yang dijanjikan pemerintah belum benar-benar terwujud bagi masyarakat yang tinggal di zona merah.

Ancaman Hamas yang Tak Kunjung Padam di Gaza

Sementara itu, di front selatan, perang melawan Hamas telah melampaui angka 900 hari sejak serangan 7 Oktober 2023. Meskipun Israel telah meluncurkan operasi militer besar-besaran, Hamas terbukti menjadi lawan yang sangat ulet. Kelompok ini memang melemah, tetapi struktur organisasi dan pengaruhnya di Gaza masih jauh dari kata hancur total. Kondisi ini memperkuat persepsi publik bahwa kemenangan absolut yang dijanjikan Netanyahu hanyalah sekadar retorika kampanye.

Analis militer terkemuka, Yoav Limor, mencatat bahwa kegagalan meraih kemenangan yang menentukan di semua front perang adalah tanda bahwa strategi militer Israel perlu dievaluasi total. Ia menyoroti ketergantungan yang terlalu besar pada keputusan yang diambil di Washington, ketimbang keberanian mengambil langkah mandiri di Yerusalem. Hal ini melukai harga diri nasional sebagian warga Israel yang mendambakan kedaulatan penuh dalam menentukan masa depan politik dan keamanan mereka.

Jajak Pendapat: Alarm Bahaya bagi Karier Netanyahu

Data terbaru dari Israel Democracy Institute menunjukkan penurunan tajam dalam tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu. Jika di awal konflik Iran ada 64 persen responden yang mendukung langkahnya, angka tersebut merosot tajam pasca gencatan senjata pada 8 April. Mayoritas warga kini memberikan penilaian negatif terhadap kinerja keseluruhan pemerintah dalam menangani krisis.

Ketidakpuasan ini bukan hanya soal strategi perang, melainkan juga dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh konflik yang berkepanjangan. Masyarakat merasa lelah dengan perang yang seolah tidak memiliki titik akhir yang jelas, sementara biaya hidup dan stabilitas internal terus tergerus. Kondisi ini menjadi ladang subur bagi tokoh-posisi untuk menawarkan alternatif kepemimpinan baru.

Bangkitnya Oposisi dan Masa Depan Pemilu

Melihat celah dalam pemerintahan saat ini, tokoh-tokoh oposisi seperti Naftali Bennett dan Yair Lapid telah secara resmi menyatakan kesiapan mereka untuk bergabung dalam kontestasi pemilu mendatang. Bergabungnya mantan kepala militer Gadi Eisenkot ke dalam barisan oposisi semakin memperkuat ancaman bagi posisi Netanyahu. Mereka menawarkan narasi pemulihan keamanan nasional yang lebih terukur dan hubungan internasional yang lebih stabil.

Pertarungan politik menjelang Oktober mendatang diprediksi akan menjadi salah satu yang paling sengit dalam sejarah Israel. Netanyahu harus bekerja ekstra keras untuk meyakinkan konstituennya bahwa rangkaian perang yang ia pimpin telah menghasilkan jaminan keamanan jangka panjang, bukan sekadar ketenangan sesaat yang rapuh. Jika gagal membangun narasi yang meyakinkan, jabatan perdana menteri terlama dalam sejarah Israel tersebut mungkin akan segera berakhir.

Kesimpulan: Tantangan yang Tak Terelakkan

Secara keseluruhan, posisi Benjamin Netanyahu saat ini diibaratkan sedang berada di tengah pusaran badai yang datang dari segala arah. Dari luar, ia menghadapi ketidakpastian hasil militer terhadap musuh-musuh regional dan pergeseran sikap sekutu utama. Dari dalam, ia berhadapan dengan rakyat yang mulai kehilangan kesabaran dan lawan politik yang kian solid. Bagaimana Netanyahu menavigasi bulan-bulan terakhir masa jabatannya akan sangat menentukan bukan saja masa depan politik pribadinya, tetapi juga arah strategis Israel di tengah gejolak Timur Tengah yang tak kunjung usai.

Dapatkan informasi terbaru mengenai politik Israel dan perkembangan global lainnya hanya di platform kami yang selalu menghadirkan analisis mendalam dan terpercaya.

Siti Rahma

Siti Rahma

Jurnalis berita global dengan ketertarikan pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *